Kalijaga.co – Masjid Gedhe Kauman menyimpan keunikan tersendiri dari segi tampilan. Bukan saja pembangunannya yang tak terlepas dari Keraton Yogyakarta, Masjid Gedhe Kauman pun jadi salah satu masjid tertua di kota istimewa.
Kalijaga.co menyambangi Masjid Gedhe Kauman untuk membuktikan keunikan tersebut. Kami menemui Azman Latif, Ketua Umum Pengurus Masjid Gedhe Kauman, untuk mendengar kilas balik masjid kuno ini.
“Kalau dari sisi arsitektur, kita akan melihat perpaduan antara bangunan Hindu dan Islam. Jadi kita akan melihat, misalnya tiga piramid bertumpuk pada atapnya, itukan ciri khas hindu, inilah kebijakan Islam saat itu, supaya bisa diterima oleh masyarakat. Maka, bangunan-bangunan itu juga kemudian tidak sama sekali khas Islam, namun dipadukan dengan yang sudah familiar,” jelas Azman, Sabtu (18/03/2023).
Perwujudan akulturasi budaya antara Islam dan Hindu menurut cerita Azman, dibuktikan dengan atap berbentuk piramida bertumpang tiga atau seringkali dirapal tajug lambang teplok. Dalam filosofi jawa, menunjukkan tahapan dalam menekuni ilmu tasawuf, yakni tarekat, makrifat, dan syariat. Di sisi lain, hal ini menjadi penegasan adanya kerajaan Islam di Yogyakarta.
Selain itu, lanjut Azman, keunikan dari masjid ini sebagai akulturasi budaya, ditonjolkan dari setiap elemen masjid yang memiliki makna tersendiri. Seperti gapura dan simbol waluh.
“Ornamen-ornamen di masjid ini, memang ornamen yang memiliki makna. Jadi misalnya kita melihat di sisi paling luar sebelum masuk masjid ini kita akan bertemu yang namanya gapuro. Gapuro itu asalnya ghofuro, yang berarti orang yang masuk ke sini itu mendapatkan ampunan. Setiap pintu masuk masjid ini, di pojok-pojok itu ada simbul waluh. Waluh yang dimaksudkan di sini yaitu waallah. Kemudian kita lihat ornamen-ornamen kaligrafi ada lafadz Allah dan Muhammad, jika kita melihat dengan teliti bendanya, kalau ngomongnya susah,” terang Azman.
Untuk lebih memahami makna elemen (ornamen) masjid, kami kembali bertandang ke Gedhe Kauman pada Sabtu (25/03/2023). Di sana kami menemui Prayudi selaku relawan di bagian penitipan barang.
Ia menjelaskan kaligrafi yang terdapat pada tiap cagak masjid, pertama ukiran atas melambangkan kalimat Allah dan Muhammad. Yang lain hal, dapat pula diartikan lung-lungan (tolong menolong).
Selain kaligrafi lafaz Allah dan Muhammad, Prayudi menjelaskan ornamen di atap serambi masjid berbentuk nanas terbalik. Jelasnya melambangkan hablu min an-naas (hubungan baik dengan manusia) dan hablu min Allah (hubungan baik dengan Allah).
“Tidak hanya itu, di bagian atap serambi masjid juga ada ornamen berupa kepala buaya yang menghadap ke luar masjid. Di mana ornamen tersebut melambangkan hati-hati diluar sana itu banyak bahaya dan godaan. Untuk yang di dalam masjid, bagian depan tempat imam, ada simbol buah salak yang bermakna hadis man salako…, barang siapa yang menuntut ilmu, akan memudahkan baginya menuju surga,” pungkas Prayudi.
Kebanyakan pengunjung masjid adalah ia yang mampir usai berkunjung ke situs budaya sekitarnya. Satu di antaranya, Henna Yasmin. Henna menceritakan, usai berkunjung ke Museum Sonobudoyo dan mampir ke Gedhe Kauman untuk salat. Namun, ia tetap terkesan dengan masjid yang jadi pilihan wisata religi ini.
“Masjid ini memiliki ketenangan tersendiri, unsur budayanya masih sangat melekat, apalagi ditambah ornamen-ornamen yang terlihat sangat kental dengan budaya jawa, dan tak lupa unsur religinya juga ada,” kesan Henna. (pgmi)
Reporter: Tantri Yuly Astuti I Editor: Aida Husna R
- Napak Tilas Masjid Kauman: Masjid Tertua di Jogja - 28 Maret 2023