Kalijaga.co – Di zaman sekarang, media sosial udah kayak “rumah kedua” buat banyak orang, terutama perempuan dari kalangan Gen Z. Hampir semua aktivitas dari hal penting sampai hal receh sekalipun bisa dibagikan di media sosial.
Tapi kalau dipikir-pikir lebih dalam, sebenarnya yang kita tampilkan di media sosial itu bukan cuma sekedar postingan biasa. Ada proses yang secara sadar maupun tidak sadar kita lakukan, yaitu membangun personal branding.
Bisa dibilang, personal branding ini adalah cara kita “memperkenalkan diri” ke publik versi digital. Orang yang belum pernah mengenal kita secara langsung dapat mengetahui siapa kita hanya dari isi feed atau caption di media sosial.
Nah, disinilah menariknya perempuan punya peluang besar untuk membentuk citra dirinya, tetapi di saat yang bersamaan dirinya juga menghadapi tekanan yang tidak sedikit.
Media Sosial: Ruang Bebas atau Justru Penuh Tekanan?
Di satu sisi, media sosial memberi perempuan banyak kesempatan. Kita bisa menjadi apa saja yang kita mau. Seperti mahasiswi yang aktif berbagai insight, bisa jadi content creator, atau sekedar sharing keseharian tapi tetap meaningful. Bahkan pada akhirnya, banyak perempuan yang dikenal punya “value” karena konsisten dengan kontennya.
Misalnya ada perempuan yang fokus di ranah edukasi, ada yang fokus di self development, bahkan ada juga yang fokus menegai lifestyle. Orang-orang mulai mengenal dirinya dengan mengatakan, “Oh, perempuan itu orangnya produktif”’, atau “Oh, perempuan itu suka membahas hal-hal yang relate banget sama perempuan Gen Z”.
Tapi di sisi lain lain, standar yang ditetapkan di media sosial terkadang tidak masuk akal. Perempuan sering dituntut untuk terlihat cantik, rapi, produktif, dan seolah hidupnya selalu baik baik saja. Akhirnya, tanpa sadar banyak perempuan yang merasa insecure hanya karena membandingkan diri dengan apa yang mereka lihat di layar.
Personal Branding : Antara Jujur atau Sekedar Pencitraan?
Pembahasan ini yang sering jadi dilema perempuan. Personal branding itu penting, tapi batas antara “menampilkan diri” dan “mencitrakan diri” kadang tipis banget.
Sebagai perempuan kita sering dihadapkan pada standar yang serba “nanggung”. Kalau terlalu tampil percaya diri, bisa dibilang sombong. Tapi kalau terlalu biasa aja, dianggap tidak punya value. Tentu jadi serba salah.
Akhirnya, banyak yang memilih untuk menyesuaikan diri dengan apa yang “laku” di media sosial. Ikut tren, bikin konten yang lagi viral, atau bahkan memoles kehidupan supaya terlihat lebih menarik. Tidak sepenuhnya salah sih, tapi kalau terlalu jauh dari diri sendiri, lama-lama capek juga.
Personal branding yang kuat itu justru yang paling “nyata”. Bukan berarti hidup penuh gimmick, tapi lebih ke jujur sama diri sendiri apa adanya. Misalnya, kalau memang lagi nggak produktif, tidak ada alasan untuk terus menunjukkan tingkat produktivitas yang lebih tinggi.
Karena orang zaman sekarang juga makin bisa ngerasain mana yang tulus dan mana yang dibuat-buat.
Cara Perempuan Bangun Personal Branding yang “Ngena”
Kalau ngomongin strategi, sebenarnya tidak harus ribet. Justru yang sederhana tapi konsisten itu yang biasanya lebih “kena”.
Pertama, kenali dulu diri sendiri. Ini basic banget, tapi sering dilewatkan. Kita harus tahu, kita mau dikenal sebagai apa? Apakah sebagai mahasiswi gen Z yang kritis? Perempuan yang self-aware? Atau seseorang perempuan karir yang kreatif? Dari situ, konten yang kita buat jadi lebih terarah.
Kedua, konsisten. Tidak harus setiap hari posting, tapi penting untuk menjaga “benang merah” dari apa yang kita tampilkan. Misalnya hari ini bahas self improvement, besok juga masih di sekitar itu, jadi orang nggak bingung dengan “identitas” kita.
Ketiga, gunakan storytelling. Ini penting banget, apalagi buat perempuan. Cerita personal biasanya lebih relate dan lebih gampang connect ke audiens. Tidak harus cerita yang berat, bahkan hal sederhana pun bisa jadi meaningful kalau disampaikan dengan jujur dan penuh yapping ala gen z.
Keempat, jangan lupa berinteraksi dengan orang lain. Media sosial itu bukan cuma soal upload, tapi juga soal komunikasi. Balas komentar, ngobrol di DM, atau sekadar reply story orang lain itu semua bagian dari membangun personal branding juga.
Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Jujur saja, membangun personal branding sebagai perempuan sering menjadi tantangan. Salah satunya adalah komentar negatif. Entah itu body shaming, kritik yang tidak membangun, atau bahkan hate speech. Hal-hal kayak gini bisa banget ngaruh ke mental, apalagi kalau kita belum punya “filter” yang kuat.
Selain itu, ada juga budaya membandingkan diri. Kadang kita ngerasa udah cukup, tapi begitu lihat orang lain yang “lebih” langsung insecure. Ini manusiawi sih, tapi kalau terus-terusan, bisa bikin kita kehilangan arah.
Belum lagi tekanan untuk selalu terlihat “baik-baik aja”. Padahal, realitanya semua orang punya fase down. Tapi karena media sosial menuntut kita untuk tampil “rapi”, akhirnya banyak yang memendam hal-hal yang sebenarnya penting untuk diakui.
Personal Branding sebagai Bentuk Pemberdayaan
Walaupun banyak tantangan, personal branding menjadi sesuatu yang powerful, terutama untuk perempuan. Dengan personal branding yang kuat, perempuan bisa membuka banyak peluang. Bisa dikenal lebih luas, bisa membangun networking, bahkan bisa jadi jalan karir.
Sekarang udah banyak perempuan yang berangkat dari media sosial, lalu berkembang jadi public figure, entrepreneur, atau bahkan aktivis.
Lebih dari itu, personal branding juga bisa jadi bentuk self-empowerment. Ketika kita tahu siapa diri kita dan berani menunjukkannya ke publik, itu sebenarnya langkah besar. Kita jadi lebih percaya diri, lebih sadar nilai diri, dan nggak gampang goyah sama penilaian orang lain.
Jadi Diri Sendiri Itu Cukup
Di tengah semua tuntunan dan standar yang ada di media sosial, satu hal yang penting untuk diingat adalah bahwa kita tidak perlu menjadi orang lain untuk terlihat “bernilai”. Personal branding adalah tentang konsistensi, bukan kesempurnaan.
Tidak masalah jika dirimu belum memiliki konsep yang “rapi” dan masih coba-coba. Karena proses menemukan “suara” kita sendiri membutuhkan banyak waktu. Yang penting, tetap sadar bahwa media sosial itu alat, bukan penentu nilai diri kita.
Pada akhirnya, personal branding yang paling kuat adalah yang paling jujur bukan lagi soal gimmick. Bukan yang paling estetik, bukan yang paling viral, tapi yang paling “kita banget”.
Karena di dunia yang isinya serba dibuat-buat, jadi diri sendiri justru jadi hal yang paling langka, dan paling berharga.
Penulis: Nadia Afisa Amni | Editor: Nayla Nur Hidayah