KLATEN, 22 Agustus 2026 — Kredibilitas, etika, dan pemahaman psikologis terhadap masyarakat (mad’u) menjadi modal utama yang wajib dimiliki oleh seorang dai, terlebih di tengah arus informasi era digital yang bergerak sangat cepat. Guna membekali para pendakwah dengan kompetensi tersebut, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kabupaten Klaten menggelar Pelatihan Da’i Tingkat Jawa Tengah Tahun 2026 di Klaten, Sabtu (22/8/2026).
Pelatihan ini menghadirkan 8 fasilitator untuk empat materi selama kegiatan. Diawali dua akademisi dan pakar komunikasi dakwah dari FDK UIN Sunan Kalijaga, yakni Dr. Hadiq, M.Hum., dan Zaen Musyrifin, S.Sos.I., M.Pd.I. Keduanya memaparkan materi yang saling melengkapi mengenai konsep, etika, dan strategi dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dalam pemaparannya, Dr. Hadiq, M.Hum., menekankan bahwa kredibilitas adalah fondasi utama bagi seorang dai dalam membangun kepercayaan publik. Menurutnya, penilaian masyarakat terhadap seorang dai bisa bersifat subjektif, sehingga tugas utama pendakwah adalah menggalang dan menjaga kepercayaan tersebut.
Lebih lanjut, Dr. Hadiq menyoroti fenomena “dai instan” yang belakangan ini marak seiring dengan kemudahan akses media sosial. Ia berpesan bahwa fondasi paling krusial dalam berdakwah adalah kejujuran dan kejelasan sanad keilmuan. Seseorang yang tampil sebagai dai di ruang digital wajib merujuk pada sumber atau referensi yang kredibel sebelum menyebarkan informasi kepada umat. Dr Hadiq juga mengingatkan bahwa ruang digital telah mengubah perilaku komunikasi masyarakat; mereka yang pendiam di dunia nyata bisa menjadi sangat terbuka di platform seperti WhatsApp atau Facebook. Oleh karena itu, dai dituntut untuk peka terhadap perubahan karakter mad’u di ruang virtual tersebut.
Melengkapi pendekatan tersebut, Zaen Musyrifin, S.Sos.I., M.Pd.I., dalam sesinya yang bertajuk “Konsep dan Etika Dakwah”, menyoroti pentingnya sentuhan psikologis dan humanisme dalam menyampaikan pesan agama. Ia menegaskan bahwa dakwah bukanlah sekadar persoalan apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana dan kepada siapa pesan itu ditujukan.
“Dakwah bukan tentang memenangkan ego, membela kelompok, atau mencari pengakuan, melainkan tentang menghadirkan makna, memberi manfaat, dan membangun kedamaian bersama,” papar Zaen.
Zaen merumuskan enam dimensi psikologis dakwah beretika yang harus dikuasai oleh dai masa kini, yaitu:
- Meaning (Orientasi Diri): Meluruskan niat bahwa dakwah adalah ajakan kepada kebaikan, bukan untuk memenangkan perdebatan.
- Empathy (Memahami Orang Lain): Memahami mad’u secara utuh sebagai manusia yang memiliki pikiran, perasaan, pengalaman, dan kebutuhan.
- Sensitivity (Memilih Cara): Memiliki kepekaan terhadap kondisi dan konteks, sehingga mampu memilih pesan dan metode penyampaian yang penuh hikmah.
- Self-Regulation (Mengendalikan Diri): Kemampuan dai dalam mengelola emosi, menjaga ucapan, dan memastikan kesesuaian antara pesan yang disampaikan dengan perilaku sehari-hari.
- Social Intelligence (Mengelola Perbedaan): Bersikap toleran dalam masyarakat majemuk, mampu berdiskusi tanpa merendahkan, serta menghargai perbedaan.
- Digital Responsibility (Tanggung Jawab Digital): Memiliki empati digital dan kemampuan berpikir kritis saat bermedia sosial.
Terkait poin tanggung jawab digital, Zaen secara khusus mengingatkan para dai untuk menerapkan prinsip “Saring sebelum Sharing” di media sosial. Ia mengajak peserta pelatihan untuk selalu berhenti sejenak (Stop), memikirkan (Think), memeriksa kebenaran informasi (Check), mempertimbangkan perasaan orang lain (Empathize), sebelum akhirnya membagikan konten dakwah (Share) untuk menghindari penyebaran hoaks.
Kolaborasi pemikiran dari kedua dosen FDK UIN Sunan Kalijaga ini memberikan kesimpulan yang komprehensif: dakwah yang efektif di era modern tidak boleh berhenti pada sekadar penyampaian hukum agama. Dakwah yang baik harus bertumpu pada kredibilitas dan kejujuran, disokong oleh literasi digital, serta dibalut dengan etika komunikasi yang menyentuh hati dan memanusiakan manusia. Melalui pelatihan ini, diharapkan para dai di Jawa Tengah mampu menjadi agen pembawa kedamaian yang cerdas secara spiritual maupun emosional, serta bijak dalam memanfaatkan ruang digital untuk syiar Islam.
penulis: Maghrisul Akhiroh Syam| editor: Andara Angesti
- Sesi Kedua Pelatihan Dakwah Digital: Bahas Unsur Utama hingga Strategi Kreatif Pembuatan Konten - 22 Agustus 2026
- Menghadapi Dinamika Era Digital, Dosen FDK UIN Sunan Kalijaga Bekali Dai dengan Kredibilitas, Etika, dan Pendekatan Psikologis - 22 Agustus 2026
- Bangsa Tak Ramah Untuk Para Pencari Nafkah - 30 Agustus 2025