Judul :Pesta Babi | Sutradara : Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale | Produksi : dan industri, diproduksi melalui kolaborasi Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Yayasan Bentala Pusaka, Jubi.id, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke | Tahun Tayang : 2026 | Peresensi : Muhammad Haikal H Sihotang
Kalijaga.co – Kolonialisme merupakan bentuk kerakusan manusia yang menghasilkan luka bagi manusia lainnya. Secara umum, kolonialisme adalah paham atau praktik penguasaan suatu wilayah oleh negara lain dengan tujuan mengeksploitasi sumber daya alam, kekayaan, maupun tujuan manusia demi keuntungan negara penjajah.
Era kolonial memang sudah menjadi kisah masa lalu yang kita pelajari di bangku sekolah. Namun apakah kolonialisme sudah sepenuhnya hilang di muka bumi ini? Atau hanya merubah wujudnya? Setelah menonton film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita sebuah sudut pandang baru pun terbuka.
Film ini diproduksi oleh Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale, berkolaborasi dengan Watchdoc Documentary, Jubi Media, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia yang rilis pada 7 maret 2026. Mereka menciptakan sebuah karya film dokumenter yang kontroversial dan memberikan gambaran yang lebih objektif tentang apa yang terjadi di tanah Papua hari ini.
Papua sebagai pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland merupakan rumah bagi lebih dari 255 suku adat yang sudah lama menetap. Kekayaan dan keindahan alam Papua adalah kelebihan yang dirusak dengan mega proyek seperti freeport, pembukaan lahan untuk bioetanol dan pembukaan lahan demi food estate oleh PT Papua Abadi, PT Murni Nusantara Mandiri, PT Andala Manis Nusantara dan tujuh perusahaan lainnya yang ternyata dikuasai oleh satu keluarga.
Film pesta babi diawali dengan adegan sekelompok orang membawa batang kayu panjang yang dijadikan sebagai salib merah. Salib tersebut menjadi sebuah simbol bahwa tanah ini milik Tuhan dan diperuntukkan bagi umat, bukan untuk dikuasai segelintir orang.
Adegan tersebut menimbulkan perasaan tidak nyaman. Kehadiran simbol salib sebagai bentuk perlindungan dan perlawanan menyampaikan besarnya penderitaan serta kekerasan yang dialami rakyat Papua. Simbol Tuhan dijadikan tameng terakhir untuk mempertahankan tanah tempat mereka hidup dan berpijak.
Film pesta babi juga menggambarkan bagaimana Papua Selatan, tepatnya hutan-hutan adat kabupaten Merauke, kabupaten Boven Digoel dan kabupaten Mappi direbut tanahnya oleh pemerintah dengan alasan pembangunan nasional demi ketahanan pangan dan energi. Pembangunan ini merupakan pembukaan lahan untuk sawit, tebu, dan proyek yang kita kenal sejak zaman Soeharto yaitu food estate.
“Arsitek gangguan di atas kuburan yang sunyi,” itulah gambaran yang muncul tentang pemerintah yang rakus sebagai sang arsitek yang membangun gedung-gedung tinggi dan mega proyek di atas tanah rakyat demi memenuhi ego serta memperkaya para pemegang kekuasaan.
Di tengah kuatnya penguasa dan kapitalis, suara rakyat justru dibungkam. Mereka dipaksa diam layaknya kuburan di malam hari. Tak mampu melawan, seperti jasad yang perlahan siap ditelan bumi.
Dari film Pesta Babi, kita diperlihatkan bahwa mimpi besar sebenarnya telah berlangsung sejak lama, tepatnya pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dengan masa kekuasaan terpanjang di Indonesia. Saat itu, pemerintah menjalankan program swasembada beras melalui Proyek Lahan Gambut (PLG) satu juta hektar di Kalimantan, yang dapat disebut sebagai cikal bakal food estate jilid pertama.
Namun proyek besar tersebut berakhir mangkrak pada tahun 1999. Ironisnya, dampak buruk proyek masih terasa hingga hari ini, mulai dari kerusakan ekosistem gambut, kebakaran hutan, hingga banjir yang terus berulang.
Ide yang sempat mangkrak itu kemudian dihidupkan kembali pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Setelah itu, Presiden Joko Widodo melanjutkan gagasan proyek tersebut dengan memasukkan program food estate ke dalam Strategi Nasional. Kini, pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program serupa kembali digaungkan melalui rencana cetak satu juta hektar lahan pertanian.
Empat presiden, dua jenderal besar, satu jenderal TNI, dan seorang berlatar belakang kehutanan telah silih berganti membawa gagasan besar tentang pembukaan lahan pangan. Setelah melewati sebelas masa pemerintahan dan kini memasuki masa ke-12, pertanyaan yang muncul adalah: apakah proyek food estate kali ini akan berhasil, atau mengulang kegagalan yang sama?
Film Pesta Babi mengingatkan kita tentang dampak buruk pembukaan lahan yang dilakukan tanpa komunikasi dengan masyarakat lokal, serta minimnya penelitian terhadap kondisi wilayah yang akan digunakan. Kebijakan semacam ini menimbulkan kerugian besar dan kerusakan lingkungan. Kerugian tersebut tidak hanya terkait anggaran negara, tetapi juga terkait pada masyarakat yang hidup di sekitar proyek tersebut.
Selain fokus di Papua Selatan, film ini juga menampilkan berbagai persoalan serupa yang terjadi di wilayah lain seperti Kalimantan dan Sumatra. Hal tersebut menunjukkan bahwa masalah pembukaan lahan dan proyek pangan berskala besar bukanlah persoalan yang berdiri sendiri, melainkan persoalan luas yang dihadapi banyak daerah di Indonesia.
Adapun sebuah pandangan menarik yang menimbulkan kontroversial yakni bagaimana film pesta babi mengubah pandangan masyarakat yang melihat OPM atau Operasi Papua Merdeka sebagai kelompok separatis biadab bersenjata yang bahkan dianggap sebagai teroris. Masyarakat Papua menjadi sekelompok orang yang sedang mempertahankan kampung halamannya.
Film ini menghadirkan sudut pandang baru yang mungkin belum disampaikan secara tegas. Melihat tentang banyaknya konflik dan korban yang terjadi di Papua, termasuk gugurnya aparat yang dikirim, kepentingan yang tunduk pada kekuasaan, serta dorongan kaum kapitalis yang terus mengeksploitasi tanah Papua demi suatu keuntungan, tentu tidak dapat dilepaskan dari kebijakan pemerintah.
Secara teknis pengambilan gambar film pesta babi secara jelas memperlihatkan besarnya kerusakan yang sudah terjadi dan yang berkemungkinan terjadi di Papua. Ilustrasi dan penyampaian yang jelas dari narator film pesta babi dapat dinikmati oleh semua orang untuk membuka perspektif baru.
Pemilihan narasumber yang juga menarik dapat memberikan gambaran kepada penonton apa yang sedang dihadapi.
Film pesta babi adalah karya dokumenter yang luar biasa. Dari film tersebut pemikiran kritis masyarakat mulai terpacu. Masyarakat dapat melihat suatu permasalahan jauh lebih luas dan kompleks.
Editor: Nayla Nur Hidayah
- Salib Merah dan Tanah yang Terluka: Refleksi Menyaksikan Film Pesta Babi - 24 Mei 2026
- Kesetaraan Gender dalam Wahyu Tuhan - 19 April 2026
- Melipat Waktu di Tengah Kesibukan: Kisah One Day One Juz Seorang Mahasiswa - 9 Maret 2026