crossorigin="anonymous">

Mahasiswa Rantau di Yogyakarta Rasakan Perbedaan pada Awal Ramadan

Kalijaga.co – Memasuki awal Ramadan 1447 Hijriah, sejumlah mahasiswa rantau di Yogyakarta merasakan perbedaan suasana dibandingkan saat menjalani puasa di kampung halaman. Jauh dari keluarga, mereka harus menyiapkan sahur dan berbuka puasa secara mandiri.

Perbedaan tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama pada hari-hari pertama Ramadan. Jika di rumah suasana sahur dan berbuka dilakukan bersama keluarga, di perantauan mereka menjalani rutinitas tersebut sendiri atau bersama teman sesama perantau.

Rosita, mahasiswa semester empat yang telah merantau hampir dua tahun di Yogyakarta, mengaku awal Ramadan terasa lebih sepi dibandingkan saat berada di rumah.

“Kalau di rumah ada keluarga, suasananya ramai. Di perantauan harus menyiapkan buka dan sahur sendiri, jadi terasa lebih sepi,” ujarnya.

Meski demikian, mahasiswa rantau memiliki cara tersendiri untuk menyesuaikan diri. Sebagian mahasiswa mengisi waktu dengan mengikuti kegiatan organisasi, menghadiri buka puasa bersama, serta aktif dalam mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan kampus maupun tempat tinggal.

Rosita mengatakan, ia memilih mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) selama Ramadan agar tetap produktif sekaligus merasakan suasana kebersamaan.

Selain menuntut kemandirian, awal Ramadan di perantauan juga menjadi proses pendewasaan bagi mahasiswa. Situasi tersebut melatih mereka untuk mengatur waktu, mengelola kebutuhan pribadi, serta membangun kebersamaan baru dengan lingkungan sekitar.

Bagi mahasiswa rantau, Ramadan tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga pengalaman sosial yang berbeda dari biasanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *