Kalijaga.co – Penurunan aspek ekonomi akibat pandemi Covid-19 dirasakan oleh semua sektor usaha. Museum sebagai salah satu sektor juga turut terkena dampaknya. Salah satu museum yang terdampak pandemi Covid-19 adalah Museum Affandi. Kala itu, museum ini bahkan harus ditutup secara total.
“Dulu sebelum Corona, ramai,” ujar Dedi Sutama, pengelola museum Affandi.
Museum Affandi adalah museum yang menyimpan berbagai macam lukisan karya salah satu maestro kenamaan Indonesia, Affandi. Museum itu dirancang langsung oleh sang maestro dan berdiri di bantaran Sungai Gajah Wong, bertepatan di seberang UIN Sunan Kalijaga.
Setelah tutup total selama pandemi, kini museum itu sudah beroperasi kembali. Namun, tidak semuanya berjalan seperti sebelumnya. Agar dapat bertahan, mencari pemasukan merupakan hal yang harus dilakukan.
Dedi mengatakan bahwa pemasukan utama bagi museum saat ini hanya melalui penjualan tiket. Harga tiket masuk dibagi menjadi empat kategori. 25.000 untuk pelajar/mahasiswa domestik, 50.000 untuk domestik umum, 50.000 untuk pelajar asing dan 100.000 untuk wisatawan asing.
Sejak awal peresmiannya pada 1974, Dedi menjelaskan, pengunjung museum Affandi tidak dikenakan biaya berkunjung ke museum. Berdirinya museum ini juga merupakan impian Affandi yang ingin orang lain menikmati karyanya secara gratis.
Barulah pada 1983, museum ini mulai mengenakan tarif bagi pengunjung. Penetapan tarif itu dikarekanan museum mulai kerepotan dalam mengelola biaya operasional. Meski demikian, saat itu tiket masuk dibanderol hanya dengan harga 1.500-3.000 rupiah. Bahkan untuk pelajar hanya dengan 750 rupiah saja.
“Kalau kita gak gini gimana bayar karyawan 15. Lama-lama ya habis uangnya kalau gak ada pemasukan,” kata Dedi, orang yang telah bekerja di museum Affandi sejak 1970 itu.
Menurut Dedi, sebelumnya museum punya sumber uang lagi sebagai modal pengelolaan, yaitu peninggalan Affandi dari uang hasil penjualan lukisan. Selain itu, ada mekanisme pemasukan lain seperti penyewaan galeri untuk pameran dan penyewaan lukisan karya Affandi.
“Nah itu ada lukisan yang baru datang dari Belanda,” ujar Dedi sembari menunjuk salah satu lukisan Affandi di galeri satu. Lukisan itu baru kembali setelah enam bulan dibawa ke Belanda. Adapun fee dari peminjaman tersebut sekitar 100 juta per lukisan.
Kini penjualan lukisan karya Affandi tidak lagi dilakukan. Museum mencoba untuk melestarikan karya Affandi dengan mempertahankan lukisan-lukisan yang ada. “Syukur-syukur kalau ada bantuan dari Indonesia atau Eropa, kalau ada lukisan Affandi dibeli untuk nambah koleksi lagi, dikembalikan lagi ke sini,” ucapnya berharap karya Affandi kembali ke tampatnya berasal.
Selain itu pemasukan lain juga didapatkan dari cek keabsahan lukisan Affandi. Cek keabsahan ini, jelas Dedi, dilakukan oleh seorang kolektor atau pemilik lukisan yang ingin mengecek lukisan miliknya tersebut merupakan karya Affandi asli atau bukan.
“Misal dari Bandung dia bawa dua lukisan, nanti kena charge. Satu lukisan yang dicek keabsahannya dikenakan 15 juta, kalau dua berarti 30 juta,” ucap Dedi.
Jika terbukti lukisan itu asli karya Affandi, maka uang charge tadi tidak kembali. Selanjutnya, pihak yang telah melakukan cek keabsahan lukisan itu akan diberikan sertifikan dengan dikenai biaya 100 juta per lukisan. Menurut Dedi, bahkan hampir setiap hari ada pihak yang melakukan cek keabsahan lukisan di Museum Affandi ini.
“Bahkan tadi ada dari Jakarta mengecek lukisan,” katanya.
Sebagai museum koleksi karya maestro yang dikenal hingga kancah internasional, Dedi menyebutkan museum yang mereka kelola tidak mendapatkan dana tunai dari pemerintah. Sebab, museum ini memang bukan museum yang secara langsung dikelola oleh pemerintah.
“Kita dulu mengajukan proposal, ada kerusakan apa gitu ke pemerintah,” ungkapnya.
Meski demikian, Dedi menjelaskan, proposal yang diajukan tidak langsung membuahkan hasil. Baru setelah beberapa tahun, bantuan dari pemerintah turun. Itu pun bantuannya tidak berbentuk uang, melainkan barang atau fasilitas museum yang perlu diperbaiki.
“Dulu dananya satu milyar untuk cat, spot-spot, CCTV, dan AC,” katanya.
Pemasukan vs Biaya Operasional
Sebagai pemasukan utama, penjualan tiket tidak mencukupi untuk menutup seluruh biaya operasional. Bahkan, menurut Dedi, sepertinya saat ini jika hanya mengandalkan pemasukan dari tiket saja masih minus. Ia menerangkan bahwa cukup tidaknya penjualan tiket untuk menutupi biaya operasional tergantung pada kuantitas tamu.
“Kalau tamunya banyak ya banyak dapatnya. Kadang kalau sepi, sehari bisa 2 hingga 5 pengunjung. Rata-rata masih minus,” lanjutnya.
Maka, jika penjualan tiket tidak dapat menutupi biaya operasional, barulah uang dari sewa lukisan, uji keabsahan hingga peninggalan Affandi dapat digunakan. Meski demikian, Dedi juga berharap setelah ini kuantitas pengunjung bisa naik kembali.
Seperti halnya pemasukan, pengeluaran pun turut berubah seiring berjalannya waktu. Dedi menceritakan bahwa sebelumnya penerangan museum mereka bersumber dari energi surya. Sayangnya, sinar matahari yang langsung masuk dari atas atap tersebut menyebabkan pudarnya cat lukisan. Oleh sebab itu, kini penerangan diganti dengan lampu neon yang otomatis meningkatkan biaya operasional.
Selain itu, galeri juga harus menggunakan AC agar suhu ruangan tetap stabil. Dedi mengatakan bahwa pengelola selalu mengecek dan mengatur suhu ruang tiap jam. Dengan begitu cat yang menonjol tidak tumpah dan lukisan tetap terjaga.
Secara keseluruhan, menurut Dedi, listriklah yang paling banyak menguras dana museum.
“Listrik bisa sampai 5.700.000 per bulan. Belum lagi telepon dan internet. Ya kurang lebih 10 juta per bulan,” ungkapnya.
Menurut Dedi, saat ini pengelola harus memutar otak agar pemasukan dari pengunjung bisa meningkat. Dedi menyebutkan bahwa saat ini pihak pengelola tengah mempersiapkan upaya untuk mengatasi permasalahan tersbeut.
Mereka berencana untuk membuat event-event di museum seperti workshop cara memperbaiki lukisan. Selain itu, mereka juga berencana untuk mengadakan kembali event yang sempat terhenti akibat pandemi yaitu kegiatan melukis untuk anak TK dan SD.
“Itu biasanya sekitar 40-an anak, kan lumayan,” ucap Dedi yang berharap museum Affandi dapat kembali ramai.
Reporter: Wimbi Nur | Redaktur: Aji Bintang Nusantara
- Jalanan Jogja : Saksi Bertahan Hidup Keluarga - 24 Mei 2024
- Culture Shock Mahasiswa Luar Pulau Jawa di Yogyakarta - 28 November 2023
- 5 Fakta Menarik Tanaman Anggrek di Taman Dakwah UIN Sunan Kalijaga - 15 November 2023