Kalijaga.co – Musik hari ini tidak lagi sekadar menjadi hiburan. Ia telah menjadi ruang tempat berbagai kegelisahan sosial disuarakan. Ketika berita bergerak cepat dan perhatian publik mudah terpecah, musik sering kali mampu menyampaikan kritik dengan cara yang lebih personal. Sebuah lagu dapat membuat seseorang bergoyang, menghafal liriknya, lalu tanpa sadar membawa pulang pertanyaan yang tidak selesai setelah musik berhenti diputar.
Ada lagu yang selesai ketika usai dimainkan. Ada juga lagu yang justru mulai bekerja setelahnya. Bagi saya, “Mesin” dari FSTVLST termasuk jenis yang kedua.
Lagu ini pertama kali terdengar seperti kritik terhadap dunia kerja. Tentang buruh, upah, dan orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk menggerakkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Namun semakin sering saya mendengarkannya, semakin saya merasa bahwa lagu ini sebenarnya tidak sedang berbicara tentang sebagian orang. Ia sedang berbicara tentang hampir semua orang.
Sebab hari ini, menjadi manusia sering kali berarti menjadi bagian dari sebuah mesin. Mesin bekerja dengan cara yang sederhana. Ia tersusun dari banyak komponen yang saling terhubung. Setiap bagian memiliki fungsi masing-masing. Tidak ada yang bergerak sesuka hati. Semuanya mengikuti ritme yang telah ditentukan agar sistem dapat terus berjalan.
Ketika mendengar metafora mesin dalam lagu ini, saya tidak langsung membayangkan pabrik atau cerobong asap. Saya justru membayangkan kehidupan sehari-hari. Alarm yang berbunyi setiap pagi, tugas yang menumpuk, target yang harus dicapai bahkan notifikasi yang tidak pernah berhenti.
Di tengah situasi seperti itu, lagu “Mesin” terasa relevan bukan karena berbicara tentang pekerjaan semata, melainkan karena ia mengajak kita melihat sistem yang membuat kehidupan bergerak seperti sekarang. Kita merasakan dampak dari sistem, tetapi sulit menunjuk bentuknya secara langsung.
Ia hadir dalam tuntutan untuk selalu produktif. Dalam keyakinan bahwa waktu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dalam anggapan bahwa nilai seseorang dapat diukur dari pencapaian yang berhasil ia kumpulkan.
Lambat laun, produktivitas tidak lagi menjadi alat untuk mencapai tujuan hidup. Produktivitas justru berubah menjadi tujuan itu sendiri. Kita bekerja untuk hidup, tetapi kadang hidup hanya berisi pekerjaan. Kita menggunakan teknologi untuk mempermudah aktivitas, tetapi sering kali teknologi justru membuat kita tidak pernah benar-benar berhenti beraktivitas.
Mungkin karena itulah FSTVLST memilih kata “mesin”. Mesin tidak memiliki ruang untuk lelah secara emosional. Ketika satu komponen rusak, komponen lain dapat menggantikannya. Di titik inilah kritik lagu ini terasa tajam. Sebab yang dipersoalkan bukan sekadar hubungan antara pekerja dan pekerjaannya, melainkan cara sistem memandang manusia.
Dalam logika sistem yang terlalu berorientasi pada hasil, manusia perlahan direduksi menjadi fungsi. Yang dihargai adalah apa yang bisa dihasilkan, bukan siapa yang menghasilkan. Yang penting adalah target tercapai, bukan bagaimana kondisi orang-orang yang bekerja untuk mencapainya.
Fenomena semacam ini sebenarnya tidak hanya terjadi di dunia kerja. Kita dapat menemukannya hampir di semua ruang kehidupan.Mahasiswa dituntut menyelesaikan berbagai capaian akademik. Pekerja dituntut mencapai target tertentu. Kreator konten dituntut terus menghasilkan unggahan baru. Bahkan waktu istirahat pun sering kali harus produktif. Kita membaca buku agar lebih produktif. Berolahraga agar lebih produktif. Berlibur agar kembali produktif.
Segala sesuatu seolah kembali pada satu tujuan yang sama: menghasilkan lebih banyak. Di sinilah saya merasa lagu “Mesin” tidak sedang berbicara tentang individu yang malas atau rajin. Lagu ini sedang mempertanyakan mengapa produktivitas menjadi nilai yang begitu dominan dalam kehidupan modern.
Pertanyaan tersebut penting karena sistem yang baik seharusnya diciptakan untuk manusia. Namun dalam praktiknya, sering kali manusia justru dipaksa menyesuaikan diri dengan kebutuhan sistem.
Orang-orang yang tidak mampu mengikuti ritmenya dianggap tertinggal. Mereka yang kelelahan diminta bertahan sedikit lebih lama. Padahal tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan bekerja lebih keras. Kadang yang perlu dipertanyakan justru struktur yang membuat orang harus bekerja sekeras itu sejak awal.
Namun FSTVLST tidak mengajak pendengarnya meninggalkan pekerjaan, membenci teknologi, atau menolak kemajuan. Yang dilakukan lagu ini jauh lebih penting: mengajak kita menyadari keberadaan sistem yang selama ini dianggap normal. Karena sesuatu yang terus-menerus dianggap normal sering kali berhenti dipertanyakan. Sampai akhirnya lupa bahwa semua itu merupakan hasil dari sistem yang dibangun oleh manusia, bukan hukum alam yang tidak bisa diubah.
Bagi saya, kekuatan terbesar lagu “Mesin” terletak pada kemampuannya mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya hidup seperti mesin. Karena ketika hidup hanya diisi oleh putaran yang terus berulang tanpa kesempatan untuk memahami maknanya, kita mungkin masih bergerak. Kita mungkin masih menghasilkan banyak hal. Kita mungkin masih dianggap berhasil.
Namun pertanyaannya tetap sama, “Apakah kita benar-benar sedang hidup, atau hanya sedang menjalankan fungsi yang telah disiapkan oleh sistem?” barangkali pertanyaan itulah yang masih bergema setiap kali lagu “Mesin” selesai diputar.
Penulis Reganessa Diosalwa Wisanggeni | Editor Qisthiyatun Nafi’ah