crossorigin="anonymous">

6 Tips Aman Beraktivitas Pada Malam Hari di Sekitar Kampus

Kalijaga.co – Jadwal aktivitas kegiatan di kampus yang padat sering kali membuat para mahasiswa atau mahasiswi harus beraktivitas di malam hari. Seperti yang diketahui, kondisi seperti ini menyebabkan ketakutan dan keresahan bagi sebagian mahasiswi karna menghadapi rasa tidak aman di ruang publik.

Minimnya penerangan, jalanan yang sepi, sampai risiko pelecehan seksual menjadi hal yang kerap menghantui perjalanan pulang mereka.

Dalam situasi tersebut, banyak mahasiswi yang akhirnya mengembangkan berbagai cara agar tetap aman saat pulang malam dan dapat menjaga diri mereka dari bahaya. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan agar tetap aman saat berjalan di malam hari di sekitar kampus:

1. Pilih rute yang ramai dan memiliki penerangan

Dengan menghindari jalan pintas yang sepi dan kurang dalam penerangan menjadi langkah utama dalam menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun jarak tempuh menjadi lebih jauh, jalanan yang ramai dinilai lebih aman karena adanya aktivitas orang lain di sekitar.

Dengan adanya kehadiran orang lain di sekitar dapat mengurangi potensi tindakan kejahatan serta memberikan peluang untuk meminta bantuan jika ada hal yang dibutuhkan.  

2. Bagikan Lokasi secara real-time (atau share live location) kepada orang terdekat

Fitur live location yang terdapat di banyak aplikasi chatting menjadi salah satu tips yang efektif dalam menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan membagikan Lokasi perjalanan kepada teman atau keluarga, seseorang dapat memantau selama perjalanan berlangsung. Cara ini dapat memberikan rasa aman tambahan karena ada pihak lain yang mengetahui posisi real time kita.

3. Tetap waspada dan perhatikan lingkungan

Menggunakan earphone dengan volume yang tinggi dapat membuat seseorang kurang peka terhadap kondisi di sekitarnya. Dengan mengurangi distraksi saat berjalan, mahasiswi dapat tetap fokus dan memperhatikan kondisi sekitar, terutama saat melewati area yang sepi.

4. Berpura-pura menelepon saat merasa tidak aman

Dalam beberapa kondisi tertentu, berpura-pura sedang berbicara di telepon dapat menjadi strategi perlindungan yang ampuh. Karena cara ini memberikan kesan bahwa seseorang sedang tidak sendirian yang dapat membuat pelaku berpikir dua kali untuk melakukan tindakan yang merugikan.

5. Usakan untuk tidak pulang sendirian

Berjalan bersama teman atau pulang dengan berkelompok dapat menjadi pilihan yang lebih aman, terutama saat malam hari. Jika tidak memungkinkan untuk pulang bersama teman, maka dijemput oleh orang terdekat atau memesan transportasi daring dapat menjadi alternatif yang lebih terjamin dibandingkan berjalan sendirian di jalan yang sepi.

6. Siapkan kontak darurat yang dapat diakses secara cepat

Menyimpan nomor penting seperti keluarga, teman dekat, atau kerabat di kontak urgent menjadi sangat penting dalam situasi darurat. Dengan akses cepat, seperti menekan tombol 1 atau bantuan yang lain saat terjadi hal-hal yang meresahkan dapat segera mendapat bantuan.

7. Kenali lingkungan sekitar kampus

Pahami area sekitar kampus, sepert titik-titik rawan dan jalur yang lebih aman, mana jalan yang sepi dan mana jalanan yang banyak orang berlalu-lalang dapat membantu dalam mengambil keputusan saat akan bepergian atau pulang pada jam-jam sepi.

Pengetahuan seperti ini dapat diperoleh dengan bertanya kepada teman, ataupun dari pengalaman pribadi.

Berbagai tips tersebut dapat menunjukkan bahwa mahasiswi sering kali harus melakukan penyesuaian yang ekstra untuk memastikan keselamatan dirinya. Hal ini tidak lepas dari kondisi ruang publik yang belum sepenuhnya aman dan ramah bagi perempuan, terutama di malam hari.

Banyaknya kasus pelecehan verbal seperti catcalling hingga tindakan serius yang masih terjadi di ruang publik membuat rasa waspada yang tinggi. Namun sayangnya, hal-hal tersebut masih kerap dianggap sepele dan dilihat sebelah mata, padahal dampak yang terjadi sangat nyata di kehidupan korban.

Situasi ini juga memperlihatkan adanya perbedaan pengalaman antara laki-laki dan perempuan dalam menggunakan ruang publik. Mahasiswi cenderung harus memikirkan lebih banyak aspek keamanan dibandingkan mahasiswa laki-laki. Mulai dari perjalanan waktu, cara berpakaian, hingga bagaimana berperilaku di luar.

Faktor lingkungan juga memengaruhi, seperti keterbatasan akses transportasi pada malam hari menjadi salah satu kendala. Tidak semua mahasiswa memiliki kendaraan pribadi untuk berangkat ke kampus.

Sementara transportasi umum sering kali sudah tidak ada jam operasi pada waktu malam. Hal-hal seperti ini menjadikan mahasiswa terpaksa berjalan kaki atau mencari alternatif yang belum tentu aman.

Terdapat juga beberapa titik-titik di kampus yang belum memadai sistem keamanannya. Beberapa titik yang masih minim penerangan, serta belum dilengkapi dengan kamera pengawas atau petugas keamanan dapat memengaruhi tingkat kenyamanan mahasiswi saat beraktivitas di malam hari.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan rasa aman dan nyaman masih menjadi perhatian yang penting bagi mahasiswa, khususnya mahasiswi.  Berbagai upaya yang dapat dilakukan secara individu melalui langkah-langkah sederhana menjadi cara untuk meminimalisir risiko selama berada di ruang publik saat malam hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *