crossorigin="anonymous">

Bukan Tak Rindu, Ini Alasan Perantau Tetap Bertahan di Yogyakarta Saat Idul Fitri

Kalijaga.co – Yogyakarta, di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang memadati stasiun dan terminal, ribuan perantau justru memilih untuk tetap bertahan di perantauan. Fenomena ini memotret sisi lain dari perayaan Idul Fitri yang biasanya identik dengan kepulangan ke kampung halaman.

Suasana sepi mulai menyelimuti sudut-sudut kota seiring keberangkatan pemudik. Namun, bagi sebagian orang seperti Syamraini, seorang mahasiswi Magister Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Lebaran tahun ini tidak dirayakan di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan kampung halamannya, melainkan di Yogyakarta. Keputusan untuk tidak pulang kampung diambil dengan berbagai pertimbangan, mulai dari tuntutan perkuliahan hingga kondisi ekonomi.

“Alasan utama saya karena sebentar lagi akan wisuda dan orangtua saya akan datang, tentunya menjadi pertimbangan untuk pulang karena akan mengeluarkan banyak biaya lagi,” ujar Syamrani saat ditemui di tempatnya bekerja part time, Senin (16/03).

Lebih lanjut, Syamrani mengungkapkan bahwa tahun ini adalah tahun terakhirnya menempuh pendidikan di Jogja, hingga tidak ingin melewatkan waktu untuk mengeksplore sudut-sudut kota Jogja sebelum benar-benar meninggalkan kota istimewa ini.

“Bulan lima ini saya wisuda, jadi mau tidak mau harus meninggalkan Jogja dan kembali mengabdi di kampung halaman saya”, ujarnya.

Menurut data survei Kementerian Perhubungan, jumlah kedatangan pemudik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Lebaran tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 8,2 juta orang, jumlah yang semakin meningkat dari tahun sebelumnya, sehingga tidak heran jika sebagian perantau memilih menetap dan menikmati Jogja sebelum kembali ke daerahnya.

Lebaran tahun ini adalah tahun ketiga Syamrani melaksanakan idul fitri jauh dari sanak keluarga, alasan utamanya adalah kesibukan mengurus kuliah diselingi bekerja part time di tempat usaha yang tak jauh dari area kampus UIN Sunan Kalijaga.

“Rindu itu pasti ada, apalagi mengingat tradisi yang selalu keluarga kami jalani, yaitu berkumpul satu keluarga besar setelah salat idul fitri dan bercanda bersama,” ungkap Syamrani.

Meski tidak pulang, para perantau seperti Syamrani ini tetap menjaga tradisi dengan cara yang berbeda, lebaran kali ini Syamrani akan ikut berkumpul  ikatan keluarga mahasiswa asal daerahnya dan memasak makanan khas daerah Bugis, Sulawesi Selatan. 

Pemanfaatan teknologi seperti video call menjadi penyelamat untuk tetap bisa bersilaturahmi dengan keluarga besar tanpa harus hadir secara fisik, walaupun sempat diminta untuk lebaran di kampung tahun ini.

Mama sempat nelpon, nanyain kenapa lebaran tahun ini nggak balik”, pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *