Kalijaga.co – Sidoarjo siang itu terasa lebih panas dari biasanya, namun hiruk pikuk di dalam ruang tamu budhe (putri kedua) dari mendiang nenek seolah meredam sengatan panas matahari kala itu. Perjalanan tiga jam dari Tuban bersama ayah, ibu, dan saudara lainnya terbayarkan saat melihat deretan kendaraan dengan plat nomor yang beraneka ragam terpakir di depan rumah.
Mulai dari plat L dari Surabaya, S dari Jombang dan Lamongan, serta plat N dari Pasuruan. Bagi keluarga besar kami, halal bihalal ketika bulan syawal seperti ini bukan hanya sekedar rutinan tahunan. Sejak sudah tidak ada sesepuh yang menempati rumah induk simbah, rumah tempat kita berkumpul selalu berpindah secara bergilir. Tahun lalu (2024) kami berkumpul di rumah budhe pertama tepatnya di Lamongan, tahun ini kami berkumpul di Sidoarjo tempat budhe kedua. Tradisi bergilir ini adalah cara kami seolah ”merawat akar” agar tidak ada satu pun dahan yang patah walaupun batang utamanya sudah lama tiada.
Acara halalbihalal keluarga ini selalu dibuka dengan sesuatu yang khidmat, yakni Khataman Al-Qur’an. 30 buah Al-Qur’an jilid per juz berukuran besar tersedia di tengah ruang tamu diambil bergilir secara acak, kemudian kami membacanya dengan suara lirih namun penuh khidmat.
Momen ini selalu menjadi jeda yang hangat dan menenangkan, suara gumam ayat-ayat suci saling bersahutan dengan tawa serta tangis para keponakan yang mulai tidak betah dengan panas nya sidoarjo siang itu.
Lucunya, statusku di keluarga ini mengalami pergeseran peran yang bisa di bilang cukup drastis. Sebagai anak dari ibu yang merupakan bungsu di keluarganya, aku kini di kelilingi banyak ”bocil” ponakan-ponakan yang menggemaskan hingga menjengkelkan.
Dulu aku merasakan dimana orang-orang berebut menggendongku dan menenangkan ku ketika menangis, kini justru aku yang harus berusaha menenangkan tangis para ponakanku. Ada kehangatan tersendiri yang aku rasakan ketika mendekap bayi-bayi itu di tengah riuh nya obrolan keluarga. Bagiku ini adalah suatu privillage itung-itung course merawat bayi gratis karena langsung ke sesi praktek.
Puncak dari pertemuan hangat ini bukanlah sekedar makan siang bersama melainkan tradisi yang secara tidak sengaja tercipta yakni “tukar oleg-oleh”. Di keluarga kami setiap masing-masing keluarga membawa identitas daerahnya masing-masing. Ibuku, misalnya, tidak pernah absen membawa Kecap Cap Laron khas dari Tuban.
Bagi orang luar mungkin hanyalah sebatas kecap manis, tapi bagi kami Adalah salah satu identitas. Sebagaimana yang kita ketahui, setiap daerah di Indonesia memiliki selera kecapnya sendiri dan Cap Laron merupakan pilihan orang Tuban. Di saat seperti ini tuan rumah memiliki tugas negara sebagai ”manager logistik”.
Mereka akan membagi porsi oleh-oleh dengan rata. Supaya kejadian aku yang datang dari Tuban tidak perlu membawa kecap yang sama lagi, sudah di pastikan aku akan membawa bandeng presto khas Sidoarjo atau mungkin ikan asin dan terasi dari Lamongan serta makanan dari Jombang lainnya. Hal ini merupakan salah satu sistem barter yang selalu kutunggu tiap tahunnya. Seakan kami bertukar cerita lewat makanan, mencicipi keragaman daerah masing-masing dalam satu waktu.
Tentu saja, momen yang paling ditunggu oleh para generasi muda seperti aku adalah pembagian THR (Tunjangan Hari Raya). Di keluarga kami, selagi masih sekolah, belum bekerja, serta belum memiliki pasangan, maka berhak mendapat jatah amplop lebaran. Pertanyaan ’kapan lulus’ atau ’berapa IPK’ biasanya menjadi momok yang cukup melelahkan. Namun, di sisi lain pertanyaan itu justru menjadi pembuka jalan sebuah yang selalu kami tunggu yakni bagi-bagi amplop THR. Ada perang batin lucu yang aku rasakan saat tangan budhe menyodorkan THR, antara merasa sudah cukup dewasa untuk menolak atau mengakui bahwa dompet mahasiswa memang masih butuh bantuan pemasukan. Biasanya, setelah tragedi tolak-menolak yang sedikit dramatis, berakhir dengan tawa dan amplop THR di genggaman, rasanya seperti sebuah kemenangan kecil yang selalu berhasil membuat wajah kami berseri-seri dengan sedikit tawa kegirangan.
Di era digital saat ini, meskipun keluarga besar kami memiliki grup WhatsApp yang aktif setiap harinya, pertemuan secara fisik setahun sekali tetap terasa sangat memorable dan tidak tergantikan. Teknologi memang memudahkan komunikasi, tapi ia tidak bisa menggantikan aroma hidangan seafood khas Lamongan (asal daerah simbah), hangatnya pelukan di tengah riuh tangisan bocil, ramai nya suara saat berpose untuk berfoto guna mengabadikan kebersamaan yang wajib dilakukan sebagai arsip tahunan.
Bertemu keluarga besar nyatanya bukan sekedar urusan merajut kembali ikatan yang sempat merenggang karena jarak. Lebih dari itu, halalbihalal ini momen untuk mengisi kembali ’tangki’ cinta dan cadangan energi yang mulai terkikis di perantauan. Sebab pada akhirnya, sejauh apapun kompas cita-cita membawaku pergi, aku akan selalu punya rumah untuk bersandar kembali. Bukan sekedar rumah dengan atap dan dindingnya, tetapi sebuah dermaga hangat tempat lelahku berlabuh.
Penulis: Sitta Maulida Ramadhania
- Menjadi “Ummatan Wasathan” di Era Penuh Konflik Sosial dan Politik - 19 April 2026
- Pulang ke Rumah: Merajut Kembali Ikatan Lewat Tradisi dan Hidangan - 18 April 2026
- Menimbang Isu Gender di Tengah Nilai Agama dan Realitas Sosial - 18 April 2026