crossorigin="anonymous">

Gender dan Tren Konsumsi Mahasiswa di Kafe Sekitar Kampus dalam Dinamika Sosial

Kalijaga.co – Kalau ngomongin kafe di sekitar kampus, rasanya tidak pernah sepi dari mahasiswa. Setiap hari dari pagi sampai malam, selalu ada saja yang datang, entah buat nugas, meeting kelompok, atau sekadar nongkrong santai.

Tapi yang sering luput disadari, cara mahasiswa menikmati kafe itu ternyata berbeda. Dapat dilihat bahwa gender memainkan peran yang signifikan dalam membentuk pola tersebut.

Melihat para mahasiswa yang sering pindah dari satu kafe ke kafe lain, terlihat adanya “kebiasaan tidak tertulis” yang sering muncul. Banyak mahasiswi yang lebih selektif soal memilih tempat. Bukan hanya tentang harga atau rasa, tetapi juga tentang suasana. Harus nyaman, menarik, dan mungkin memiliki tempat foto yang estetik.

Sementara itu, mahasiswa tampaknya lebih santai. Bagi mereka yang terpenting adalah adanya tempat duduk, colokan, dan kopi. Itu sudah cukup tentunya.

Hal ini bukan sekadar kebetulan. Ada konstruksi sosial yang tanpa sadar membentuk cara kita melihat dan memilih sesuatu. Perempuan seringkali “dibiasakan” untuk memperhatikan detail, estetika, dan tampilan.

Karena itu, wajar jika banyak mahasiswi yang menjadikan kafe bukan cuma tempat makan atau minum, tapi juga ruang untuk mengekspresikan diri. Bahkan, kadang pilihan kafe bisa jadi bagian dari personal branding, apalagi di era media sosial saat ini.

Di sisi lain, laki-laki sering diasosiasikan dengan hal-hal yang lebih praktis dan fungsional. Itu juga berdampak pada kebiasaan nongkrong mereka. Tampilannya tidak terlalu kompleks, yang penting adalah ketercapaian tujuan.

Namun, pembagian seperti ini juga mulai sedikit berubah. Banyak mahasiswa yang sekarang peduli dengan estetika tempat, membawa budaya “kalcer” ala Gen Z bahkan lebih dari sebagian mahasiswi.

Kalau ngomongin soal menu, perbedaan ini juga cukup kelihatan. Banyak mahasiswi yang tertarik dengan minuman atau makanan yang tampilannya menarik, warna cantik, plating rapi, dan “fotoable”.

Sementara mahasiswa cenderung memilih yang simpel dan familiar. Namun, penting untuk tidak terjebak dengan stereotip. Karena pada kenyataannya, pilihan konsumsi itu juga dipengaruhi oleh selera pribadi, bukan hanya gender.

Hal menarik lainnya adalah soal durasi nongkrong. Sering terlihat mahasiswi bisa berjam-jam di kafe, bahkan dari siang sampai malam. Melakukan banyak hal sekaligus, seperti nugas, ngobrol, bikin konten, atau sekadar menikmati suasana.

 Sementara itu, beberapa mahasiswa laki-laki lebih cepat datang dan pergi. Pola ini terlihat, meskipun tidak di semua orang.

Fenomena ini berkaitan dengan cara mahasiswa memahami ruang dan waktu. Bagi sebagian mahasiswa, kafe bukan hanya tempat singgah, tetapi juga “ruang aman” untuk istirahat dari rutinitas. Ada rasa nyaman yang dicari, bukan sekadar fungsi.

Sedangkan bagi sebagian lain dari mahasiswa, kafe lebih dilihat sebagai tempat untuk menyelesaikan tugas Work From Cafe.

Namun di balik semua itu, muncul pertanyaan, apakah pola konsumsi ini sepenuhnya merupakan pilihan pribadi? Atau sebenarnya ada tekanan sosial yang ikut bermain?

Misalnya, ketika perempuan merasa “harus” tampil rapi dan estetik saat nongkrong, atau ketika laki-laki merasa “nggak perlu” terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu. Tanpa sadar, kita jadi mengikuti ekspektasi yang sudah terbentuk di masyarakat.

Hal ini penting untuk disadari, Konsumsi bukan ajang pembuktian diri, tetapi seharusnya menjadi ruang kebebasan. Tidak ada yang salah dengan memilih kafe estetik atau sekadar tempat sederhana.

Tidak juga salah ingin berfoto atau justru cuek dengan hal itu. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang merasa harus mengikuti pola tertentu hanya karena identitas gendernya.

Selain itu, faktor ekonomi juga harus dipertimbangkan dalam pembahasaan ini. Mahasiswa punya keterbatasan finansial, tapi tetap ingin punya pengalaman sosial yang “layak”.

Di sini, dilema antara kebutuhan dan keinginan kadang-kadang muncul. Beberapa mahasiswi mungkin rela mengeluarkan uang lebih untuk suasana yang nyaman dan estetik, sementara sebagian mahasiswa lebih memilih berhemat. Namun, hal ini bukan soal benar atau salah, melainkan soal prioritas masing-masing individu.

Area kafe di sekitar kampus dapat dilihat sebagai ruang kecil yang merepresentasikan kehidupan sosial mahasiswa secara lebih luas. Di sana, terlihat bagaimana identitas dibentuk, bagaimana relasi terjalin, dan bagaimana konsumsi menjadi bagian dari cara individu “bercerita” tentang dirinya. Gender memang memiliki pengaruh, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu.

Pada akhirnya, fenomena ini perlu dilihat secara santai namun tetap kritis. Mahasiswa bebas menikmati nongkrong di kafe dengan cara masing-masing, tetapi juga perlu menyadari bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi pilihan tersebut. Dengan begitu mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga individu yang memahami alasan di balik setiap pilihan yang diambil.

Ketika suatu waktu duduk di kafe sambil menikmati kopi, ada baiknya melakukan refleksi sederhana. Apakah tempat tersebut dipilih karena benar-benar disukai, atau karena adanya dorongan untuk terlihat sesuai dengan ekspektasi sosial?

Kesadaran seperti ini akan membantu individu menjadi lebih jujur terhadap diri sendiri, dan itu jauh lebih penting daripada sekadar terlihat menarik di mata orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *