crossorigin="anonymous">

Persiapan Hadapi Kiamat Lingkungan: Gusdurian Jogja Soroti Darurat Sampah dan Krisis Ekologi.

Kalijaga.co Komunitas Gusdurian Jogja menggelar Kongkow bareng bertajuk “Persiapan Kiamat Lingkungan Berikutnya,” yang diselenggarakan di Griya Gusdurian pada Jum’at lalu (11/09/2026). Kegiatan tersebut mengangkat permasalahan sampah melalui pemutaran film pendek “Kiamat Sampah” yang disutradarai oleh Enggar Asfinsani pada tahun 2022.

Kiamat Sampah menyadarkan masyarakat betapa kacaunya permasalahan ekologi yang disebabkan oleh ulah manusia sendiri.

Penanggung jawab kegiatan (person in charge) Kongkow bareng, Musaddik Kautsar Illahi atau yang biasa dipanggil Diki, menjelaskan bahwa Kongkow merupakan forum bulanan sekaligus menjadi rangkaian perayaan Haul Gusdurian yang mengusung tema ekologi.

Tema ekologi dipilih berdasarkan pembacaan mendesaknya krisis lingkungan di Indonesia, khususnya persoalan darurat sampah yang sering kali disepelekan oleh masyarakat.

“Karena yang paling nampak di kita selain permasalahan politik adalah masalah ekologis, Indonesia memang kiranya perlu lebih peduli dengan permasalahan lingkungan,” ungkap Diki.

Diki juga menyampaikan bahwa masalah ekologi benar-benar ia rasakan dan menjadi urgent untuk direspond dengan sebuah solusi.

Ia bercerita tentang dirinya yang suka menjelajah alam sejak kecil, mandi di sungai bersama teman-teman atau keluarga. Namun, kini hal tersebut tidak bisa ia lakukan karena sungai yang kotor dan penuh sampah.

“Hingga akhirnya aku sadar bahwa hal tersebut terjadi bukan hanya karena hari ini, tapi sejak dulu ketika aku beli ciki-ciki dibuang sembarangan di sungai dan barangkali itu bukan hanya di tempatku, karena di tempatku masih daerah yang lumayan asri. Apalagi yang di kota-kota, sepertinya sudah mendarah daging,” tambah Diki.

Tanggapan Diki selaras dengan tanggapan seorang aktivis lingkungan asal Jambi, Aryan Aprizan, yang menegaskan pentingnya menumbuhkan kesadaran diri dalam merawat lingkungan. Menurutnya, masih banyak individu yang menyepelekan permasalahan lingkungan, khususnya sampah.

“Masalah sampah menjadi hal sepele dalam benak kita, contoh ketika kita berada di tongkrongan, sering kali kita meninggalkan botol minum sembarangan. Nah, kita harus peduli. Kita harus menjaga mulai dari hal-hal kecil,” ungkap Aryan.

Aryan juga menyampaikan bahwa cara menanggulangi permasalahan ekologi dimulai dari kesadaran diri setiap individu.

“Permasalahan banjir dan kebakaran hutan yang terjadi hari ini juga merupakan dampak dari ulah manusia. Maka untuk menanggulangi hal tersebut perlu dimulai dengan kesadaran diri, bagaimana kita menjaga hutan dan lingkungan,” Tambah Aryan.

Sementara itu, Diki beranggapan bahwa menanggulangi permasalahan ekologi akan lebih efektif dilakukan dengan bergabung dalam struktur pemerintahan. Namun, Ia juga menyampaikan bahwa setidaknya penanggulangan dalam skala kecil dimulai dari diri sendiri melalui kesadaran dan aksi nyata.

“Setidaknya penanggulangan itu dimulai dari kita sendiri. Kalau di Gusdurian, kita sudah berjalan selama beberapa bulan dalam mengolah dan memilah sampah, membuat alternatif pembuangan sampah, ekoenzim, hingga pembuatan kompost. Aku sendiri di kos mulai memilah sampah,” Ungkap Diki.

Permasalahan sampah terlegitimasi di Yogyakarta. Beberapa tahun terakhir, membayar sampah bisa mencapai angka 70 hingga 100 ribu rupiah. Hal tersebut tentu sempat menjadi polemik yang perlu disadari.

Melihat kondisi tersebut, Diki berharap setiap individu seminimalnya sadar, berusaha mengurangi sampahnya masing-masing, dan bertanggung jawab dengan apa yang diproduksi olehnya.

Acara yang mengangkat tentang isu lingkungan ini tidak pertama kali dilaksanakan oleh Gusdurian, meski lingkupnya yang masih kecil. Sebelumnya, Gusdurian sudah melaksanakan kegiatan pemilahan sampah dan lainnya sebelum acara Kongkow bareng diselenggarakan. Gusdurian juga mulai menggandeng masyarakat sekitar.

“Masyarakat disekitar sini pernah diberi tong biru besar oleh pemerintah. Namun, hanya diberikan tongnya saja, tidak diberikan pelatihan. Sehingga masyarakat disekitar sini meminta bantuan ke Gusdurian, lalu kami berikan pelatihan dan akhirnya dari situ kami dan masyarakat dapat terhubung,” pungkas Diki.

Kegiatan Kongkow bareng dihadiri masyarakat umum dari berbagai latar belakang agama serta aktivis lingkungan. Meski demikian, kegiatan tersebut belum melibatkan pemangku kebijakan yang memiliki legitimasi kekuasaan secara langsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *