“Sosok pemimpin yang berwibawa bukanlah pemimpin yang ditakuti anggotanya, tapi pemimpin yang disegani.” (Imtiyaz Allam Nashr)
Wibawa sejati tidak menghadirkan rasa takut, melainkan rasa aman sehingga menjadikan dirinya disegani. Seorang pemimpin yang berwibawa harus mampu membersamai, membantu, dan mengingatkan kinerja para anggotanya tanpa membeda-bedakan.
Wibawa terbentuk di dalam diri setiap pemimpin, di mana setiap orang memiliki wibawanya masing-masing dalam taraf kepemimpinan. Cermin wibawa itu tergambar dibalik kepemimpinan Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (HMPS-KPI) di UIN Sunan Kalijaga, Imtiyaz Allam Nashr. Kemampuannya dalam menghadapi dinamika organisasi telah membentuk wibawa dalam dirinya sehingga menjadikannya disegani oleh mahasiswa KPI.
Menurut mahasiswa yang kerap disapa Iyaz ini, pondasi pertama untuk membangun wibawa dimulai dari kepahaman mengenai posisinya. Bagaimana cara ia meletakkan diri dalam organisasi sehingga membuat anggota-anggotanya merasa dihargai dan disertakan dalam organisasi.
“Sebagai ketua aku membersamai divisi tapi sesuai pada porsinya aja, bukan membantu kerjaannya, tapi ngingetin kerjaanya, mendorong. Aku ngga mengharuskan teman-teman tuh ngehormatin gitu tapi yaudah kita temen aja biar ga ada sekat. Jadinya teman-teman tau akan kerjaannya,” ungkapnya.
Dalam kepemimpinan Iyaz, ia berusaha merangkul, mendorong dan membersamai anggotanya. Ia memberikan ruang tumbuh untuk anggota-anggotanya dan menghilangkan sekat antara pemimpin dan anggota.
Selain dari cara seorang pemimpin memposisikan diri, wibawa juga terbentuk dari keteladanan. Keteladanan dapat dilihat dari kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin. Lalu, apakah yang paling penting dalam membangun keteladanan?
Menurut Iyaz, hal yang paling penting dimiliki seorang pemimpin adalah profesionalitas dan kredibilitas. Dua pondasi itu harus dijadikan pegangan. Karena kalau dua pilar itu tidak ada, maka pemimpin akan mudah goyah dengan dinamika yang ada dalam organisasi.
Profesionalitas diperlukan untuk menghadapi dilema organisasi. Sedangkan kredibilitas dibangun dengan keteladanan dan profesionalitas yang konsisten. Keteladanan dan sikap-sikap yang diambil pemimpin akan membangun kepercayaan anggota. Persepsi itu akan hadir sendiri tanpa harus diminta.
Untuk melakukan konsistensi dan integritas mungkin adalah salah satu hal yang berat yang dilakuin oleh semua orang yang mungkin berkecimpung di dunia organisasi atau komunitas.
“Karena konsistensi itu kan, konsistensi adalah kunci gitu kan. Ya kan? Karena emang itu, mau ketua, mau anggota, ya konsisten ini kuncinya gitu,” jelas Iyaz kembali.
Bagi Iyaz, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang memahami posisinya ketika berada dalam organisasi, menghargai anggota-anggotanya, dan membuat mereka merasa dilibatkan.
Pengalaman Iyaz memimpin beberapa organisasi dan kepanitiaan turut membentuk kewibawaanya. Ia mengaku lebih suka dibalik layar, memberikan kontribusinya dalam membentuk keputusan-keputusan di belakang.
Putri, salah satu anggota HMPS KPI menilai kepemimpinan Iyaz sebagai perpaduan yang ideal, santai tapi serius, tidak kaku. Ia mencontoh keteladanan dari Iyaz terutama kemampuannya dalam mengelola emosi.
“Dia bisa tetap teguh pendiriannya dengan mengimbangi pernyataan atau pertanyaan yang kita berikan kepadanya untuk mengatasi sesuatu. Dan cara meresponnya benar-benar terbuka,” ungkap Putri.
Pada akhirnya, seseorang disegani karena dia punya sesuatu yang dipertanggung jawabkan. Semakin besar orang terlihat, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Dari cermin kepemimpinan Iyaz, dapat diambil pelajaran bahwa kewibawaan itu terbentuk karena adanya keteladanan yang hadir dari porfesionalitas dan kredibilitas. Wibawa yang tidak membuat takut, tapi membuat anggota-anggotanya merasa aman dan hormat.
Pemimpin sejati adalah pemimpin yang menjadi cahaya, yang mampu menuntun dan menerangi anggotanya. Semua orang dapat merasakan wibawanya, baik melalui pembawaanya, tutur katanya, kharismanya, dan auranya tanpa perlu diminta.
Penulis: Siti Fatimah
- Sebuah Puisi di Hari Ibu : Rembulan pun Malu jika Disandingkan Denganmu - 23 Desember 2025
- Laki-laki Feminis: Normal atau Bentuk Penyimpangan Kodrat? - 27 November 2025
- Keteladanan di Balik Wibawa: Sosok Ketua HMPS KPI yang disegani - 24 November 2025