Kalijaga.co – Jika R.A Kartini butuh waktu lama untuk mengirim surat ke Belanda, sebuah kertas bisa sampai berhari hari, bahkan berbulan bulan menuju tujuannya. Lalu sekarang semua orang, khususnya perempuan bisa menyuarakan pendapatnya hanya dalam hitungan detik dan sampai keseluruh dunia.
Zaman sahabat pena sudah lewat. Kini semua serba instan lewat media sosial. Tapi esensinya tetap sama, melawan ruang sempit yang selama ini membatasi perempuan untuk berbicara lantang. Bedanya, medianya sekarang berubah jadi konten digital yang dibuat dengan kesadaran literasi.
Kita semua tahu tentang R.A. Kartini. Kita memujinya dengan bangga setiap tahun karena keberaniannya melawan ketidakadilan. Tapi ironisnya, ketika perempuan masa kini melakukan hal yang sama, berani bersuara, dan berani mengkritik, ereka sering tidak diberi ruang, bahkan sebagian berharap para perempuan yang lantang itu diam.
Apa bedanya? Ketika dulu Kartini bersuara lewat surat. Sekarang para perempuan bersuara melalui media sosial, ruang lingkup digital. Tetap dengan esensi yang sama, yaitu melawan ketidakadilan.
Ketika para perempuan sudah berani berbicara, dunia sudah mendengar, maka ini bukan saatnya kita tutup mata.
Hari ini, perempuan muda Indonesia mulai bersuara lewat TikTok, Twitter, Instagram, dan media sosial lainnya. Bukan alasan tren, tapi karena mereka tidak ada alasan lagi untuk menunggu kapan.
Thread panjang dibuat, mereka berteriak lantang tentang kekerasan seksual di kampus, konten edukasi soal hak reproduksi, sampai kritik kebijakan yang dibungkus rapi dalam infografis, yang setidaknya dibaca dan diperhatikan. Mereka tahu betul, tampil “beda” di permukaan kadang menjadi satu-satunya cara agar suara mereka tidak dibungkam oleh algoritma yang ada.
Yang menarik bukan hanya keberanian mereka, tapi betapa sistematis cara mereka bekerja. Ini bukan sekadar curhat di kolom komentar. Ini tentang literasi digital yang dipakai sebagai alat perlawanan.
Namun sayangnya, respons publik terhadap fenomena ini masih belum beranjak jauh dari cara berpikir lama. Beberapa kelompok punya stigma adalah hal yang berbeda. Ketika seorang perempuan bicara soal hal-hal serius, sering kali yang disorot bukan isinya, tapi dirinya.
Contohnya, ketika seorang perempuan memviralkan kasus pelecehan lewat Twitter, yang pertama kali dipertanyakan bukan kasusnya, tapi kredibilitasnya. Atau ketika kreator TikTok membahas isu femisida, yang ramai diperdebatkan bukan datanya, tapi pilihan kata dan nada bicaranya. Standar seperti inilah yang menjadi salah satu alasan dari inti masalahnya.
Ada kenyataan rumit yang perlu kita akui. Media sosial adalah ruang paling demokratis, tapi sekaligus paling berbahaya, baik bagi perempuan maupun laki laki. Namun, KOMNAS perempuan melalui catatan tahunan 2023 mencatat sesuatu yang cukup mengkhawatirkan. Kasus kekerasan berbasis gender secara online atau yang biasa disebut Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), meningkat signifikan. Bentuknya semakin kompleks. Yang paling menyedihkan, korban terbanyak adalah perempuan yang justru aktif bersuara di ruang digital.
Mereka yang berani bicara, yang memperjuangkan hak-hak orang lain, malah jadi sasaran empuk. Ruang yang mereka pakai untuk menyuarakan pendapat, ternyata juga ruang paling berbahaya bagi mereka.
Doxing, ancaman, kampanye pelaporan massal, semua itu nyata. Tapi disisi lain, ruang inilah yang pertama kali memberi banyak perempuan muda akses ke komunitas, informasi, dan kesadaran bahwa apa yang mereka alami bukan salah mereka.
Jadi persoalannya bukan lagi soal layak atau tidaknya media sosial jadi ruang perjuangan. Persoalannya adalah kenapa kita masih sibuk mendebat kelayakan perempuan untuk ada di ruang tersebut?
Kartini dulu menulis surat untuk sahabat penanya di Belanda karena itu satu-satunya cara yang tersedia. Ia tidak perlu naik ke atas podium dan berteriak. Ia tidak perlu menunggu seseorang menganggap pemikirannya penting. Ia hanya menulis dan suaranya bertahan sampai sekarang. Perempuan muda hari ini melakukan hal yang sama.
Perlu diakui, tidak semua konten yang disebut aktivisme digital itu punya bobot yang sama. Ada yang dangkal. Ada yang jauh lebih panas emosionalnya daripada data yang lengkap. Ada pula yang terasa lebih seperti ajang personal branding daripada perjuangan yang nyata.
Dunia digital memang rawan menjadi ajang pamer. Siapa paling vokal, siapa paling cepat bereaksi tanpa harus memikirkan apakah ada perubahan nyata yang terjadi. Tetapi semua itu adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh gerakan itu sendiri. Bukan beralasan lalu menyimpulkan bahwa semua ini hanya omong kosong belaka.
Tapi satu hal yang tidak bisa diperdebatkan. Perempuan muda Indonesia sedang membangun dunianya sendiri. Di ruang yang mereka ciptakan dengan aturan yang mereka tentukan sendiri. Itu bukan sebuah ancaman, kecuali dengan mereka yang selama ini terlalu nyaman dengan keheningan perempuan.
Jadi sebelum April kembali tiba dan kita semua sibuk mengutip Kartini di sana-sini, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri. Apakah kita menghormati warisannya, atau kita hanya nyaman dengan Kartini yang sudah diam selamanya?
Penulis: Syahra Banun | Editor: Nayla Nur Hidayah