Kalijaga.co – (16/11/2025) Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah, yang sekarang lebih dikenal sebagai Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), berada di Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lembaga ini didirikan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah sejak 1987 dan hadir demi menaungi anak-anak dari berbagai latar belakang yang membutuhkan perhatian dan pengasuhan, memberikan fasilitas pendidikan,Serta menjaga hubungan baik dengan masyarakat.
Di bawah naungan Lembaga Muhammadiyah, dengan semangat Teologi Al-Ma’un, LKSA memiliki tujuan mulia seperti menyantuni anak yatim dan membantu fakir miskin. Selain menerima anak-anak yang membutuhkan kasih sayang keluarga.
Suherman (50) selaku pengurus panti menjelaskan bahwa panti juga menerima anak-anak warga lokal yang mau dititipkan ke panti untuk dididik dalam bidang keagamaan dengan status Anak Asuh Keluarga. Anak-anak tersebut tetap tinggal bersama keluarga, tetapi dititipkan untuk belajar di panti. Setiap bulannya, mereka didukung pendidikannya dan keperluannya oleh Yayasan.
“Responnya bagus mas, karena kan ada yang sekitar juga yang dimasukan disini tetapi statusnya anak asuh, anak asuh keluarga, anak asuh keluarga itu anaknya gak tinggal disini tapi anaknya ikut orang tuanya, jadi nanti setiap bulan kita mensupport pendidikannya, kebutuhannya, yang kebanyakan masyarakat-masyarakat yang terdekat,” ujar Suherman salah seorang pengurus panti.
Hal ini membuat hubungan panti dengan masyarakat sekitar akur dan harmonis, di mana masyarakat akan mengundang pihak panti dalam setiap acara atau perkumpulan. Selain menyekolahkan anak panti ke sekolah umum dan program pembelajaran malam oleh pihak panti, Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah juga menerima relawan dari luar untuk memberikan sosialisasi bagi anak-anak panti. Tujuannya adalah agar anak-anak memiliki beragam pengetahuan serta pembekalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kolaborasi dari luar, pelatihan-pelatihan kepada anak, mungkin kesehatan dari rumah sakit, keamanan dari polsek,” ujar Suherman
Menurut Suherman salah satu tantangan dalam mengurus panti adalah latar belakang anak-anak yang berbeda-beda. Ia juga menjelaskan bagaimana mengatasi anak-anak yang kurang disiplin tersebut. Adanya kekhawatiran apabila anak yang disiplin dan yang kurang disiplin tersebut bercampur, maka akan terjadi perundungan atau penurunan sifat buruk ke anak-anak yang disiplin.
“Kamarnya di pisah kan ada delapan sampai sembilan kamar, nanti anak-anak ini dijadiin satu, biar yang tidak ikut ikutan,” jelasnya.
Anak-anak yang keluar atau tidak melanjutkan di panti tersebut umumnya terdiri dari anak-anak yang kurang disiplin, atau yang masih terlalu nyaman dengan rumah, yang Suherman sebut sebagai “seleksi alam”.
Demi menjaga kebugaran anak-anak panti serta mendorong kemandirian pangan, panti memiliki fasilitas berupa kebun, lapangan voli, dan kolam ikan. Program kerja bakti mingguan, dan piket harian, serta jadwal rutin setiap hari. Reza selaku anak panti menjelaskan kegiatannya sehari-hari.
“Kalau bangun subuh terus shalat, habis subuh ada ngaji, halaqah habis ngaji nanti ada piket, pagi itu udah dibagi kelompoknya sama jadwal piketnya, terus habis itu persiapan buat sekolah, jam enam udah bisa makan setelah itu ya sekolah,” jelas Reza.
Selanjutnya Yusuf salah seorang anak panti yang sekarang sedang mengabdi menjelaskan setiap selasa anak panti melakukan ekstrakulikuler silat tapak suci. Yusuf juga menekankan bahwa anak panti saling menghormati serta saling jaga antar anak sesama panti.
Reporter Muhammad Haikal H Sihotang