Isu kesetaraan gender dan patriarki sering kali menjadi “bola panas” saat disandingkan dengan teks keagamaan. Di koridor kampus maupun ruang diskusi publik, agama kerap dituding sebagai lokomotif utama yang melanggengkan dominasi laki-laki. Namun, benarkah teks suci sedari awal memang mendesain ketimpangan, atau jangan-jangan kita hanya sedang membaca langit melalui kacamata budaya yang sudah telanjur buram?
Keyakinan bahwa agama secara lekat bersifat patriarkal dan anti kesetaraan gender adalah sebuah miskonsepsi yang perlu di dekonstruksi. Sebaliknya, esensi pesan langit di berbagai tradisi iman justru membawa benih kesetaraan yang radikal, masalah utamanya bukanlah pada teksnya, melainkan pada monopoli tafsir maskulin yang telah berabad-abad membungkus pesan universal tersebut dalam cangkang budaya patriarki.
Tentu saja pandangan tersebut tidak muncul begitu saja, ayat-ayat seperti 1 Timotius 2:11-12, Efesus 5:22-24 dan 1 Korintus 14:34 dalam Al-kitab. An-Nisa: 34, An-Nisa: 11 (Tentang Waris) dan Al-Baqarah: 282 (Tentang Kesaksian) dalam Al-Qur’an. Manusmriti 9.3 dan Manusmriti 5.147-148 dalam Manusmriti dan lain-lain menjadi dasar dari pandangan tersebut.
Secara sosiologis, teks suci memiliki dua wajah yakni wajah spiritual yang abadi dan wajah sosial yang temporal, menurut Ali Syariati syiah Iran yang juga seorang sosiolog serta pemikir islam mengatakan dalam sebuah pidato yang dibukukan pada Religion vs. Religion “Agama yang hanya berfungsi sebagai pelipur lara dan penjaga status quo adalah agama yang telah kehilangan ruhnya. Ia hanya menjadi warisan sejarah yang dipelihara untuk kepentingan kelas tertentu, sementara esensi agama yang sebenarnya adalah api yang membakar ketidakadilan.”
Lebih ekstrem lagi dari Mahmoud Mohamed Taha seorang pemikir sufi dan aktivis Sudan yang karya-karyanya sering digunakan sebagai pembakar semangat revolusi kesetaraan gender. Dalam bukunya Ar-Risalah ath-Thaniyah min al-Islam yang mengatakan “Islam bukanlah sekumpulan aturan yang statis, melainkan gerakan yang dinamis. Apa yang cocok untuk abad ketujuh tidak selalu cocok untuk abad kedua puluh. Kita harus berevolusi dari cabang-cabang hukum tambahan menuju akar asli dari pesan tersebut” yang pada akhirnya dianggap murtad dan di eksekusi mati.
Kedudukan manusia dalam dimensi spiritual adalah setara tanpa memandang jenis kelamin. Hal ini dikarenakan jiwa dalam esensi teologis tidak memiliki gender. Patriarki muncul bukan sebagai inti teologi, melainkan produk sejarah masyarakat agraris kuno yang kemudian meminjam bahasa agama untuk legitimasi sosial. Kita bisa melirik tradisi Kristiani dalam Galatia 3:28 yang menegaskan bahwa di hadapan Tuhan, tidak ada laki-laki atau perempuan.
Di Timur, teks Therigatha dalam Buddhisme mencatat pencapaian spiritual perempuan yang setara dengan laki-laki sebagai Arhat. Bahkan dalam Taoisme, prinsip Yin dan Yang menekankan harmoni timbal balik, bukan hierarki. Jika ada teks yang terlihat membatasi perempuan, seperti dalam beberapa hukum sosial Konghucu atau teks hukum kuno lainnya, itu lebih mencerminkan upaya pengaturan stabilitas masyarakat pada zamannya, bukan mandat spiritual yang kaku.
Bahkan islam muncul di timur tengah kala masa Wanita diperlakukan sebagai objek bahkan memiliki anak perempuan dipandang sebagai aib menguburnya menjadi solusi, jumlah istri tak terbatas tak ada bedanya dengan membeli peliharaan bukan?
Kedatangan Islam dengan membawa ayat-ayat yang dipercaya berasal dari tuhan itulah yang merombak tatanan masyarakat khususnya dalam “Keadilan” gender, dengan turunya ayat-ayat indah yang membahagiakan telinga seperti An-Nisa ayat 7 akhirnya wanita mendapatkan waris.
Al-Qur’an merupakan pesan indah yang hadir sebagai instrumen ‘negosiasi ulang’ atas struktur sosial yang tidak adil. Jika sebelumnya wanita diperlakukan sebagai objek atau ‘properti’ sekarang mereka menjadi subjek hukum yang memiliki hak ekonomi dan otonomi diri. Ini bukan sekadar teks agama, melainkan sebuah manifesto keadilan yang menata ulang relasi kekuasaan di tengah masyarakat patriarkal yang kaku.
Lalu muncul lagi sebuah pertanyaan yang bergemuruh di kepala “Bagaimana kata-kata tuhan ini digunakan untuk keuntungan satu gender?” Dr. Khaled Abou El Fadl yang merupakan Ahli fiqih dan hukum islam klasik dalam karyanya Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority and Women “Masalahnya bukan pada teks Ilahi, melainkan pada para penafsir ‘otoritatif’ yang memproyeksikan bias patriarki mereka sendiri ke dalam teks, yang secara efektif mengubah budaya yang berpusat pada laki-laki menjadi mandat yang seolah datang dari Tuhan.”
Rita M. Gross Sarjana Buddhis dan Feminis dalam bukunya Buddhism After Patriarchy “Agama telah digunakan untuk menstabilkan dominasi laki-laki dengan mengklaim bahwa peran gender ditetapkan secara ilahi atau ditentukan secara karma, mengabaikan fakta bahwa hukum ‘suci’ ini ditulis dan ditegakkan oleh laki-laki yang memiliki kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan mereka.”
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari bahwa memperjuangkan kesetaraan gender bukanlah tindakan melawan agama. Sebaliknya, ini adalah upaya mengembalikan agama kepada fungsi asalnya sebagai pembebas manusia.
Kita harus mampu membedah mana yang merupakan wahyu yang memanusiakan, dan mana yang sekadar residu budaya masa lampau yang sudah tidak relevan lagi dengan keadilan zaman sekarang.
Jalaluddin Rumi berkata dalam kitabnya Masnavi-I Ma’navi “Perempuan adalah cahaya Tuhan, bukan sekadar objek nafsu. Ia adalah pencipta, bukan yang diciptakan… Laki-laki yang menganggap perempuan sebagai pelayan hanyalah laki-laki yang bodoh dan dikuasai oleh ego (nafsu).”
Pada akhirnya, menggali nilai kesetaraan dalam kitab suci lintas iman adalah perjalanan untuk menemukan kembali wajah Tuhan yang Maha Adil. Agama seharusnya menjadi ruang aman bagi semua gender untuk bertumbuh, bukan justru menjadi jeruji yang membatasi potensi manusia hanya karena perbedaan biologis. Saatnya kita berhenti berlindung di balik teks untuk membenarkan ketimpangan, dan mulai membaca pesan suci dengan semangat kesetaraan yang murni.
Hormatilah, sayangi dan lindungi Wanita seperti ibumu karena kami yakin kau akan “membunuh” siapapun yang melecehkan dan melukainya walau itu ayahmu sendiri.
Penulis: Muhammad Haikal H Sihotang | Editor: Aprilda Sabtiyan Achmad
- Kesetaraan Gender dalam Wahyu Tuhan - 19 April 2026
- Melipat Waktu di Tengah Kesibukan: Kisah One Day One Juz Seorang Mahasiswa - 9 Maret 2026