Kalijaga.co-Di era pesatnya perkembangan digitalisasi, sosial media menjadi salah satu pilar utama bagi aktivitas sosial dan politik. Dedi Mulyadi merupakan salah satu tokoh yang kerap menjadi sorotan warganet, seorang politisi asal Jawa Barat yang menjabat sebagai Gubernur yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang khas, kedekatannya terhadap masyarakat kecil, dikenal sebagai politisi yang mau terjun ke lapangan, hingga beliau dikenal sebagai Gubernur konten karena keaktifannya dalam aktivitas media sosial yang sering ia unggah di berbagai platfrom, terutama Youtube, Instagram, dan Tiktok.
Namun dibalik semua dukungan yang ia dapatkan, dibalik itu Dedi Mulyadi juga tidak terlepas dari berbagai kritik dan ancaman yang dilontarkan terhadapnya. Hal ini menunjukan bahwa aktivisme media sosial menjadi hal yang kompleks dalam membetuk citra terhadap publik terutama seorang politisi.
Berbagai dukungan yang di lontarkan terhadap Dedi Mulyadi oleh masyarakat terutama di media sosial, hal ini menjadi sebuah apresiasi besar terhadap sorang publik figur. Tentunya dengan berbagai dukungan yang di lontarkan terhadap politisi Dedi Mulyadi ini menunjukan bahwa kepuasan yang tinggi bagi masyarakat terhadap kinerja Dedi Mulyadi sebagai gubernur.
Hasil survei indikator politik indonesia mencatat bahwa Dedi Mulyadi benar benar mendapatkan kepercayaan dari masyarakat yang luar biasa. Berdasarkan hasil survei tersebut, selama menjabat 100 hari tingkat kepuasan publik terhadap Dedi Mulyadi mencapai 94,7 persen, (12-19 mei-2025) menjadikannya sebagai gubernur daerah dengan apresiasi tertinggi di mata masyarakat. presentasi ini terdiri dari 41% yang sangat puas dan 54% yang cukup puas. Data ini diambil dari detik.com
Kedekatan Dedi Mulyadi terhadap masyarakat kecil tentunya menjadi salah satu contoh pemimpin yang ideal di masa kini, karenanya tak jarang setiap unggahan Dedi Mulyadi di media sosial mendapatkan komentar positif dan pujian dari warganet yang bahkan disambut hangan oleh netizen hingga melahirkan istilah “pejabat tanpa sekat”.
Namun di balik semua bentuk dukungan yang di terima oleh Dedi Mulyadi tidak selalu datang tanpa catatan. Dibalik apresiasi yang diberikan masyarakat, tak jarang ia mendapatkan berbagai kritik dari kalangan yang menanyakan motif dibalik aksi-aksi sosial tersebut. Bahkan tidak hanya dari kalangan masyarakat, Kritik dan ancaman datang juga dari beberapa kalangan elit. Beberapa pihak menuding bahwa tindakan dedi mulyadi lebih merupakan pencitraan ketimbang bentuk empati tulus. Mereka mempertanyakan ketika merekam setiap tindakan sosial dan menyebarkannya ke publik, seolah semua itu demi kepentingan diri sendiri agar membangun popularitas dibalik penderitaan rakyat.
Dedi Mulyadi adalah sosok seseorang yang rajin membuat konten kegiatannya sebagai pejabat publik. Hingga dedi mulyadi mendapat julukan sebagai gubernur konten oleh salah satu politisi Gubernur Rudy Mas`ud asal Kalimantan Timur, bersama dengan kementrian dalam negeri dan sejumlah kepala Daerah di gedung DPR, Jakarta, Selasa (29/04/2025). Dedi Mulyadi sendiri berdalih bahwa kebiasaannya membuat konten ini mampu mengurangi biaya iklan pemerintah, dari 50 miliar rupiah menjadi 3 miliar rupiah.
Aktivisme media sosial terhadap Dedi Mulyadi menunjukan bahwa dinamika hubungan antara pejabat publik dan masyarakat dalam lingkup digital. Media sosial menjadi ruang untuk mengapresiasi kinerja pejabat publik. Namun disisi lain, platfrom media sosial juga memberikan kebebasan untuk memberi ruang kritik,masukan, bahkan protes bagi masyarakat secara terbuka dengan cepat bahkan tanpa filter.
Fenomena ini juga membuka bagai mana kita mengetahui batas tentang etika dalam aktivisme media sosial. Apakah semua harus di dokumentasikan? Sejauh mana publik figur boleh mempublikasikan kebaikannya tanpa di anggap pamer? Tentunya ini adalah pertanyaan yang sulit untuk di jawab, karena menyangkut niat dan budaya digital yang terus berubah.
Dedi Mulyadi adalah contoh nyata bagaimana media sosial menjadi dampak positif bahkan negatif bagi publik figur. Dukungan dan kritik berjalan beriringan, aktivisme media sosial dalam hal ini tidak hanya untuk menyuarakan kekaguman, tapi menjadi sarana juga bagi masyarakat untuk mengawasi dan mengkritik publik figur.
Penulis Moch Fazrul Falah AR