Kalijaga.co – Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY) memasuki dekade kedua. Ratusan perupa memberi makna atas capaian tersebut dalam pameran seni rupa bertajuk “Hamemayu Bhumi Ngayogyakarta”.
Salah seorang perupa Tukirno B. Sutejo, menghadirkan karya berjudul “Buddha From Djawa”. Karya lukis tersebut mengungkapkan bahwa salah satu sebab Yogyakarta menjadi istimewa adalah adanya kebergamaan agama.
“Karena di Jogja ini banyak agama-agama bagian dari spiritual dari Jogja itu sendiri, semua agama ada di sini saya tuangkan dalam karya saya yang berkaitan dengan spirit untuk membangun kebersamaan, welas asih, dan cinta kasih lewat simbol-simbol yang saya buat dalam karya saya,” jelas Tukirno disela-sela pembukaan Pameran Seni Rupa ‘Hamemayu Bhumi Ngayogyakarta’, Sabtu (18/3/2023).
Seniman lain memiliki pandangan berbeda mengenai keistimewaan Jogja. Deddy Paw, misalnya. Melalui karya berjudul “The Best Offering”, ia memberikan respon terhadap tema pameran yang diinterpretasikannya sebagai kehendak mengembangkan Yogyakarta menuju kejayaan sejati nan abadi (Jaya Wijayanti). Selain itu juga dapat membawa Yogyakarta sebagai pusat peradaban dunia. “setiap impian, harapan, maupun keinginan, niscaya akan terwujud jika orang mau berikhtiar dan bekerja secara optimal,”tandasnya.
Pameran seni rupa “Hamemayu Bhumi Ngayogyakarta” sendiri digelar dalam rangka memperingati UUK DIY 2023. Masyarakat dapat menikmati secara cuma-cuma karya tersebut mulai 18 Maret hingga 18 April 2023 di Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Terdapat 112 seniman yang terlibat dalam gelaran ini. Mereka berasal dari berbagai daerah di DIY, seperti Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul, serta beberapa perwakilan dari luar DIY. Masing-masing seniman menampilkan satu karya seni berupa lukisan atau patung.
Salah satu panitia pameran Indri Sukantini, mengatakan pameran seni rupa peringatan UUK DIY 2023 itu tampak diminati banyak pengunjung. Menurut pengamatan di lokasi, sedikitnya 400 pengunjung hadir di area pameran pada hari pertama. Meski begitu dia sadar jika tidak semua pengunjung sedari awal berniat melihat pameran. Hal itu dibenarkan Tantri Yuly Astuti, salah satu pengunjung pameran. Ia mengungkapkan bahwa tak sengaja mengetahui pembukaan pameran itu saat hendak pulang dari Museum Sonobudoyo. Meski begitu, ia menilai pameran itu memang menarik dan menambah pengetahuannya tentang Yogyakarta.
“Menarik. Lukisannya banyak yang merepresentasikan Jogja sesuai tema yang diangkat. Selain itu juga lebih mengenalkan isi dari Yogyakarta dan dapat menambah pengetahuan tentang Jogja. Apalagi untuk saya yang bukan asli Jogja,” tuturnya. (pgmi)
Reporter: Wahyu Ika Nur Aini | Editor: Aji Bintang Nusantara
- Menyalakan Ingatan Reformasi 98 - 7 April 2023
- Mencari Keistimewaan Jogja melalui “Hamemayu Bhumi Ngayogyakarta” - 20 Maret 2023