crossorigin="anonymous">

Tubuh, Tradisi, dan Kekuasaan dalam Ronggeng Dukuh Paruk

Kisah Srintil dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari bukan hanya berkisah tentang seorang penari ronggeng di sebuah pedukuhan, tetapi juga tentang tubuh perempuan yang sejak awal diambil alih oleh tradisi di Dukuh Paruk. Srintil, sebagai anak Dukuh Paruk, tumbuh dengan kesadaran bahwa tempat yang ia tinggali merupakan wilayah yang melahirkan para ronggeng. Sejak kecil, ketika ia masih bermain bersama Rasus dan teman-temannya, Srintil sering menirukan gerak tari ronggeng sebagai permainan.

Suatu hari, kakeknya, Sakarya, memergoki permainan tersebut. Peristiwa itu kemudian disampaikan kepada Kartareja, dukun ronggeng Dukuh Paruk. Sejak saat itu, Srintil dipilih sebagai ronggeng baru desa tersebut. Penunjukan itu bukan lahir dari kehendaknya sendiri, melainkan karena Dukuh Paruk telah sebelas tahun lamanya tidak memiliki seorang ronggeng. Dengan demikian, Srintil menjadi ronggeng bukan karena pilihan personal, melainkan karena kebutuhan tradisi yang harus segera dipenuhi.

Masyarakat Dukuh Paruk percaya bahwa dengan hadirnya seorang ronggeng, kehidupan mereka akan kembali makmur. Dalam ritual bukak klambu, tubuh Srintil ditawarkan kepada laki-laki yang mampu membayar paling mahal. Peristiwa ini menunjukkan bahwa tubuh perempuan diperlakukan sebagai komoditas, bukan sebagai entitas yang memiliki hak dan kehendak pribadi. Tubuh Srintil dijadikan sarana pemenuhan kebutuhan sosial dan spiritual masyarakat. Dalam perspektif feminisme, kondisi ini memperlihatkan hilangnya kebebasan perempuan atas tubuhnya sendiri. Srintil tidak lagi dipandang sebagai manusia utuh, melainkan sebagai simbol tradisi, sementara keinginannya sebagai individu diabaikan. Ia tidak dapat menentukan pilihan hidupnya, sebab masyarakat Dukuh Paruk menempatkannya sebagai objek yang dapat mereka kendalikan.

Dalam novel ini, tradisi tidak berdiri secara netral. Ia bekerja sebagai mekanisme kekuasaan yang menguntungkan kelompok tertentu, seperti laki-laki dan elite desa. Laki-laki memperoleh hiburan dan status sosial dari keberadaan ronggeng, sementara dukun ronggeng mendapatkan keuntungan ekonomi sekaligus kuasa atas tubuh dan masa depan ronggeng. Meskipun Kartareja memperlakukan Srintil seperti anaknya sendiri dan mengajarinya menjadi ronggeng yang baik, relasi tersebut tetap menempatkan Srintil dalam posisi yang dikendalikan oleh sistem tradisi.

Dengan demikian, tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi sarana pembenaran atas pemerasan tubuh perempuan. Dalam perspektif feminisme, kondisi ini dapat dipahami sebagai bentuk penindasan yang bersifat struktural. Srintil tidak dipaksa secara fisik, melainkan dipaksa secara kultural. Ia menerima perannya karena tekanan nilai sosial yang menempatkan ronggeng sebagai kehormatan bagi desa. Penindasan ini tampak halus karena dibungkus oleh mitos, ritual, dan kebanggaan bersama masyarakat Dukuh Paruk.

Kehidupan Srintil yang tampak mewah sebagai ronggeng sejatinya menyimpan kehampaan batin. Ia dikenal luas, memiliki uang, dan dihormati, tetapi kehilangan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Hubungannya dengan Rasus pun terhalang oleh statusnya sebagai ronggeng yang harus “dimiliki bersama”. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan sosial yang diraih Srintil tidak berbanding lurus dengan kebebasan personalnya.

Dalam sudut pandang feminisme, Srintil menggambarkan perempuan yang terjajah oleh sistem sosial dan budaya. Tubuhnya menjadi arena pertarungan antara kepentingan individu dan kepentingan bersama. Identitasnya sebagai perempuan tidak dibangun dari kesadaran diri, melainkan dari label yang dilekatkan oleh masyarakat.

Melalui tokoh Srintil, Ahmad Tohari menyampaikan kritik sosial terhadap praktik budaya yang mengorbankan perempuan. Pembaca diajak menyaksikan penderitaan Srintil sebagai akibat dari sistem yang tidak adil. Meskipun novel ini secara tidak langsung mengusung ideologi feminisme, di dalamnya tetap terkandung kritik terhadap ketimpangan relasi kuasa berbasis gender. Penggambaran penderitaan Srintil berfungsi membangkitkan empati pembaca sekaligus mempertanyakan keabsahan tradisi yang menindas. Tradisi tidak lagi tampil sebagai sesuatu yang sakral, melainkan sebagai struktur sosial yang perlu dikaji ulang ketika berhadapan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *