crossorigin="anonymous">

Film Dokumenter “Merajut Maya” Karya Mahasiswa KPI UIN Jogja Banjir Apresiasi dari Warga Kampoeng Cyber

Kalijaga.co – Gelak tawa dan tepuk tangan meriah memecah keheningan malam di Kampung Cyber Yogyakarta pada hari Sabtu, 16 Mei 2026. Warga RT 36, Kelurahan Patehan, berkumpul bersama untuk menyaksikan pemutaran (screening) film dokumenter yang mengangkat isu tentang desa dan potensinya.

Film dokumenter yang berdurasi 9 menit 56 detik tersebut berjudul “Merajut Maya” karya 10 mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Acara screening tersebut merupakan hasil dari tugas praktikum pembuatan film dan bentuk pengabdian masyarakat yang berkolaborasi antara mahasiswa KPI semester enam dan dosen KPI UIN Sunan Kalijaga.

Di bawah bimbingan Muhammad Luthfi Habibi, M,A., dan Dr. Hamdan Daulay. M.Si. M.A., film dokumentertersebutsukses memikat hati warga Kampoeng Cyber. Dari sekian banyak elemen sinematografi yang disajikan, aspek penyuntingan gambar (editing) menjadi sorotan utama dan memanen pujian paling tinggi karena dinilai berhasil mengemas isu UMKM dan Artificial Intelligence (AI) menjadi tontonan yang sangat menarik dan mudah dipahami.

“Filmnya bagus, editornya jago” ujar Dewi Marganing salah satu narasumber dan warga pemilik voice of jogja usai pemutaran film. (Sabtu, 16/5/2026)

Emang bagus audionya kayak film G30S PKI, mencekam sekali” timpal Antonius Sasongko, pendiri Kampoeng Cyber. (Sabtu, 16/5/2026)

Film dokumenter “Merajut Maya” memotret rekam jejak Kampoeng Cyber yang selama ini telah dikenal luas berhasil memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi digital.

Namun, narasi film tidak hanya berhenti sampai titik tersebut. Film Dokumenter “Merajut Maya” membawa penonton masuk ke dalam babak baru yang penuh tanda tanya: ketika era Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan datang, apakah mereka akan semakin terbantu, atau justru terancam tergantikan?

Dilema emosional nyata inilah yang berhasil diaduk-aduk oleh M. Chasbi Ilham selaku sutradara dan editor. Ia mengaku ingin penonton merasakan perubahan emosi di sepanjang film, mulai dari rasa takut, cemas, dan ketidakpastian terhadap perkembangan AI yang dianggap bisa menggantikan pekerjaan manusia.

Melalui transisi gambar yang apik dan audio yang dramatis, film tersebut memperlihatkan bagaimana di satu sisi AI menghasilkan yang instan, namun di sisi lain menyimpan kekhawatiran besar bagi keberlangsungan mata pencaharian warga.

Meskipun di awal dan pertengahan film, perasaan tegang itu masih ada. Namun, di akhir saya ingin menyampaikan optimisme bahwa teknologi bukan sesuatu yang harus ditolak, melainkan dipahami dan dimanfaatkan agar manusia bisa berkembang bersama perubahan tersebut” tutur M. Chasbi (Minggu, 17/5/2026)

“Jujur saya merasa sangat senang dan dihargai. Sebagai editor biasanya pekerjaan kami ada di balik layar dan jarang mendapat perhatian langsung. Ketika warga merasakan emosi film dan memahami ceritanya, saya merasa usaha panjang selama proses produksi tidak sia-sia” pungkasnya.

Apresiasi yang membanjiri aspek editing ini menjadi bukti kemampuan mahasiswa KPI UIN Sunan Kalijaga dalam mengemas isu dan narasi ke dalam bahasa visual yang bernyawa. Bagi Mahasiswa KPI, screening ini bukan sekedar penayangan hasil karya audio-visual semata, melainkan menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bagi mahasisiswa serta bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *