Gunungkidul – Kelompok Jemaah Aolia di wilayah Panggang, Gunungkidul, yang sebelumnya sempat menjadi sorotan karena perbedaan penentuan hari besar keagamaan, menyatakan sementara mengikuti penetapan resmi dari pemerintah, namun masih menunggu pengumuman resmi dari Mbah Benu.
Informasi tersebut di dapat dari keterangan salah satu jamaah setempat saat ditemui di sekitar lokasi, Rabu (11/02/26). Jemaah tersebut menyebutkan bahwa dalam momen penentuan satu Ramadhan nanti akan melaksanakan puasa dan hari raya bersamaan dengan Masyarakat pada umumnya.
“Nek sekarang itu kami sudah ngikut ke pemerintah, sesuai arahan mbah yai. Jadi sejak tahun kemarin kami sudah nderek pemerintah”. Ujar Samiyem sebagai salah satu Jemaah Aolia.
Namun demikian, pihak kelurahan Giriharjo menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada kepastian resmi terkait Keputusan akhir jamaah Aolia dalam menentukan awal Ramadhan yang akan tiba.
Perwakilan kelurahan Giriharjo, Rosi, yang juga merupakan anggota Jemaah Aolia menjelaskan bahwa biasanya kepastian penentuan awal puasa akan diumumkan pada malam sebelum hari pertama Ramadhan.
“Biasanya itu ditetapkannya besok puasa atau tidak itu malamnya, itu saja habis isya. Jadi kalau di masehi itu tanggal 18, kalau kita itu bisa sama, bisa beda. Untuk penentuannya biasanya kan setelah isya itu ada yang masih di masjid, mungkin yasinan atau nderes biasa. Kan nanti pulang bawa kabar to mbak, sesok poso! sesok badha!, ngonten”. Ungkap Rosi sebagai perwakilan pihak kelurahan yang juga merupakan salah satu Jemaah Aolia.
Ia menambahkan bahwa perbedaan penetuan hari ibadah di wilayah tersebut bukan hal baru dan masyarakat selama ini sudah terbiasa dan saling menhormati perbedaan tersebut.
Menurutnya, kerukunan warga sekitar tetap terjaga dan berjalan secara harmonis, meskipun terdapat perbedaan dalam praktik ibadah. Ia juga menilai pemberitaan di media sosial kerap menimbulkan Kesan seolah terjadi ketegangan ditengah Masyarakat. Padahal, kehidupan Masyarakat tetap berjalan seperti biasa.
“Masyarakat disini sudah saling memahami kok mba, untuk konflik karena perbedaan itu tidak ada. Kalau di media sosial itu beritanya seperti dilebih-lebihkan. Padahal yo Masyarakat sini rukun-rukun saja”. Tuturnya.
Sementara itu, seorang takmir masjid besar YMP Jenderal Soedirman, Supriyatno, yang berafiliasi dengan Muhammadiyah menilai bahwa perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan merupakan bagian dari dinamika pemahaman keagamaan di Tengah Masyarakat.
Ia menyebut bahwa selama perbedaan tersebut tidak menimbulkan gangguan sosial, Masyarakat cemderung dapat menerima dan menjaga kerukunan.
“Di sini warga sudah saling memahami dan memaklumi perbedaan. Kalau masjid sini kan ikut Muhammadiyah, tapi kita tidak berpandang yang ikut masjid ini harus anggota muhammadiyah. Silahkan yang mau ikut mbah benu atau sini”. Jelas Supriyatno.
Dengan demikian, penetapan awal Ramadhan di kalangan Jemaah Aolia masih menunggu pengumuman resmi dari Mbah Benu yang biasanya disampaikan pada malam menjelang puasa. Meski dalam beberapa tahun terakhir cenderung mengikuti keputusan pemerintah, kepastian tetap ditentukan melalui mekanisme internal jamaah.
Di tengah dinamika tersebut, masyarakat Panggang memilih untuk tetap menjaga kerukunan sembari menantikan keputusan awal Ramadhan yang akan diumumkan menjelang hari pelaksanaan ibadah.
Reporter Mifta Khoirunnisa