crossorigin="anonymous">

Cuaca Tidak Menentu Berdampak Pada Hasil Panen Padi di Desa Nglawisan, Magelang

Kalijaga.co – Pada tahun 2025 cuaca ekstrim membuat beberapa petani di Desa Nglawisan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, merasakan kerugian akibat curah hujan tinggi dan panas berkelanjutan yang tidak menentu sehingga mengakibatkan kualitas padi menurun.

Hal ini dialami oleh Karminah (58) yang merupakan seorang petani di desa tersebut. Karimah menyatakan bahwa ia mengalami kerugian dengan rusaknya tanaman karena cuaca ekstrem yang terjadi.

“Tanaman pada rusak, mati, kalo ambruk sulit diselamatkan,  kadang panas kadang juga tiba-tiba hujan dan kami susah menjemur padi,” ujar Karminah pada Minggu (16/11/2025).

Genangan air yang berlebih membuat padi jadi layu dan kurang matang. Hujan yang terus menerus menjadi tantangan bagi para petani karena mengalami kesulitan menjemur gabah yang sudah dipanen.

Namun berbeda pendapat dengan petani lain yang bernama Muhjiono (65). Beliau tidak merasa dirugikan terhadap cuaca, ia berpendapat dengan cuaca panas maupun hujan tetap harus menanam padi agar mendapatkan penghasilan dan bisa menghidupi keluarganya.

“Cuaca tidak menentu itu tidak apa-apa bukan masalah besar, biasa saja, dan harus menanam untuk sendiri dan keluarga,” ungkap Muhjiono.

Selain faktor cuaca beberapa hama seperti wereng dan keong cukup menjadi tantangan karena populasinya yang meningkat pada saat hujan, maka dari itu sebelum menanam padi beberapa petani melakukan penyemprotan cairan supaya ketika menanam padi populasi hama berkurang signifikan, hal tersebut dilakukan oleh salah seorang petani yang bernama  Wahyu (67).

“Kalo hujan kan keongnya atau wereng jadi banyak jadi kita harus semprot dulu supaya pas padi di tanam hama sudah sedikit,” ujar Wahyu. 

Perubahan harga beras di pasar juga dipengaruhi oleh curah hujan, di mana “Kalo hujan harga jadi naik sampai 17,5 ribu  per kilogram, kalo pas  kemarau, harganya jatuh menjadi Rp15 ribu per kilogram,” ungkap Karminah.

Pola harga ini dapat diprediksi oleh para petani dan konsumen yang telah memahami hubungan antara siklus harga dan kondisi cuaca tertentu. 

Bagi petani dan buruh, situasi ini merugikan karena pendapatan yang diperoleh tidak banyak dan tidak stabil saat harga berfluktuasi. Adapun hasil padi yang didapat tidak sesuai harapan, hal ini turut dirasakan oleh para konsumen. Para konsumen menyadari adanya penurunan kualitas padi.

Sebagai penjual sekaligus konsumen Suprapto (63) merasa gelisah dan juga merasakan kerugiannya terhadap cuaca yang akan berdampak pada kualitas padi. Dengan menurunnya kualitas padi, pendapatan Suprapto ikut menurun.

Dalam hal ini beliau mengharapkan adanya peran pemerintah dalam mengatur harga beras agar tetap stabil.

 “Semoga pemerintah membantu petani untuk sejahtera dan mengatur harga beras di pasar supaya stabil,” ujarnya.

Tidak hanya petani padi yang mengalami kerugian, tetapi sektor peternakan dan petani sayuran juga mengalami kerugian akibat kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Mereka mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan tahun ini jika dibandingkan dengan tahun sebelumya. Pada tahun sebelumnya para petani masih mampu memprediksi cuaca dan melakukan penanaman pada bulan yang ditentukan. 

“Beda dengan sekarang. Kalau dulu kami masih bisa prediksi cuacanya dan penanaman juga terjadwal biasanya menanam mulai bulan Mei,” kata Wahyu.

Namun, beberapa petani tetap melanjutkan penanaman meskipun menghadapi cuaca yang tidak dapat diprediksi. Pada perawatannya perlu melakukan pengecekan berkelanjutan untuk mengatur dan mencegah terjadinya kelebihan air pada petak sawah yang ia garap.

“Semua pertanian peternakan rugi, becek dan harus dibersihkan diganti tanah, harus dikasih mesin juga tapi biayanya lebih mahal,” ujar Karminah lagi.

Mujiono, Karminah, dan para petani lainnya mengharapkan kepada pemerintah supaya para petani tidak hanya menurunkan harga pupuknya, melainkan membantu menyediakan alat pertanian seperti traktor.

“Kalau harga sudah diturunkan. Tapi kalau bisa pemerintah membantu pengadaan traktor dan alat lainnya,” pungkas Mujiono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *