Kalijaga.co – Matahari di langit kota itu perlahan tenggelam. Senja hanya meninggalkan bekasnya dengan kegelapan. Di ujung kos, sebuah masjid kecil baru saja mengumandangkan azan. Menandakan tibanya waktu maghrib. Jauza (20) tengah merenung menghadap jendela kosnya, sembari mengingat memori dan suasana saat ramadan di rumah, bersama kedua orangtuanya.
“Aku pertama kali merantau saat kuliah. Dan sekarang, tahun keduaku ramadan di perantauan,” ujarnya pelan.
Jauza merantau ke Semarang sejak 2024 untuk menjalankan kuliah di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Tahun pertamanya ramadan di perantauan, ia menyadari bahwa ramadan tak lagi sama seperti biasanya.
“Ramadan jauh dari keluarga, ternyata sangat sepi. Walaupun di kos banyak teman-teman, tapi biasanya, kan, sudah disiapkan makanan. Belum lagi, kalau ingin request menu buka, ibu pasti masakin. Tapi sekarang, karena jadi anak rantau, harus apa-apa sendiri,” katanya.
Di rumahnya di Tegal, suasana sahur selalu hangat. Keluarganya mempunyai kebiasaan tidak menonton televisi saat sahur. Baru setelah sahur, sholat sunnah sembari menunggu subuh. Dilanjutkan dengan subuh berjamaah, lalu kajian pagi. Hal itu menjadi momen yang begitu ia rindukan.
“Yang membuatnya berarti itu, karena ternyata yang dilakukan sejak aku kecil, berubah menjadi suatu habits baik setiap ramadan datang. Dan Alhamdulillahnya, selalu kami lakukan sekeluarga setiap ramadan hingga akhir,” kenangnya sembari tersenyum tipis.
Baginya, ramadan di perantauan maupun di rumah, memberikan makna kebahagiaan dan kebersamaan. “Ketika bersama keluarga, aku merasa senang dan sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menjalani ramadan dengan keluarga yang lengkap.”
Momen yang menjadi titik terendahnya yaitu ketika berbuka puasa di hari terakhir ramadan. Kerasanya suara takbir, juga ramainya suasana malam itu, membuatnya merasa sendiri. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengobati rasa rindu itu, selain video call dengan orangtua.
“Ketika buka puasa terakhir, aku buka di kamar sendirian, karena yang lain sudah pulang dan jadwal tiketku malam. Saat itu, aku merasa sepi dan sedih karena vibes takbiran itu ramai. Disitu, yang aku lakukan yaitu buat video untuk aku kirimkan ke orangtuaku dan video call,” akunya jujur.
Meski begitu, kehidupannya di perantauan saat ini, memberinya pengalaman yang tak kalah berharganya.
Walau tak selamanya bersama teman-teman, hal ini cukup memberinya makna untuk survive di tempat baru dan bagaimana ia dapat belajar untuk mengatur waktunya.
“Kadang ada masanya berbuka atau ada momen dimana mencari takjil sendiri. Tapi maknanya lebih ke pembelaran, bagaimana kita bisa survive dan menghidupkan kebiasaan-kebiasaan baik di rumah, yang tentu di rumah aksesnya lebih mudah karena ada keluarga. Tapi ketika di perantauan, kita punya teman-teman yang berbeda karakter. Disitu aku belajar, bagaimana untuk tetap berpegang teguh terhadap kebiasaan yang kita lakukan, saat tidak ada lagi yang mengingatkan,” jelasnya.
Satu hal yang menurutnya berharga dan sangat ia syukuri ketika menjalankan ramadan di perantauan yaitu menjalankannya bersama sahabat. Memiliki teman akrab sejak SMA, membuatnya merasa hangat ditengah kehidupan yang jauh dari orangtua.
“Ramadan terasa lebih menyenangkan karena kita menjalankannya bersama. Berbuka puasa bersama, sahur bersama, dan taraweh bersama. Momen-momen itu membuat aku merasa beruntung,” ceritanya.
Jauza menyadari bahwa rumah tak selalu berbentuk bangunan dan persoalan jarak. Lebih dari itu, ada rasa kebersamaan yang bisa tumbuh di tempat baru.
Baginya, ramadan di perantauan mengajarkan tentang tentang keteguhan diri ketika dihadapkan dengan kehidupan baru. Tentang bagaimana seseorang mampu mengontrol diri saat jauh dari pengawasan orangtua. Dimana kita mampu membawa diri dengan nilai-nilai yang ditanamkan orangtua.
Ia menjelaskan, “Aku menyadari bahwa pelajaran yang aku dapatkan adalah ketika kita dihadapkan dengan kehidupan atau momen baru yang kita harus melakukan apa-apa sendiri, disitu ada ujian apakah kita bisa pegang teguh nilai-nilai yang ditanamkan keluarga di rumah atau tidak. Karena di kos jauh dari kontrol orangtua. Di sini, kita harus bisa membawa diri kita agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang tidak baik.”
Langit perlahan menggelap. Kini, ia beranjak meninggalkan jendela, menyisakan bayangan dirinya yang terpantul dalam cahaya kamarnya.
Ramadan di perantauan, memang tak selalu mudah. Ada rindu yang terus dipeluk, ada doa yang selalu menjadi penghangat. Dari sini, ia belajar bahwa rumah bukan hanya sekedar tempat, namun nilai-nilai yang terus dijaga, dimanapun itu.
Penulis: Mayumi Cinta Mahesi | Editor: Nayla Nur Hidayah
- Tradisi Buka Bersama di Kalangan Mahasiswa : Berbagi Kebersamaan menjelang Maghrib - 14 Maret 2026
- Dampak Ramadan bagi Pedagang di Kampung Ramadan Wedomartami: Sebagian Omzet Naik, Sebagian Justru Menurun - 7 Maret 2026
- Sahur Ala Anak Kos: Tips Sahur Hemat dan Bergizi di Tengah Keterbatasan - 28 Februari 2026