Kalijaga.co — Pasca berakhirnya bulan Ramadan, aktivitas di Masjid UIN Sunan Kalijaga tetap menunjukkan dinamika yang hidup. Meskipun tidak lagi berada dalam suasana intens seperti saat Ramadan, masjid ini masih menjadi pusat kegiatan ibadah sekaligus ruang interaksi akademik bagi mahasiswa.
Berdasarkan keterangan pihak takmir, kondisi jamaah setelah Ramadan cenderung kembali seperti sebelum bulan suci. Pada hari kerja, khususnya Senin hingga Jumat, jumlah jamaah masih tergolong ramai, terutama pada waktu salat Dzuhur dan Ashar.
Dalam satu waktu salat berjamaah, jumlah saf dapat mencapai hingga tujuh baris dengan kisaran sekitar 40 jamaah, yang didominasi oleh mahasiswa yang memanfaatkan jeda perkuliahan.
“Kalau hari biasa, terutama Dzuhur dan Ashar, jamaah masih cukup ramai. Banyak mahasiswa yang datang saat jeda kelas,” ujar Alfian salah satu takmir masjid.
Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid juga berfungsi sebagai ruang multifungsi bagi mahasiswa. Selasar masjid kerap dimanfaatkan untuk beristirahat, mengerjakan tugas, hingga berdiskusi.
Selain itu, masjid juga terbuka untuk berbagai kegiatan, baik internal maupun eksternal, seperti kajian, pameran, hingga penyelenggaraan acara tertentu melalui sistem peminjaman tempat.
Dari sisi kegiatan keagamaan, sejumlah program rutin tetap berjalan pasca Ramadan. Takmir menyebutkan adanya kajian tematik yang diadakan setiap Senin dengan topik beragam, mulai dari psikologi hingga ekonomi. Sementara itu, pada hari Kamis, kajian difokuskan pada tema-tema seperti ilmu waris dan pernikahan.
Selain kegiatan internal, terdapat pula aktivitas dari komunitas dan unit lain di lingkungan kampus. Kegiatan seperti kelas murotal yang diselenggarakan oleh UKM JQH Al-Mizan rutin diadakan pada pertengahan pekan, serta program dari Fakultas Dakwah yang sesekali memanfaatkan masjid sebagai ruang kegiatan.
“Respons jamaah sejauh ini cukup baik. Kalau ada kajian dengan tema yang menarik, biasanya cukup banyak mahasiswa yang datang, apalagi kalau berkaitan dengan topik akademik umum,” jelas pihak takmir.
Hal ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah formal, tetapi juga sebagai ruang alternatif pembelajaran di luar kelas. Bagi sebagian mahasiswa, kegiatan di masjid menjadi pilihan untuk menyeimbangkan aktivitas akademik dengan kebutuhan spiritual.
Tiya, salah satu jamaah yang juga terlibat dalam kepengurusan kegiatan masjid mengungkapkan bahwa dirinya masih rutin datang ke masjid, meskipun tidak seintens saat Ramadan.
“Masih rutin, tapi biasanya di sela-sela kuliah, seperti Dzuhur atau Ashar. Sekalian istirahat juga karena tempatnya adem dan nyaman,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa secara umum tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan antara suasana masjid saat Ramadan dan setelahnya. Menurutnya, masjid tetap ramai, hanya saja nuansa Ramadan memberikan pengalaman yang berbeda.
“Kalau Ramadan mungkin lebih terasa suasana capek, lapar, dan banyak yang istirahat di masjid. Tapi di luar Ramadan, tetap ramai juga, cuma vibes-nya saja yang beda,” tambahnya.
Dalam hal kebiasaan ibadah, ia mengakui bahwa intensitas ibadah sunnah cenderung lebih tinggi saat Ramadan. Meski demikian, upaya untuk menjaga konsistensi ibadah tetap dilakukan, terutama dalam menjalankan salat lima waktu tepat waktu.
Selain sebagai tempat ibadah, keterlibatannya dalam kepengurusan kegiatan masjid juga menjadi salah satu faktor yang mendorongnya untuk tetap aktif datang ke masjid.
Berbagai kegiatan rutin seperti pengajian, penyampaian materi, hingga rapat organisasi sering kali memanfaatkan area masjid, termasuk selasar yang dinilai nyaman untuk berdiskusi maupun mengerjakan tugas.
Pihak takmir berharap ke depan masjid dapat terus berperan sebagai ruang yang tidak hanya memenuhi kebutuhan ibadah, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan mengembangkan keilmuan.
“Harapannya masjid tetap menjadi tempat ibadah yang juga punya nilai filosofis, dan mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas yang ada, baik untuk belajar, berdiskusi, maupun kegiatan lainnya,” ungkapnya.
Dengan berbagai aktivitas yang masih berjalan, Masjid UIN Sunan Kalijaga menunjukkan bahwa keberadaannya tetap relevan bagi kehidupan kampus, bahkan setelah Ramadan berakhir.
Dinamika yang ada mencerminkan bagaimana masjid mampu beradaptasi dengan kebutuhan jamaah, baik sebagai tempat ibadah maupun ruang interaksi sosial dan intelektual.
Reporter Shaifa Feluna Eka Yulia
- Pasca Ramadan, Masjid UIN Sunan Kalijaga Tetap Hidup dengan Aktivitas Ibadah dan Akademik - 26 April 2026
- Khidmat di Ujung Hari - 24 April 2026
- Eksplorasi Gaya: Mahasiswi dalam Kenyamanan Outfit Kekinian - 24 April 2026