Kalijaga.co – Kisah perempuan dengan pendidikannya yang masih belum usai, menjadi sebuah perjalanan panjang yang lahir untuk dikaji. Meski kesempatan belajar bagi perempuan sudah terbuka luas, jejak budaya patriarki masih kerap menahan langkah perempuan untuk benar-benar berdiri sejajar.
Pendidikan dan menuntut ilmu bagi perempuan bukan sekedar kewajiban, atau tentang bagaimana menjadi ibu yang cerdas. Namun, sejatinya hal tersebut menjadi cara paling indah untuk menyalakan cahaya bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas.
Maka kala itu, pada Senin pagi (06/10) di antara tembok-tembok kokoh kampus, di sebuah ruang kelas yang tenang, tepatnya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, suara lembut namun terkesan tegas terdengar dari Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag., M.Si., Ph.D. atau yang biasa disapa Prof. Alim. Sosok Dosen yang dikenal tegas dan aktif dalam memperjuangkan isu kesetaraan gender .
“Tidak semua perempuan yang berpendidikan itu beruntung di dalam sistem keluarga dan masyarakat yang ada.” Ujar Prof. Alim.
Satu per satu pertanyaan mulai diajukan kala itu, beliau menjawab dengan penuh ketenangan. Nada suara yang lembut, tapi sarat akan keyakinan, seolah setiap kata yang terucap membawa pesan kuat tentang arti kesetaraan dan pendidikan bagi perempuan.
“Perempuan itu ketika dia berpendidikan maka sama dengan laki-laki. Sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah (yarfa‘illâhulladzîna âmanû mingkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât, wallâhu bimâ ta‘malûna khabîr) bahwa orang yang berilmu dan mengamalkannya itu akan diangkat derajatnya oleh Allah. Saya percaya akan hal itu, dari pada kemudian memberikan uang pada keluarga ataupun masyarakat yang masih mencibir kualitas pendidikan perempuan,” ungkap Prof. Alimatul Qibtiyah.
Bagi beliau ilmu dan dakwah ibarat cahaya yang berpadu menerangi langkah perempuan guna memahami makna dirinya ditengah masyarakat. Beliau juga berpendapat bahwa para mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi dapat menggunakan ceramah, tulisan, serta video-video atau konten kreatif menjadi sebuah akses pendukung dalam mengentaskan pandangan kurang terhadap perempuan dan pendidikannya. Dengan demikian, mahasiswa dapat menunjukkan bahwa perempuan juga dapat menjadi agen penggerak perubahan, tidak hanya sebagai pendamping di balik layar.
Dalam pandangannya, beliau melihat UIN Sunan Kalijaga sendiri telah menapaki jalan yang penuh dengan harapan, menghadirkan udara baru bagi dunia pendidikan tinggi. Di balik dinding-dinding ilmunya, tumbuh semangat untuk merangkul semua tanpa sekat, menjadikan kampus bukan hanya tempat menimba pengetahuan, tetapi juga ruang yang inklusif bagi setiap langkah dan suara, tanpa membedakan gender maupun peran.
“Dengan predikat isu gendernya yang sudah membudaya, saya pikir banyak dorongan untuk bagaimana laki-laki dan perempuan berkiprah secara maksimal dan setara di kampus ini,” ungkapnya.
Meski demikian, dalam isu politik beliau mengakui masih ada ketimpangan di level kepemimpinan tertinggi kampus.
“Misalnya menjadi rektor, sepertinya bukan hanya urusan kampus UIN ini. Tapi itu ada di dalam lingkungan Negara pemerintah politik kekuasaan, yang bisa jadi hanya gender tertentu yang diberikan prioritas untuk menduduki jabatan paling tinggi,” Lanjut beliau.
Pandangan beliau ini menunjukkan bahwa perjuangan kesetaraan belum sepenuhnya usai. Kemudian saat perbincangan menuju soal kesempatan antara laki-laki dan perempuan, sejenak dapat menautkan pada realitas yang tak sepenuhnya indah.
Pada beberapa kota, langkah perempuan mulai menapak mantap mendapat ruang yang dulu tampak jauh. Namun, disudut-sudut negeri yang lain masih terdapat tembok-tembok tak kasat mata yang membatasi. Tembok itu berbentuk keterbatasan ekonomi dan budaya lama. Tembok itu seringkali menyebut nama laki-laki terlebih dahulu apabila kesempatan untuk belajar hadir.
Maka jelaslah bahwa kesetaraan di bumi pertiwi belum sepenuhnya menyentuh akar. Masih banyak perempuan yang dalam sunyi mimpinya gugur bahkan belum sempat mekar. Namun, harus tetap percaya pada cahaya kecil yang tak pernah padam.
Beliau juga menyampaikan bahwa perubahan itu tidak bisa revolusioner, tapi bisa continuous improvement, sedikit demi sedikit.
Maka dari itu, sebuah suara dari perempuan muda saat ini tak luput untuk diperhitungkan. Rossita Nur Fadhilah, seorang Mahasiswa aktif UIN Sunan Kalijaga. Baginya keberanian perempuan untuk eksis tidak muncul begitu saja. Kesedaran akan potensi diri menjadi kunci utama. Menurut Rossita, banyaknya role model dan tentunya lingkungan yang suportif menjadi salah satu alasan perempuan aktif dalam berbagai organisasi maupun kegiatan lain.
Rossita melihat hadirnya perempuan-perempuan berprestasi di ruang publik sebagai cahaya, menyalakan lentera di hati generasi muda. Dari mereka, tumbuh keyakinan bahwa mimpi bukan lagi milik satu gender semata. Namun, dibalik gemerlap pencapaian itu, lingkungan tetap menjadi tanah tempat benih keyakinan bertumbuh.
“Kita perlu teman, sahabat, komunitas yang suportif. Tapi sayangnya, semesta nggak selalu memberikan lingkungan yang nyaman, apalagi kalau kita perempuan. Maka tanpa keberanian potensi kita nggak akan berarti apa-apa,” ungkapnya.
Dari sini bisa diambil kesimpulan akan pentingnya self value bagi setiap perempuan. Sebab nilai diri akan menjadi pijakan pertama yang membuat mereka mampu berdiri tegak di tengah arus kehidupan yang kadang tak ramah. Perempuan belajar tidak untuk sekedar bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi sosok yang mengenal arah tujuan dan tahu bahwa dirinya layak untuk diperjuangkan.
“Aku sendiri yakin, kesan pertama yang kita berikan akan selalu membawa kita, jadi dimanapun dan kapanpun kita memulai sesuatu, jangan pernah ragu. Know your value girls,” katanya penuh semangat.
Dalam pandangannya, Rossita melihat kampus kini mulai berbenah, membuka ruang bagi kesetaraan untuk lebih nyata, memberi tempat bagi suara perempuan untuk berdiri sejajar.
“Kampus juga sering menghadirkan seminar atau talk show tentang kesetaraan, banyak UKM atau komunitas yang juga membuka ruang konsultasi, diskusi, artinya baik dari dosen atau mahasiswa melek mata terhadap kesetaraan apapun, baik akademik maupun non akademik,” ucapnya dengan yakin.
Meski begitu, Rossita sadar jalan menuju kesetaraan masih panjang dan berliku. Ia tahu, perjuangan perempuan belum selesai hanya karena pintu-pintu kesempatan mulai terbuka. Sebab, masih ada tembok-tembok pemikiran lama yang perlahan harus diruntuhkan dengan suara, karya, serta keberanian.
“Masih ada oknum-oknum yang bilang pemimpin itu harus laki-laki, yang boleh bersinar cuma laki-laki. Menurutku orang-orang seperti itu ketawain aja. Mereka pikir kita gak bisa buat mereka melihat?,” ucapnya ringan tapi sarat makna.” ujar Rossita lagi.
Pada akhirnya, perjuangan perempuan di dunia pendidikan bukan sekedar tentang hak, tapi tentang keberanian untuk terus melangkah.
Penulis: Qisthiyatun Nafi’ah | Editor: Nayla Nur Hidayah
- Menjemput Teduh di Sore yang Kelabu - 15 April 2026
- Deretan Tempat di Sumenep yang Wajib Dikunjungi, Nomor 7 Jadi Satu-satunya di Jawa Timur - 26 Maret 2026
- Dari Bukber hingga Lupa Sahur: 5 Momen yang Pasti Dialami Saat Ramadan - 15 Maret 2026