crossorigin="anonymous">

Mempelajari Bahasa Isyarat, Upaya Menciptakan masyarakat inklusi

Kalijaga.co – Program studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Workshop Bahasa Isyarat dalam rangka MPI Fair 2023. Acara ini merupakan program tahunan dari prodi MPI, tepatnya di Gedung Kuliah Terpadu UIN Sunan Kalijaga pada hari Kamis, 7/12. Acara ini mengangkat tema tentang inclusivity yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya Bahasa Isyarat dalam mendukung inklusi sosial.

Khoirudin Bashori selaku ketua panitia menjelaskan bahwa tujuan pelaksanaan acara ini untuk memperkenalkan, memberikan pengetahuan dan membantu peserta dalam memahami dasar – dasar Bahasa Isyarat. Selain itu, juga merangsang pemahaman tentang inklusi sosial dan keberagaman dalam berkomunikasi.

 “Dengan belajar bahasa isyarat, berarti kita belajar menghargai keberagaman”. ujar Khoirudin.

Ririn difabel tuli selaku pemateri didampingi oleh penerjemah, memaparkan bahwa sebagai sesama manusia, kita semua setara dan saling menghargai. Salah satu cara untuk menghargai perbedaan dilihat dengan panggilan yang sopan. Ia mengaku lebih senang dipanggil difabel tuli daripada tuna rungu.

“Mereka difabel, tapi setara, sedangkan stigma tuna rungu itu kayak merasa dianggap nggak bisa bahasa isyarat, nggak bisa berkomunikasi, sehingga kesannya kurang sopan.” ujar Rini dengan bahasa isyarat.

Acara ini telah mengundang banyak antusiasme dari mahasiswa, banyak diantara mereka yang ingin belajar Bahasa isyarat. Bahkan, jumlah peserta yang hadir melebihi kuota maksimal yang telah ditentukan panitia. selain itu , acara ini juga bekerja sama dengan Pusat Layanan Difabel (PLD) UIN Sunan Kalijaga.

“Awalnya kuota peserta cuma lima puluh, cuma banyak yang chat saya minta dilebihin, biar bisa ikut.  Pesertanya juga ggak hanya dari UIN, tapi ada dari UNY, UPN, bahkan ada dari luar Jogja”. ujar Khoirudin.

Workshop dimulai dari penyampaian materi kemudian dilanjut dengan praktik. selain itu, banyak hal-hal yang disampaikan yang menambah wawasan peserta tentang dunia disabilitas  tuli, seperti bagaimana mereka berkomunikasi dengan orang lain, cara mereka menikmati sebuah acara, dan lain- lain.

Riri selaku pemateri juga memaparkan bahwa dalam Bahasa isyarat terdapat dua jenis yaitu BISINDO dan SIBI. BISINDO merupakan Bahasa yang lahir dari disabilitas tuli sedangkan SIBI adalah penggunan bahasa baku Indonesia.

“Yang banyak kita pakai dalam keseharian adalah BISINDO”. ujar Rini dengan bahasa isyarat.

Kegiatan workshop bahasa isyarat ini tentunya sangat penting karena dapat membuat kita bisa berkomunikasi dengan para difabel tuli, sehingga mereka juga tidak merasa diasingkan dari lingkungannya.

Fira, salah satu peserta workshop berpendapat bahwa kegiatan seperti ini harus terus di lakukan, karena dari sini kita bisa belajar Bahasa isyarat. maka dari itu ini harus menjadi perhatian lembaga agar dapat terus dikembangkan.

“Seneng banget bisa belajar bahasa isyarat, pematerinya juga keren, harapannya acara seperti bisa ada terus, jadi bisa terus belajar.”ujar Fira.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *