Kalijaga.co – Liburan sering kali identik dengan pulang kampung, destinasi indah, serta pengalaman baru yang menyenangkan. Terlebih lagi saat liburan hari raya, suasana kebersamaan dengan keluarga menjadi momen yang paling dinantikan. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk pulang ke rumah. Ada yang tetap tinggal di kos, menetap di pondok, atau menghabiskan waktu di rumah saudara. Di tengah kondisi tersebut, liburan juga bisa menjadi momen untuk melakukan perjalanan yang lebih syahdu ke dalam diri sendiri.
Salah satu cara sederhana untuk menikmati liburan yang lebih reflektif adalah melalui membaca. Novel Rumah karya J.S. Khairen yang sedang naik daun saat ini cocok sebagai pilihan bacaan untuk menemani waktu santai sekaligus mengajak pembaca merenungkan makna “pulang” yang sesungguhnya. Novel ini bukan sekadar hiburan yang tidak ada pembelajarannya, tetapi juga ruang untuk memahami emosi, luka, dan proses penerimaan dalam kehidupan.
Novel Rumah berkisah tentang Ria, seorang perempuan berusia 27 tahun yang bekerja sebagai luxury travel planner. Pekerjaannya membuat ia terbiasa merancang perjalanan mewah ke berbagai penjuru dunia, mulai dari kota-kota metropolitan hingga destinasi tersembunyi yang jarang dijamah. Dari luar, hidup Ria tampak glamor, penuh kebebasan, dan jauh dari kekurangan. Ia memiliki karir yang mapan dan kesempatan untuk menjelajahi dunia. Namun, di balik semua itu, Ria menyimpan kekosongan yang tidak pernah benar-benar ia ungkapkan. Ia tidak memiliki tempat yang bisa ia sebut sebagai “rumah” dalam arti yang sesungguhnya. Bagi Ria, rumah bukanlah ruang yang hangat dan penuh kenyamanan, melainkan tempat yang menyimpan luka, kemarahan, dan kenangan pahit.
Masa kecilnya dipenuhi pengalaman yang menyakitkan. Ia kerap menerima cercaan dari ibunya dan mengalami kekerasan dari ayahnya. Ketidak adilan dalam pengasuhan anak laki-laki dan Perempuan. Situasi semakin memburuk ketika ia dipaksa masuk pesantren, sesuatu yang tidak ia inginkan. Baginya masuk pesantren merupakan bentuk ketidaktanggungjawaban orang tua kepada anak sehingga ia merasa dibuang. Luka itu semakin dalam saat ia mengetahui bahwa ayahnya memiliki keluarga lain. Sejak saat itu, konsep “rumah” dalam hidup Ria berubah menjadi simbol kebencian dan trauma, bukan tempat untuk kembali.Melalui perjalanan hidup Ria, novel ini tidak hanya menghadirkan kisah perjalanan fisik ke berbagai tempat, tetapi juga perjalanan batin yang penuh emosi. Pembaca diajak menyelami proses seseorang dalam menghadapi masa lalu, menerima luka, dan perlahan belajar memaafkan. Rumah menjadi cerita tentang pencarian makna, tentang bagaimana seseorang mencoba menemukan tempat di mana ia bisa merasa utuh.
Salah satu daya tarik utama novel ini terletak pada temanya yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang, yaitu pencarian arti rumah. Tidak sedikit orang yang secara fisik memiliki tempat tinggal, tetapi secara emosional merasa kehilangan “rumah”. J.S. Khairen berhasil mengangkat tema ini dengan pendekatan yang sederhana namun menyentuh. Karakter Ria digambarkan sebagai sosok yang manusiawi. Ia bukan tokoh yang sempurna, melainkan seseorang dengan luka, ego, dan ketakutan. Justru karena ketidaksempurnaannya itulah, pembaca dapat dengan mudah merasa terhubung. Banyak yang mungkin menemukan bagian dari diri mereka dalam perjalanan Ria entah itu dalam bentuk trauma, kebingungan, atau keinginan untuk berdamai dengan masa lalu.
Dari segi alur, cerita dalam novel ini berjalan dengan tempo yang tenang. Tidak banyak konflik besar atau kejutan dramatis yang biasanya ditemukan dalam novel populer. Namun, kekuatan Rumah justru terletak pada kejujuran emosinya. Alur yang perlahan memberi ruang bagi pembaca untuk benar-benar merasakan setiap proses yang dialami tokohnya.
Nuansa reflektif yang dihadirkan terasa kuat, seolah mengajak pembaca berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Novel ini mengundang kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah benar-benar memiliki tempat untuk pulang? Pertanyaan sederhana, tetapi sering kali sulit dijawab.Meski demikian, tempo cerita yang cenderung lambat mungkin tidak cocok untuk semua pembaca. Bagi sebagian orang yang menyukai cerita penuh aksi atau konflik dramatis, novel ini bisa terasa kurang menegangkan. Namun bagi mereka yang mencari bacaan yang lebih emosional dan kontemplatif, Rumah justru menawarkan pengalaman yang mendalam.
Gaya bahasa yang digunakan J.S. Khairen juga menjadi nilai tambah. Penulis menyajikan cerita dengan bahasa yang sederhana, puitis, dan mengalir. Hal ini membuat novel terasa ringan untuk dibaca, tetapi tetap mampu menyampaikan makna yang dalam. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti cerita, tetapi juga merasakan setiap emosi yang disampaikan.
Rumah sangat cocok dibaca oleh remaja akhir hingga dewasa muda, terutama mereka yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri atau menghadapi konflik keluarga. Buku ini bisa menjadi teman yang tepat bagi siapa saja yang pernah merasa tersesat, kehilangan arah, atau tidak memiliki tempat untuk kembali.Pada akhirnya, novel ini mengajarkan bahwa “rumah” tidak selalu berarti sebuah bangunan fisik. Rumah bisa hadir dalam bentuk penerimaan, dalam proses memahami diri sendiri, dan dalam keberanian untuk berdamai dengan masa lalu. Terkadang, rumah bukan sesuatu yang harus dicari jauh-jauh, melainkan sesuatu yang dibangun perlahan dalam diri kita sendiri.
Jika kamu ingin menikmati liburan dengan cara yang berbeda dan lebih tenang, lebih dalam, serta lebih bermakna. Novel Rumah bisa menjadi pilihan yang tepat. Karena pada akhirnya, perjalanan terbaik bukanlah tentang sejauh mana kita pergi, melainkan tentang bagaimana kita menemukan jalan untuk pulang.
Penulis Khoirunnida