crossorigin="anonymous">

Saat Hujan Jatuh di Layar: Santri dalam Pusaran Fandom Drama Korea

Di tengah gerimis malam dan suara jangkrik dari belakang tempat jemuran, aku pertama kali jatuh dalam pelukan dunia yang asing namun hangat, ya benar dunia drama Korea. Awalnya memang bukan musiknya, bukan pula idolanya, melainkan kisah-kisah hidup yang terjalin dalam tiap episode. Terkadang membuatku terdiam dan merenung. Aku hanyalah penikmat cerita, bukan penghafal nama grup atau fanbase artis. Dari situlah perjalananku sebagai bagian dari “fandom” dimulai, meski dengan cara yang barangkali tak biasa.

Dalam kehidupan digital hari ini, fenomena fandom menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya populer. Fandom bukan lagi sekedar kumpulan penggemar yang pasif, melainkan komunitas yang aktif, kreatif, dan partisipatif. Bukan lagi terbatas pada penggemar fanatik semata, namun sebuah budaya yang hidup, berkembang, dan berpola komunikasi serta relasi sosial tersendiri. Budaya partisipan dalam fandom yang tumbuh melalui media sosial, menjadi ruang yang subur untuk berekspresi, kritik, bahkan perenungan. Mereka membuat konten, berbagi narasi, berdiskusi, bahkan menciptakan budaya tandingan melalui ruang-ruang digital seperti Twitter, Tiktok, Instagram atau forum daring lainnya. Konsep ini disebut oleh Henry Jenkins sebagai budaya partisipan (participatory culture), dimana penggemar tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga memproduksi makna.

Namun, narasi tentang fandom sering kali didominasi oleh representasi budaya K-pop seolah-olah fandom Korea hanyalah tentang konser, lightstick, dan stan akun. Padahal, ada ruang lain yang tak kalah hidup yakni fandom drama Korea. Ia mungkin lebih sunyi, lebih kontemplatif, tetapi juga memiliki komunitas yang kuat dan cara partisipasi yang khas. Drama-drama lirih, yang membawa pesan moral, sosial bahkan spiritual. Mereka berdiskusi tentang alur cerita, membedah karakter, bahkan menulis ulang skenario dalam fanfiction atau membuat ulasan pribadi di blog dan media sosial.

 Dalam konteks inilah tulisan ini hadir, untuk menelaah bagaimana budaya partisipan dalam fandom drama Korea hidup di tengah masyarakat khususnya santri yang barangkali sering dianggap terpisah dari budaya digital. Menjadi menarik ketika topik itu dibaca dari kacamata santri, hidup di era milenial. Sebuah generasi yang belajar menggunakan sarung dan peci, tapi cakrawala pengetahuan tak bertepi, karena mereka meneguknya dari dunia maya bernama internet. mereka sangat hormat pada kyai namun pola pikir mereka mampu menjelajah sekaligus memilah banyak ajaran dan ilmu dari siapapun dan dimanapun. Sebuah generasi melompat jauh melebihi jangkauan para pendahulunya. Mengapa santri bisa  tertarik drama Korea? Bagaimana mereka berinteraksi dan berpartisipasi dalam komunitas daring? yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai pesantren tetap bisa berjalan berdampingan dengan partisipasi budaya luar? Orang Jawa memaknai santri “sanggup nerusaken tuntunan rasul Ilahi”. Sanggup melanjutkan risalah secara istiqomah, dalam tindak tanduk, pikir dan rasa berlandaskan ajaran syariat Islam dan hadist Nabi Muhammad SAW. Kurang lebih maknanya seperti itu.

Sebagai santri yang hidup dalam keteraturan pesantren dan ketenangan kitab kuning, aku menemukan ruang baru dalam cerita-cerita Korea bukan untuk melawan nilai yang sudah dipelajari, melainkan untuk melihat cermin lain dari kehidupan. Aku coba rumuskan siasat santri milenial untuk menjadi pemain yang aktif namun juga selektif, pandai, bijak, dan tahu akan kebutuhan serta kegunaan media sosial. Dipadu dan dikembalikan kepada konsep profetik Rasulullah SAW. Dari sanalah muncul satu pertanyaan besar yang melandasi tulisan ini bagaimana budaya partisipan dalam fandom drama Korea hidup dan tumbuh melalui media sosial, bahkan dalam diri mereka yang tidak terlibat dalam arus besar K-Pop.

Dalam sunyi pondok, di sela-sela ngaji dan dzikir, ada ruang yang pelan-pelan tumbuh. Ruang untuk memahami dunia di luar. Tak semua hiburan adalah kesia-siaan, tak semua tontonan adalah kelalaian. Bagi sebagian santri seperti aku, drama Korea menjadi cara lain untuk melihat nilai-nilai kehidupan, meski datang dari budaya asing. Maka disinilah letak keunikannya, bagaimana seorang santri yang hidup dalam tradisi dan adab, dapat ikut menjadi bagian dari fandom tanpa kehilangan jati diri.

Aku tak pernah bercita-cita menjadi penggemar drama Korea. Tapi pada suatu malam yang biasa, pada saat liburan berlangsung seorang teman memutarkan satu episode Reply 1988. Aku tidak langsung jatuh cinta, tapi seperti diseret pelan-pelan ke dalam dunia yang dekat meski jauh. Ada nilai kekeluargaan, rasa hormat pada orang tua, persahabatan yang tulus, dan irisan luka kehidupan yang terasa nyata semuanya dibungkus dalam bahasa sinema yang lembut dan visual yang memang tidak mengecewakan. Semakin hari kian aku menyadari bahwa kesukaanku pada drama Korea bukan hanya karena kisahnya, tapi karena memberi ruang refleksi, seperti membaca ulang kisah-kisah hikmah dalam bentuk berbeda. Sebagai santri, aku tidak mengkonsumsi begitu saja. Aku memilih, memilah, dan menyaring. Kalau ada adegan yang tidak sesuai, bohong kalau tak diteruskan ya sewajarnya saja. Kalau ada nilai baik, bisa direnungi. Partisipasiku pun sederhana kadang berdiskusi dengan teman, menulis ulasan pendek di status WhatsApp, atau biasanya saat di pondok sekadar menyebut nama tokoh dalam perumpamaan saat ngaji ngalor-ngidul selepas subuh. Apakah harus seperti bahtsul masail? Tidak juga. Tapi aku percaya, menjadi santri juga berarti menjadi pembaca zaman, dengan kepala dingin dan hati yang tetap tunduk.

Di balik dunia virtual fandom, aku melihat peluang untuk menjaga nilai sekaligus menjangkau dunia selayaknya prinsip al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Nilai-nilai yang kusuka dalam drama Korea seringkali serupa dengan budaya Jawa dan hidup pesantren, tata krama, rasa sungkan, hormat pada orang tua, ketulusan, dan keikhlasan. Mungkin karena itu, aku merasa tidak sedang mengkhianati jati diriku, tapi justru menemukannya kembali, lewat layar kecil dan cerita-cerita yang lirih.

Apa yang kurasakan ternyata juga dialami oleh beberapa teman di Pesantren. Salah satunya, teman dekatku bercerita bahwa ia mulai menyukai drama Korea sejak usia sembilan tahun. Bukan karena niat awal, tapi karena sering menemani ibunya menonton di televisi. “Awalnya cuma nemenin, tapi lama-lama kok malah ketagihan,” ujar Ika Zahara sambil tertawa. Ia merasa ada suasana yang berbeda di dalam drama Korea, seperti lingkungan yang terasa hangat, visual yang rapi, alur cerita yang tidak klise, dan musik latar yang mampu menyentuh sisi emosional. Baginya nilai-nilai drama Korea seringkali menumbuhkan semangat hidup. “Kita itu kayak diingetin buat jangan nyerah sama kehidupan” tambahnya. Bahkan menurutnya, genre action atau thriller pun kadang memberi dorongan untuk bergerak, untuk tidak malas. Tapi sebagai santri, ia sadar betul bahwa tidak semua tontonan harus ditelan bulat-bulat. “Ya kita kudu paham alur dan isi drama itu, jangan sampai malah hanyut ke hal yang negatif.”

Hal menarik lainnya, drama Korea punya keunikan karena mampu menyentuh emosi penontonnya, terutama perempuan. “Mereka itu main di wilayah rasa dan cewek-cewek tuh peka banget kalau udah nyentuh ranah emosional” katanya. Hal ini memperkuat keyakinanku bahwa fandom drakor bukan hanya urusan hiburan, melainkan juga ruang refleksi. Apalagi bagi kami, para santri yang hidup dalam keteraturan, ruang itu hadir sebagai jendela baru untuk memahami dunia tanpa harus meninggalkan akar nilai yang sudah mendarah.

Teman-temanku yang lain juga punya pengalaman serupa. Safina, mulai menyukai drama Korea saat pandemi. Ia tertarik dengan kisah anak sekolahan, tampilan para aktor-aktris, hingga gaya berpakaian dan rias wajah yang menurutnya unik dan menggemaskan. Dari Drama True Beauty, ia belajar bahwa membully, baik secara fisik maupun batin, adalah hal yang harus dihindari. “Aku jadi lebih semangat dan bersyukur menjalani hari,” ucapnya sambil tersipu. Baginya, fandom drakor bukan hanya tentang suka, tapi juga tentang semangat berbagi. “Kayaknya fandom drakor itu paling kompak dan dermawan deh,” katanya sambil tertawa. Entahlah apa alasan ia mengatakan dermawan, semua orang punya asumsi masing-masing bukan?

Sementara Alfa, yang mulai nonton sejak 2019, menilai bahwa drama Korea seringkali lebih terasa nyata dibanding sinetron lokal. Nilai-nilai yang ia temui pun beragam kadang soal keluarga, toleransi, atau makna kehidupan sehari-hari. Ia menganggap fandom drama Korea layak diamati, karena punya ciri khas dan tumbuh dengan budaya yang berbeda dari K-Pop. “Bahkan hampir semua drama Korea pasti punya pesan bermakna, nggak melulu soal cinta,” tuturnya. Dari mereka aku belajar bahwa menjadi bagian dari fandom bukan berarti larut tanpa batas. Kami menonton dalam kendali, menikmati cerita tanpa kehilangan nurani, dan mengingat bahwa layar kaca pun bisa menyimpan hikmah dengan catatan melihat dengan mata hati.

Di media sosial, budaya partisipan dalam fandom drama Korea hidup melalui banyak bentuk seperti akun-akun fanbase di Instagram, Twitter, dan forum diskusi di YouTube, Tiktok, grup Telegram, fanfiction, hingga meme dan video reaksi. Semua itu jadi ruang pertemuan antar penggemar, tempat berbagi, bercanda, bahkan saling menguatkan. Partisipasi semacam ini membentuk komunitas yang punya identitas bersama tak hanya sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari cerita itu sendiri. Di sanalah fandom menjadi lebih dari sekadar kesukaan namun menjelma jadi jejaring rasa dan makna.

Mungkin menjadi santri tak pernah menutup diriku dari dunia luar tapi juga mengajarkan cara menatapnya dengan lebih hati-hati. Di antara halaman kitab dan suara bel subuh, aku menemukan bahwa cerita dari negeri asing pun bisa menyapa jiwa, memberi jeda, dan mengajakku berpikir tentang makna. Lewat drama-drama Korea, aku tidak sekadar menonton, tapi turut menafsirkan hidup tentang luka yang disembuhkan waktu, cinta yang tak melulu bersuara, dan nilai-nilai yang diam-diam menyerupai yang kami pelajari di pesantren dan mungkin benar, tak ada yang sepenuhnya asing di dunia ini. Sebab rasa jika tulus dan jujur selalu tahu jalan untuk pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *