crossorigin="anonymous">

Menjadi Kartini Modern: Antara Tanggung Jawab Akademik dan Gerakan Sosial Mahasiswa

Kalijaga.co – Setiap tanggal 21 April, kita kembali dihadapkan pada ritual tahunan: memakai kebaya, mengadakan lomba pidato, atau sekadar mengunggah kutipan “Habis Gelap, Terbitlah Terang” di status media sosial. Namun, bagi seorang mahasiswa, peringatan Hari Kartini seharusnya lebih dari sekadar nostalgia sejarah. Raden Ajeng Kartini bukanlah monumen diam yang hanya kita kenang setahun sekali. Ia adalah seorang intelektual muda, seorang millenial di zamannya, yang gelisah, membaca, menulis, dan berani melawan arus.

Lantas, apa kabar perjuangan Kartini hari ini? Apakah usai perempuan boleh bersekolah, perjuangan selesai? Tentu tidak. Artikel ini akan membahas tentang tiga pilar relevansi RA Kartini yang harus dihidupkan oleh mahasiswa masa kini.

Pendidikan sebagai “Kebebasan Berpikir”, Bukan Sekadar Ijazah

Dalam berbagai pidatonya, aktris sekaligus aktivis pendidikan Maudy Ayunda menyoroti bahwa esensi perjuangan Kartini terletak pada pendidikan sebagai jalan menuju kebebasan. “Kebebasan dalam berpikir, kebebasan dalam aktualisasi diri,” ujar Maudy dalam sebuah peringatan Hari Kartini di Jakarta .

Ini adalah kritik keras bagi mahasiswa modern. Seringkali, kita terjebak dalam rutinitas mencari Indeks Prestasi (IP) tinggi dan mengejar gelar, namun miskin akan keberanian berpikir kritis. Padahal, menurut Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA), Ana Crinstanti, Kartini adalah “perempuan pembelajar” yang membuktikan bahwa kekuatan kata-kata dan pendidikan bisa menembus batas sosial .

Mahasiswa masa kini perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah kuliah hanya membuat saya pintar secara teknis, ataukah membuat saya merdeka dalam berpikir? Kartini tidak semata ingin perempuan bisa sekolah; ia ingin perempuan bisa menjadi subjek atas hidupnya sendiri, mampu menganalisis ketidakadilan, dan berani bersuara. Inilah esensi “Merdeka Belajar” yang digaungkan saat ini: belajar untuk menjadi manusia yang merdeka, bukan mesin pencari kerja.

Literasi dan Media Sosial: Menulis sebagai Senjata

Kartini tidak pernah duduk di bangku universitas. Namun, ia memiliki “kelas” yang tidak dimiliki banyak akademisi saat ini: literasi yang tajam. Melalui surat-suratnya kepada sahabat-sahabat penanya di Belanda, ia membangun jaringan pengetahuan dan menyuarakan protesnya terhadap kolonialisme dan feodalisme.

“Saya sangat percaya atas pentingnya budaya cinta membaca dan budaya cinta menulis untuk menyampaikan pemikiran dan perspektif kita,” tegas Maudy Ayunda.

Di era digital, mahasiswa memiliki “surat” yang jauh lebih kuat: media sosial, blog, dan jurnal ilmiah. Sayangnya, privilese ini sering disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian, hoaks, atau konten hiburan semata. Jika Kartini hidup di tahun 2026, ia mungkin tidak akan mengirim surat dengan perangko, melainkan akan menulis thread panjang di Twitter (X) atau esai mendalam di LinkedIn untuk melawan ketidakadilan.

Mahasiswa masa kini harus menjadi “Kartini-Kartini digital” yang mengisi ruang siber dengan gagasan konstruktif. Rektor UPGRIS, Sri Suciati, dalam bedah buku Trilogi Kartini menyebutkan bahwa Kartini adalah pemikir kritis dan progresif. Ciri pemikir kritis adalah ia tidak hanya menerima informasi mentah-mentah, ia mengolah, mengkritisi, lalu menuliskan solusi.

Emansipasi Sejati: Melampaui Belenggu Zaman dan Gender

Salah satu wacana yang paling hangat di kalangan mahasiswa saat ini adalah isu toxic masculinity dan kesetaraan gender. Namun, kadang emansipasi disalahartikan sebagai pertarungan antara jenis kelamin.

Seorang mahasiswi Untag Surabaya, Yurie Salsabilla, memberikan perspektif yang jernih. Menurutnya, “Emansipasi wanita yang sesungguhnya adalah seperti kebijaksanaan RA Kartini… bahwa perempuan layak untuk memiliki peran di masyarakat tanpa menghilangkan marwah sebagai ‘perempuan’ itu sendiri”.

Hal ini diperkuat oleh Prof. Amiartuti Kusumaningtyas, Guru Besar Untag Surabaya, yang menekankan bahwa perjuangan wanita masa kini harus diimbangi dengan kodratnya sebagai manusia seutuhnya (ibu, sahabat, partner), serta tidak anti terhadap perubahan .

Bagi mahasiswa, relevansinya jelas: perjuangan belum selesai. Meski akses pendidikan sudah terbuka, isu ketimpangan upah, pelecehan seksual di lingkungan kampus, serta rendahnya representasi perempuan di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) masih menjadi “pekerjaan rumah” besar. Menariknya, semangat Kartini mulai merambah ke ranah yang sebelumnya didominasi pria. BBPPMPV BMTI Kemdikbud melaporkan semakin banyak perempuan terjun ke pendidikan vokasi seperti otomotif dan konstruksi. Ini adalah wujud nyata “Kartini Zaman Kini” yang menyalakan terang dari bengkel dan ruang praktik .

Menggerakkan Organisasi dan Aksi Nyata

Mahasiswa identik dengan gerakan. Namun, gerakan mahasiswa seringkali terjebak pada aksi demonstrasi yang berorientasi pada tuntutan sesaat. Kartini mengajarkan model perjuangan yang berbeda: advokasi sistemik melalui budaya.

Di kampus-kampus seperti UIN Walisongo, semangat ini dihidupkan melalui kunjungan budaya dan kerja sama internasional yang membawa nilai-nilai Kartini ke kancah global . Di tempat lain, mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Sumatera Utara menyebarkan semangat emansipasi melalui konten kreatif di media sosial.

Para mahasiswa masa kini harus meneladani bahwa perjuangan tidak harus dengan nyala api yang membakar gedung. Perjuangan bisa dimulai dari dalam kelas: mempertanyakan kebijakan rektorat yang tidak ramah gender, menolak perundungan akademik, atau membangun startup sosial yang memberdayakan perempuan di daerah tertinggal.

Estafet yang Tak Boleh Putus

RA Kartini wafat di usia 25 tahun usia yang masih sangat muda, bahkan lebih muda dari rata-rata mahasiswa S2 saat ini. Di usianya yang singkat, ia mampu mengguncang fondasi budaya patriarki hanya dengan tinta dan kertas.

Karena itu, jangan biarkan semangat Kartini mati hanya karena kita sibuk dengan rutinitas kelas atau hiruk-pikuk dunia maya. Seperti yang disuarakan oleh keluarga besar UIN Sumatera Utara, “perubahan sosial bukanlah hasil dari satu generasi saja, melainkan estafet panjang perjuangan”.

Jadilah mahasiswa yang terang, bukan hanya gelar. Karena perjuangan Kartini bukanlah tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang menyelesaikan apa yang ia mulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *