crossorigin="anonymous">

Inilah Aku: Bukti Nyata Fahrul untuk Ayah dari Panggung Concerto PSM Gita Savana

Kalijaga.co – Lampu panggung Concerto PSM Gita Savana yang diselenggarakan pada 20 Juni 2026 di Sekolah Menengah Musik (SMM) Jogja itu mulai meredup, menyisakan keremangan yang hangat saat nada-nada terakhir lagu dibawakan. Di antara deretan penyanyi yang berdiri tegak dan penuh semangat, Muhammad Fahrul Hidayat menarik napas panjang. Bagi sebagian orang, malam itu adalah puncak pertunjukan musik yang megah dan mewah. Namun bagi Fahrul, panggung itu adalah garis akhir dari sebuah pendakian batin yang panjang dan melelahkan, sebuah titik yang ia capai dengan keringat, air mata, dan tekad yang tak tergoyahkan.

Perjalanan Fahrul menuju panggung tersebut bukanlah jalan yang mulus. Ia membawa serpihan trauma masa lalu, di mana suaranya pernah divonis “jelek” oleh lingkungan terdekatnya. Label yang menyakitkan itu sempat membuat keyakinan dirinya runtuh dan membuatnya merasa tidak memiliki ruang untuk berekspresi. Namun, saat ia melangkah ke tanah rantau Yogyakarta, ia memilih untuk tidak membiarkan stigma tersebut mematikan impian-impian besarnya.

​Ia mencari ruang di mana suaranya bisa menemukan tempatnya sendiri. Paduan suara menjadi pelariannya, sekaligus laboratorium di mana ia belajar bahwa harmoni tidak lahir dari kesempurnaan individu, melainkan dari ketekunan untuk menyatukan perbedaan. Ia belajar bahwa di dalam sebuah kelompok, setiap orang memiliki peran penting, dan ia memutuskan bahwa perannya adalah untuk membuktikan  suara-suara yang dulunya diragukan, justru mampu menyatu dalam harmoni yang memikat.

Selama lima bulan masa persiapan yang cukup panjang, Fahrul benar-benar bertransformasi menjadi pribadi yang lebih disiplin dan tangguh. Ia menempa diri dengan aturan yang ketat, menjaga pola makan, menahan diri dari godaan makanan yang tidak sehat, hingga memastikan staminanya selalu prima untuk setiap sesi latihan yang menguras fisik dan mental. Ada satu filosofi unik dan menantang yang dipegang teguh oleh timnya selama masa persiapan, pada saat makrab mereka diminta membawa sebutir telur yang tidak boleh pecah ke mana pun mereka pergi, bahkan saat mereka sedang tidur atau melakukan aktivitas fisik yang berat seperti lari.

​Telur itu bukan sekadar properti latihan, melainkan simbol tanggung jawab, kepercayaan, dan ikatan antar anggota. Bagi Fahrul, menjaga telur itu agar tetap utuh sepanjang waktu adalah cara ia menjaga kehormatan dan mimpi-mimpinya agar tidak “pecah” di tengah jalan. Ia menjalaninya dengan komitmen penuh, membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia adalah pribadi yang mampu mengemban tanggung jawab besar, sekecil apa pun simbol yang diberikan. Setiap kali ia merasa lelah, ia mengingat telur yang dijaga dan merenungi mengapa ia memulai perjuangan ini.

Di balik ketenangan wajahnya saat tampil, tersimpan gejolak emosi yang sangat mendalam. Saat menceritakan perjalanan hidupnya, Fahrul tidak kuasa membendung emosinya. Suaranya bergetar, dan air mata jatuh saat ia mengenang sosok mendiang ayahnya. Di sela isak tangis yang tertahan, ia berujar lirih, “Andai ayahku masih ada, aku mau bilang kalo aku tuh bisa sejauh ini”. Pernyataan itu menjadi cerminan bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah upaya untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada sosok yang sangat ia rindukan dan ia sayangi.

​Keyakinan inilah yang menjadi bahan bakar utamanya untuk terus melangkah di tanah rantau, tempat di mana ia pada awalnya merasa sendirian dan tidak memiliki siapa-siapa. Fahrul kini merasa jauh lebih tangguh karena ia memahami bahwa kekuatan diri tidak lahir dari pengakuan orang lain, melainkan dari keberanian untuk terus mencoba ketika orang lain meragukan. Panggung 20 Juni 2026 itu menjadi cara Fahrul mengirimkan “surat cinta” bahwa anak yang dulu diragukan, kini mampu berdiri tegak dengan percaya diri sebagai bagian dari harmoni yang indah dan menginspirasi.

Fahrul telah berhasil membuktikan bahwa ia mampu mandiri, berprestasi, dan bertahan dalam kondisi apa pun yang ia hadapi. Ia tidak lagi menjadi anak yang insecure akan perbedaan dirinya. Kepada mereka yang masih merasa berbeda, Fahrul menitipkan pesan penuh harapan yang lahir dari pengalamannya sendiri

“Kalian itu berbeda, tapi kalian punya potensi. Jangan malah insecure, karena perbedaan itu justru bisa membuat kalian lebih terlihat oleh dunia,” ungkap Fahrul dengan penuh harap.

​Kini, setelah konser usai, Fahrul tidak hanya membawa pulang memori indah di atas panggung. Ia membawa pulang kedamaian hati yang selama ini ia cari. Ia telah mendefinisikan ulang siapa dirinya, bukan berdasarkan stigma masa lalu, melainkan berdasarkan upayanya yang tanpa henti. Di panggung Concerto, Fahrul Hidayat akhirnya menemukan suaranya, dan dengan bangga, ia bisa menatap langit sambil berkata “Inilah aku”. Baginya, perjuangan ini tidak akan berhenti di sini ia akan terus melangkah, terus belajar, dan terus menjadi pribadi yang lebih baik, karena ia tahu bahwa di setiap langkahnya, ada doa yang selalu menyertainya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *