Sejenak menghilang dari bisingnya otak, berusaha menjadi manusia kembali dengan menyalurkan hobi futsal yang telah lama terpendam.
Teringat masa-masa SD ketika guru menanyakan kepada saya mengenai cita-cita. “Husein, cita-cita kamu apa?” Sontak aku menjawab, “Menjadi pemain bola, Bu!” Sepatu hitam milik Zidni dengan handsaplas dibagian depan menutupi lubang, mengingatkan saya saat menjadi tim inti sekolah dan beberapa kali mewakili sekolah dalam lomba futsal antar-SD. Sepatu futsal hitam bermerk Mogul, dengan lambang cicak di bagian lidahnya dan list emas di sampingnya, menjadi kebanggaan saat itu. Hanya bermodalkan kebiasaan bermain di lapangan tengah sekolah, karena pada masa itu, lapangan dikuasai oleh saya sebagai kakak kelas.
Ketika saya lulus SD, ternyata hobi bermain bola saya pun ikut “lulus” (pasif). Pondok pesantren membawa saya mencoba hal-hal baru, hal-hal yang tak pernah saya kira sebelumnya. Pondok menuntun saya melupakan dunia lama dan beralih ke dunia baru—dunia dengan konsep keluarga, dunia di mana saya harus bisa segalanya. Di sana, saya dipaksa untuk berada di bawah, sekaligus di atas, dipaksa untuk terus tumbuh dalam segala kondisi. Tidak boleh ada yang salah, tidak boleh ada yang lepas dari barisan, tidak boleh ada yang maju duluan, dan tidak boleh ada yang mundur duluan. Inilah yang akhirnya membentuk karakter saya yang sekarang.
Hobi futsal yang hampir mati ini dipaksa hidup kembali oleh keadaan. Cam robot Dari Senin sampai Kamis, saya masuk pagi dan pulang sore, tetapi sebenarnya aku tidak benar-benar pulang. Ada 11 organisasi ataupun komunitas yang saat ini saya ikuti banyak sekali bukan? Sore hingga malam di hari kerja selalu diisi dengan rapat atau kegiatan lain. Tak pernah sekalipun saya diberikan waktu untuk sejenak menghirup udara segar, apalagi sekadar scroll TikTok seperti teman-teman yang lainnya. Tapi saya bahagia kok walaupun sambat sambat dikit.
Terbesit dalam pikiran saya, sepertinya asyik jika mencoba meninggalkan semuanya. Kemudian beralih membaca buku, minum kopi, sambil menulis banyak hal—menjadi “penulis gadungan” di tingkat mahasiswa sepertinya tidak terlalu buruk. Namun, sudah, tidak usah berandai-andai. Saya tidak tahu apakah ini sebenarnya solusi atau hanya sekadar pelarian dari bisingnya otak.
Bagi saya, jam kosong ataupun hari libur hanyalah pseudo waktu istirahat. Waktu kosong seperti umpan yang lezat bagi rapat dan kegiatan. Mungkin hari libur adalah “umpan seri S” untuk rapat dan kegiatan. Bandrek, buntet, bising—otak rasanya sibuk seperti pejabat. Eh, memang pejabat sibuk, ya?
Siapa sangka, yang akhirnya mengembalikan sifat “kemanusiaan” saya adalah hobi yang hampir tak pernah saya sentuh. Padahal, hanya dengan bermain futsal dan tertawa, saya bisa lupa dengan semua masalah. Lupa kalau besok harus rapat dengan siapa, lupa ada tanggung jawab besar di banyak tempat, lupa belum memberi kabar kepada teman-teman, lupa bahwa anggota-anggota saya harus bahagia, lupa ada acara besar, lupa mengerjakan tugas-tugas, lupa bahwa jadwal rapat besok bertabrakan, bahkan lupa bahwa saya adalah Ketua Angkatan KPI 23, Ketua Angkatan El-Mukhtar, Wakil HMPS KPI 2025, Divisi Produksi Jogja Recommended, Multimedia Kompost KPI Bercakap, Redaktur Kalijaga, Sekretaris Loyalist Generation, Bagian Media Korasi, Distributor Mphile, Penggagas Festival Amal Suka peduli dan Jejakarsa, serta lupa juga bahwa saya ternyata jomblo.
Hanya dengan mengikuti agenda futsal teman-teman Angkatan 21 setiap minggunya di malam hari, dan memakai sepatu futsal milik Zidni, saya bisa sedikit merasa menjadi manusia.
Penulis Fatah Elhusein
- Kapan 1 Ramadhan 1447 H? Ini Penetapan Muhammadiyah dan Jadwal Sidang Isbat Pemerintah - 16 Februari 2026
- Menjadi Perokok yang Baik: Sebuah Renungan untuk Menghargai Ruang Bersama - 4 Agustus 2025
- Negosiasi Tingkat Tinggi: Gua dan Koloni Semut - 4 Agustus 2025