crossorigin="anonymous">

Menjadi “Ummatan Wasathan” di Era Penuh Konflik Sosial dan Politik

Kalijaga.co – Sebagai seorang mukmin yang berkeyakinan bahwa Islam adalah agama kedamaian, kita sepatutnya sadar akan realitas sosial yang seakan-akan semakin absurd dan tidak terkontrol. Bagaimana kita bisa meredam suatu konflik tanpa tau dan paham akan realitas yang terjadi di sekitar kita? 

Terkhususnya di era digital ini, informasi menyebar semakin cepat seperti Buraq. Begitu pula isu-isu sosial dan propaganda politik yang tersebar lebih cepat daripada gosip Ibu-Ibu tetangga. Saya sebagai seorang mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam mulai sadar, mengamati dan mempelajari berbagai isu sosial dan politik yang ada di sekitar kita, terkhususnya di sosial media.

Fakta yang sangat memprihatinkan adalah seluruh objektivitas informasi yang berbau isu-isu sosial dan politik di sosial media semakin menurun. Data statistika membuktikan bahwa bermula dari awal pemilu, isu hoax dan propaganda politik semakin meningkat. 

Counter-Narrative, manipulasi, penggiringan opini adalah senjata netizen untuk memecah belah bangsa. Kita tidak lagi beradu argumentasi terkait sesuatu yang objektif agar siapa yang pantas atau tidak, tetapi berlomba-lomba membuktikan siapa yang paling viral untuk memperebutkan hati masyarakat. Dan ini terjadi secara cepat dan masif di berbagai platform media sosial.

Namun, dibalik derasnya arus propaganda tersebut, ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita para audiens publik: tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang viral itu adalah kebenaran.

Di sinilah makna menjadi “Ummatan Wasathan” menemukan relevansinya. Sebuah konsep yang bukan sekadar identitas, tapi sikap hidup—menjadi umat yang tengah, adil, dan seimbang dalam melihat serta merespons realitas.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

(Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 143)

Di era penuh konflik sosial dan politik, sikap ekstrem seringkali lebih menggoda mulut dan jari tangan kita untuk menyambar. Ada yang terlalu cepat menghakimi tanpa verifikasi, ada pula yang memilih diam tanpa kepedulian. Padahal, keduanya adalah buah “simalakama”. Yang satu memperkeruh keadaan, yang lain membiarkan kerusakan terus berkobar.

Menjadi wasath berarti kita tidak reaktif, tapi juga tidak apatis. Kita hadir sebagai penjernih di tengah keruhnya narasi. Kita tidak mudah terseret emosi, tapi tetap punya keberanian untuk bersuara ketika kebenaran dipertaruhkan.

Kunci utamanya adalah kesadaran kritis. Kita perlu membangun kebiasaan untuk:

  • Memverifikasi informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya
  • Memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan
  • Mendengarkan berbagai sudut pandang tanpa kehilangan prinsip

Karena konflik hari ini bukan hanya terjadi di jalanan atau ruang politik, tapi juga di layar kecil dalam genggaman kita. Dan seringkali, peperangan terbesar bukan antara benar dan salah, tapi antara emosi dan akal sehat.

Sebagai seorang mukmin, kita dituntut bukan hanya untuk benar, tapi juga untuk bijak dalam menyampaikan kebenaran. Bukan hanya untuk menang dalam argumen, tapi untuk menghadirkan kedamaian dalam perbedaan.

Maka, menjadi “Ummatan Wasathan” di era ini adalah tentang keberanian untuk tetap tenang ketika yang lain gaduh, tetap jernih ketika yang lain keruh, dan tetap adil ketika dunia sedang condong ke salah satu sisi.

Karena sejatinya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari suara yang paling keras, tapi dari sikap yang paling sadar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *