Kalijaga.co – Sempat menjadi perbincangan hangat di sosial media beberapa minggu belakang tentang kampus Universitas Islam Negeri (UIN) yang dinilai kurang berkualitas melahirkan alumni dengan keterampilan yang baik dibandingkan kampus-kampus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui dasar permasalahan, apa penyebab hal itu terjadi? Maka dari itu perlu kita ketahui apa perbedaan antara PTKIN dan PTN.
Meski sama-sama berstatus kampus negeri, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak bisa disamakan, mengapa?
Berikut perbedaan antara PTKIN dan PTN yang bisa menjelaskan calon mahasiswa baru untuk menentukan kampus pilihannya:
1. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN)
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) adalah kampus yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) yang lebih berfokus pada ilmu keislaman, meskipun juga berfokus pada program studi umum di beberapa perguruan.
PTKIN memiliki tiga jenis institusi yaitu: Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Kurikulum yang dipakai memadukan ilmu keagamaan islam seperti: fiqih, ushul fiqih, ilmu qur’an, dan hadist dengan ilmu-ilmu lainnya.
Jalur masuk nasional yang di disediakan kementrian agama untuk masuk perguruan tinggi berupa (Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) SPAN-PTKINdan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN). Seleksi nasional berdasarkan nilai rapor dan prestasi akademik tanpa ujian tertulis, dan Seleksi nasional melalui ujian tertulis dengan sistem seleksi elektronik (SSE).
Umumnya SPAN-PTKIN siswa akan didaftarkan langsung dari sekolah-sekolah madrasah yang juga ada di bawah naungan Kemenagdengan memasukkan nilai dan prestasi siswa tanpa biaya pendaftaran sama sekali, tapi hanya berlaku untuk siswa lulusan tahun berjalan. Waktu seleksi lebih dahulu yang lakukan sebelum UM-PTKIN.
Sedangkan UM-PTKIN merupakan seleksi tulis berbasis komputer yang bisa diikuti oleh siswa gap year maksimal 3 tahun, dengan biaya pendaftaran yang ditentukan setiap tahunnya. Seleksi diadakan setelah pengumuman SPAN-PTKIN yang terdiri dari Tes Kemampuan Dasar (TKD), Tes Potensi Akademik (TPA), Bahasa, tes kemampuan bidang IPA/IPS, serta bidang keislaman.
Menurut rektor UIN Siber Nurjati Cirebon, Prof. Dr.H. Aan Jaelani, M.Ag di dalam artikel UINSSC, “Kuliah di PTKIN sejatinya ibarat membeli satu produk, tetapi mendapat dua manfaat sekaligus.”. Beliau mencontohkan Mahasiswa program studi hukum keluarga islam fakultas syariah, dalam satu mata kuliah, mahasiswa tidak hanya mempelajari hukum positif sebagaimana di fakultas umum. Namun, juga sekaligus mendalami hukum islam berbasis fiqih.
Prof. Aan Jaelani menegaskan, di mana lagi mahasiswa bisa mendapatkan dua perspektif keilmuan sekaligus: Hukum Negara dan Hukum Islam. Mahasiswa yang ada di perguruan tinggi Islam akan diajarkan kompetisi kekuatan nilai yang dibekali dengan etika, spiritualitas, dan kepekaan sosial.
Keunggulan PTKIN tidak terletak di banyaknya bidang program studi saja, tetapi menjadikan ilmu-ilmu itu tidak berdiri di ruang hampa dengan pendekatan integratif di tengah nilai krisis yang melekat pada pola kehidupan masyarakat modern.
2. Perguruan Tinggi Negri (PTN)
Perguruan Tinggi Negri (PTN) adalah perguruan tinggi yang didirikan dan dikelola oleh pemerintah Indonesia, baik di bawah naungan Kemendikbudristekmaupun kementrian lainya. Jenis institusi meliputi universitas, institut, politeknik, dan akademi.
Kurikulim yang ada pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan berbasis Outcomes Based Education (OBE) yang berfokus pada capaian pembelajaran dan kesiapan kerja.
Jalur masuk PTN meliputi Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Persis halnya seperti SPAN-PTKIN, SNBP siswa didaftarkan lansung dari sekolah dengan mengiput nilai rapor dan prestasi akademik tanpa dipungut biaya.
Sementara jalur SNBT sama seperti UM-PTKIN namun materi yang diberikan untuk seleksi tidak menjurus kepada keislaman.
PTN yang pada dasarnya memang difokuskan untuk terjun ke lapangan kerja, membuat prospek kerja yang menjanjjikan mendi keunggulan bagi PTN.
3. TOP Rank

Meski sama-sama negeri kampus PTKIN dan PTN jelas berbada, tetapi tujuan didirikannya kampus tetap untuk menjadi wadah mencerdaskan anak bangsa.
PTKIN yang berada di bawah naungan kementerian agama (kemenag) akan menggabungkan keilmuan islam dan umum untuk mengintegrasikan ilmu sains, teknologi, dan sosial dengan pemahaman islam yang moderat, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Selain itu, tujuan mendasar berdirinya PTKIN ini adalah melahirkan sarjana muslim yang cakap, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab pada masyarakat. Melalui kajian keislaman yang menjadi pusat studi islam diharapkan generasi akan berwawasan luas. Namun, tetap berpegang erat pada identitas umat beragama yang menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai keislaman.
PTN yang berada di bawah naungan kementerian pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi (kemendikbudristek) akan menyiapkan pendidikan tinggi yang berkualitas. Tujuan utamanya yakni agar generasi mendapatkan pendidikan yang bermutu dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui penelitian.
Hal lainnya, PTN akan menyiapkan lahirnya generasi pengabdian masyarakat yang telah ditempah dari hasil pendidikan dan penelitian yang dicetak dari lulusan yang berdaya saing kritis, dan berintegritas.
Melalui dua penjurusan yang sama-sama berfokus pada keunggulan generasi emas, negara mengharapkan Indonesia dapat bersaing dengan keunggulan negara-negara besar lainya.
4. Perstasi Kampus PTKIN dan PTN di Indonesia
Kampus-kampus juga mampu bersaing dengan ranking dunia. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, PTKIN nomor satu di Indonesia, berhasil meraih prestasi gemilang dengan menempati peringkat 7 dunia untuk Religius Studies (studi agama) menurut SCImago Institutions Rankings (SIR) 2026. Selain itu, UIN Sunan Kalijaga juga menempati peringkat ke 37 dunia dalam bidang Theology, Divinity, and Religius Studies versi QS World University rankings by subject.
Sementara itu, PTN terbaik di Indonesia yaitu Universitas Indonesia (UI) juga konsisten menoreh prestasi gemilang sebagai peringkat 189 rank dunia, dan masuk nominasi unggul dalam bidang Sosial Sciences dan Art and Humanities versi QSWUR/THE WUR.
Penulis: Nurul Zakiyyah | Editor: Zahrah Suci Al Aliyah