Kalijaga.co – Iseng yang berubah menjadi usaha dan usaha yang berubah jadi pelajaran. Tentang waktu, tanggung jawab, dan keberanian untuk tidak berhenti.
Seila Heimala, seorang mahasiswa yang tidak punya cerita dramatis tentang bagaimana ia mulai berjualan. Tidak ada momen besar dan tidak ada keputusan yang direnungkan berhari-hari. Berawal dari iseng, karena uang jajannya tidak pernah terasa cukup. Hingga iseng itu akhirnya punya alasan untuk dilanjutkan.
Dari dapur rumahnya, ia mulai memproduksi sendiri apa yang ia jual, kue, dessert, rice bowl, dan berbagai makanan lain yang berganti-ganti sesuai pesanan. Tidak ada gerai, tidak ada etalase. Semua dibuat di rumah dan dikirim langsung ke pembeli. Modalnya tidak besar, prosesnya tidak rumit di atas kertas. Tapi ketika kuliah sudah mulai masuk, semuanya menjadi jauh lebih kompleks dari yang terlihat.
Hari itu Seila mendapatkan jadwal kelas pagi, tugasnya tidak pernah benar-benar habis, dan jadwal praktikum bisa berubah sewaktu-waktu. Di atas semua itu, ada pesanan yang harus disiapkan, makanan yang tidak boleh terbengkalai, dan pelanggan yang menunggu kabar.
Tantangan terbesar Seila bukan modal, bukan juga sepi pembeli. Tantangan yang menguras tenaga Seila adalah waktu.
“Yang paling susah itu waktu. Karena banyak tugas dan kelas pagi. Selama waktu kelas itu aku harus pintar biar makanannya nggak terbengkalai atau disemutin sampai waktu istirahat datang,” ungkap Seila.
Membayangkan situasi yang dihadapi Seila memang rumit. Makanan sudah disiapkan sebelum berangkat kuliah, namun kelas belum juga selesai. Makanan itu menunggu, begitupun Seila. Ia menunggu sambil tetap duduk di ruang kelas dan mencatat. Ada saat di mana ia harus benar-benar pandai membagi perhatian antara dosen yang sedang menjelaskan di depan dan pesanan yang masih perlu diurus begitu bel istirahat berbunyi.
Situasi seperti ini bukan sekali dua kali terjadi. Kuliah dan usaha yang ia jalani sering bertabrakan dan tidak selalu ada solusi yang bersih. Kadang tugasnya yang tertunda atau kadang pesanannya yang molor. Keduanya sama-sama punya konsekuensi dan Seila harus belajar menanggung keduanya.
Dengan kondisi tersebut alih-alih memilih salah satu, Seila mencari jalan lain. Ia mengajak kakaknya masuk ke dalam usaha ini. Mereka bekerja sama. Kakaknya menjadi sandaran ketika jadwal Seila sedang padat. Kakaknya adalah pengaman ketika ada pesanan yang tidak bisa ia tangani sendirian.
“Makanya itu aku minta tolong sama kakakku, jadinya kita kerja sama,” tambahnya.
Sederhana, tapi justru dari situlah usaha ini bisa bertahan lebih lama dari yang ia bayangkan di awal. Apa yang mulanya ia pikul sendiri, kini dibagi dua.
“Terkadang manajemen waktuku kurang bagus dan malah sedikit mengganggu kuliah. Aku sempat mikir, coba berhenti dulukah?” kata Seila.
Pikiran untuk berhenti itu datang bukan dari keputusasaan, tapi dari kelelahan yang menumpuk perlahan. Seila tidak pernah sampai pada titik menyerah sepenuhnya tapi ia jujur bahwa ada momen-momen ketika ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah semua ini sebanding.
Pertanyaan itu akhirnya terjawab dengan caranya sendiri. Semester ini ketika jadwal praktikum makin padat dan ruang yang tersisa makin sempit, Seila memilih berhenti sementara. Ia berhenti bukan karena menyerah, namun ia sedang menepi sejenak, mengambil napas sebelum kembali ke jalan yang sama.
Yang membuatnya bisa sampai sejauh ini salah satunya adalah dukungan keluarga. Tidak ada yang mempersoalkan pilihannya. Tidak ada tekanan untuk berhenti, tidak ada keraguan yang disuarakan. Keluarganya mendukung bahkan terkait modal awal. Hal kecil yang ternyata memberi ruang yang cukup besar untuk bergerak.
Dari semua yang sudah dilaluinya, ada satu hal yang paling membekas bagi Seila. Ia belajar mengatur waktu dengan cara yang tidak pernah diajarkan di kelas mana pun. Bukan dari teori manajemen, bukan dari teks di buku yang ia miliki. Tapi dari pengalaman nyata yang dijalani, dari kesalahan yang sudah terlanjur terjadi, dari pesanan yang pernah terbengkalai dan tugas yang pernah dikerjakan tergesa-gesa. Kuliah mengajarinya teori. Usaha mengajarinya berproses.
Lalu bagaimana kelanjutan usaha yang akan ia jalani setelah lulus? Tentu Seila tidak ragu dan menyatakan akan melanjutkan usaha tersebut.
“Sepertinya akan berlanjut. Lagi pula ada kakak saya juga menemani,” pungkas Seila.
Iseng yang dulu dimulai sendirian, kini sudah punya teman seperjalanan. Dan jalan yang sempat terhenti sebentar, tampaknya masih jauh dari selesai.
Penulis: Syahra Banun
- Menjadi “Ummatan Wasathan” di Era Penuh Konflik Sosial dan Politik - 19 April 2026
- Pulang ke Rumah: Merajut Kembali Ikatan Lewat Tradisi dan Hidangan - 18 April 2026
- Menimbang Isu Gender di Tengah Nilai Agama dan Realitas Sosial - 18 April 2026