crossorigin="anonymous">

Legowo di Tengah Lipatan Kain: Kisah Suharni di Pasar Kolombo

Kalijaga.co – Siapa sangka, ada sosok penjual pakaian punya niat tinggi walaupun memiliki dua anak telah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), satu dari anak pertama menjadi dosen, anak ke dua menjadi pegawai di kantor KUA Sleman, Yogyakarta.

Melihat dari label PNS saja sudah tercermin orang yang dikatakan lebih dari cukup, atau bahkan itu sesuatu ‘anugrah’ konon tafsir warga konoha (warga indonesia). Jadi, siapa sangka kejadian unik dibalik label penjual pakaian di pasar ini menjadi momen inspiratif yang tak mau kalah saing dari kompetitor penjual produk yang sama persis disebelahnya.

Pagi buta di tengah hiruk pikuk Pasar Kolombo, morning person merupakan hal biasa umumnya bagi para pedagang pasar.

Di salah satu sudut pasar, namanya Suharnti, warga asal Ceper Klaten, usia saat ini Lima puluh tahun, sebelum dirinya menjual baju di pasar, ia pernah bekerja di Garment Pekalongan selama dua puluh tahun. Ini merupakan segudang pengalaman terbilang sangat konsisten, apalagi saat itu masih membiayai anak-anak mereka yang sedang kuliah. Tentu biaya kuliah sangat mahal bukan?.

Soal penjualan pakaian, Suharni sendiri menjual beberapa pakaian diantaranya: Daster, celana pendek kolor, kaos anak-anak, hingga celana model jeans anak. Dan beragam juga harga pakaian yang Suharni jual, mulai dari harga Rp15.000 , Rp20.000 hingga Rp80.000, tergantung pakaian apa yang diinginkan customer saat membeli.

“Saya di sini berjualan enam hari, libur saya setiap hari senin. Selain itu, saya juga tidak punya usaha ini di pasar-pasar lain, jadi hanya mengandalkan jualan ini dari pendapatan yang saya jual dari baju-baju,” ujar Suharni sambil tersenyum.

Biasanya, Suharni membuka toko pada pukul 05:30 pagi sampai close order siang pukul 10:30.

Umumnya pedagang pasar tidak memiliki ekspektasi pendapatan besar. Untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, mereka sering kali harus mencukup-cukupkan penghasilan yang ada. Terlebih, masih ada biaya sewa lapak yang harus ditanggung setiap tahun.

“Biaya sewa lapak ini dalam setahun saya harus menanggung biaya sebesar lima juta. Namun ada juga biaya keamanan tiga ribu setiap hari yang wajib dibayar, tidak hanya saya tetapi semua lapak yang berjualan di sini juga ikut bayar dengan nominal yang sama,” katanya.

Lika liku setiap pedagang pasti ada, entah produk paling best seller, produk banyak tapi tidak laku, atau bahkan tidak menentu hari ini barang apa yang harus terjual.

Seorang penjual ketika menawarkan produknya, seminimal mungkin tidak mudah tergoyah oleh pembeli yang menawar harga di luar dugaan. Udah berjualan di pasar yang notabenenya hanya mengambil sedikit keuntungan, di tambah terkadang ada bapak-bapak/ibu-ibu menawarkan produk yang ingin dibeli dengan harga diluar dugaan. Hal tersebut memang sangat meresahkan.

“Saya berjualan bersama mantu saya. Nanti saya pulang, lalu bergantian dengan menantu saya dari saudara anak pertama. Ya mau gimana lagi ini sudah menjadi keseharian saya dalam rutinitas menjual pakaian,” lanjutnya sambil melipat baju.

Tak mau kalah saing dengan kompetitor di penjualan online seperti Shopee, TikTok dan platform lainnya, Suharni berpendapat jika berbelanja secara daring seringkali memiliki kendala. Misalnya ukuran pakaian tidak pas, pakaian tidak cocok sesuai request, dan bahkan bahan tidak sesuai pada gambar. “Makanya mending beli di pasar bisa menyesuaikan pakaian yang diinginkan saat membeli,” lanjutnya dengan nada santai.

Bagi Suharni, berdagang di pasar bukan sekadar mencari untung, tapi juga menjaga kebiasaan dan silaturahmi dengan para pelanggan setia. Setiap berdagang pastikan juga kita harus ramah kepada pelanggan, walaupun ujungnya menawar harga, tetapi yang Suharni ingin dapatkan adalah mempunyai pelanggan yang bisa menjadi langganan. Bagian ini memang salah satu trik agar para pedagang pasar tetap bertahan.

Berniaga modelan seperti ini memang mencakup kemandirian seseorang, jika kemauan saja tidak ada apalagi eksekusi. Nah sedangkan Suharni punya kemandirian langka yang orang jarang temui, bahkan kemungkinan ada itu sangat kecil. Ia terdidik sedari awal menikah telah menjadi independent woman yang mana sudah jarang bertemu dengan suami, lebih menyendihkan lagi ia selama 30 tahun belum pernah berjumpa sosok yang telah melahirkan dia. Sungguh sangat berat beban ia pikul sampai saat ini.

Semua proses, sabar, tawakal dan berdoa adalah suapan sehari-hari bagi Suharni. Karena dengan hal tersebut menurut ia bisa menjadi manusia yang “legowo” artinya bisa lebih bahagia saat menghadapi semua pekerjaan yang terselesaikan dengan penuh keikhlasan dan hati yang tulus, tanpa ada rasa mengeluh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *