kalijaga.co — Dinas Kebudayaan DIY menyelenggarakan Pameran Lukis DIY-Kyoto di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM). Pameran berlangsung pada tanggal 14-20 Oktober 2026. Beragam lukisan karya peserta didik dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas dipamerkan dalam acara ini. Pameran Lukis DIY-Kyoto menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengapresiasi karya seni rupa secara langsung.
Rio selaku panitia Pameran Lukis DIY–Kyoto menjelaskan bahwa karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil seleksi lomba melukis yang diselenggarakan secara bertahap. Peserta berasal dari sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi Bantul, Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Wonosari.
“Jadi, untuk targetnya tentunya anak-anak sekolah yang belum mengikuti perlombaahn maupun yang sudah. Lukisan yang terpilih dipamerkan di sini berdasarkan nominasi, karya terbaik, dan pemenang,” jelasnya.
Rio menambahkan bahwa pengunjung pameran berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga rombongan pelajar dan mahasiswa. Menurutnya, para pengunjung memberikan beragam tanggapan terhadap perbedaan karya yang ditampilkan. Perbandingan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang memungkinkan pengunjung mengenali karakter karya seni dari latar belakang yang berbeda.
Dalam upaya menarik minat masyarakat, Rio mengatakan panitia berfokus pada pemilihan lokasi yang ramai dan mudah dijangkau pengunjung. Ia menilai aspek teknis penyelenggaraan, termasuk penentuan tempat pameran, menjadi salah satu hal yang diperhatikan untuk membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat dalam melihat karya seni.
Tiga mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Fatma, Sheril, dan Dita, mengaku pameran ini memiliki daya tariknya tersendiri, mereka yang awalnya datang secara spontan ketika sedang berjalan-jalan menjadi mampir untuk melihat.
“Sebenarnya kita lagi jalan-jalan, terus melihat ada pameran di sini, dan terus kita masuk. Karyanya lumayan bagus-bagus sih, dari TK, SD, SMP, sama SMA,” ujar Fatma, salah satu mahasiswi tersebut.
Di antara karya yang dipamerkan, ia tertarik pada lukisan karya siswa SMK asal Jepang serta lukisan yang dibuat menggunakan spidol karena memberikan kesan ceria. Menurutnya, melihat karya-karya tersebut secara langsung juga memberikan inspirasi untuk berkarya.
“Lukisannya banyak menginspirasi untuk berkarya. Lihat anak SD aja bisa berkarya, kita kenapa tidak,” tuturnya.
Pengalaman serupa disampaikan Menik Hayati, warga Godean, Yogyakarta. Ia mengunjungi pameran pada hari terakhir setelah sebelumnya datang ke lokasi untuk mengantarkan konsumsi bagi panitia. Menurutnya, melihat lukisan secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan melihatnya melalui media sosial.
“Kalau secara langsung itu perasaan mulai terpancing,” ujarnya.
Menik menilai karya-karya yang dipamerkan dapat memperlihatkan perbedaan kemampuan dan karakter seni peserta didik berdasarkan jenjang usia dan pendidikan. Ia juga menganggap pameran sebagai kesempatan untuk mengamati hasil karya secara langsung, sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya.
Ia berharap pameran seni seperti ini dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dengan melibatkan dinas kebudayaan. Menurutnya, kegiatan tersebut relevan dengan Yogyakarta yang dikenal memiliki kehidupan seni dan budaya yang kuat.
Penulis: Nimas Ruci | Editor: Dhiya Husna Abida
- Pameran Lukis DIY-Kyoto Beri Pengalaman Langsung bagi Pengunjung untuk Mengapresiasi Seni Rupa - 28 Oktober 2026
- Diam, Puisi, Teater: Aksi Kamisan di Tugu Yogyakarta - 25 Oktober 2026
- Air Masjid Kampus Kerap Mati, Mahasiswa dan Petugas Taman Terdampak - 21 Oktober 2026