Kalijaga.co – Media kampus seringkali dianggap sebagai ruang yang netral tempat berbagi informasi, gagasan, dan dinamika kehidupan mahasiswa. Namun, jika diamati lebih dekat, representasi yang muncul di dalamnya tidak selalu bebas dari bias, terutama dalam hal gender. Mahasiswi, sebagai bagian dari komunitas akademik, kerap hadir dalam bingkai yang belum sepenuhnya setara.
Mahasiswi selalu dianggap sebelah mata dinilai kurang berbakat dan mampu dalam hal menyuarakan nilai-nilai di kampus, banyaknya beranggapan bahwa mahasiswi boleh bertindak pada kegiatan yang tidak terlalu mencolok dan hanya bertugas sesuai dengan patutnya seorang perempuan saja, hal ini terjadi berbanding lurus dengan stigma seorang perempuan di masyarakat dulu sebelum adanya sebuah perubahan dan pergerakan.
Dalam berbagai publikasi media kampus, baik itu portal berita, majalah mahasiswa, hingga konten media sosial, sosok mahasiswi sering ditampilkan dengan penekanan pada sisi personal atau estetika. Misalnya, liputan tentang mahasiswi yang berprestasi kerap disandingkan dengan deskripsi penampilan fisik atau gaya hidupnya. Hal ini berbeda dengan mahasiswa laki-laki yang lebih sering disorot dari aspek capaian akademik atau kepemimpinan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konstruksi sosial mengenai gender masih berpengaruh kuat dalam cara media kampus menyusun narasi. Mahasiswi tidak jarang diposisikan dalam peran-peran yang “aman” secara sosial, seperti aktif di bidang seni, sosial, atau kegiatan yang dianggap lebih “feminin”. Sementara itu, ruang-ruang strategis seperti politik kampus atau organisasi besar lebih sering diasosiasikan dengan laki-laki.
Padahal, realitas di lapangan tidak selalu demikian. Banyak mahasiswi yang terlibat aktif dalam organisasi, memimpin komunitas, hingga menjadi penggerak perubahan di lingkungan kampus. Sayangnya, kiprah ini tidak selalu mendapatkan porsi pemberitaan yang setara. Ketimpangan ini bukan hanya soal jumlah, tetapi juga bagaimana cerita mereka dibingkai, di adopsi kembali dan disebarluaskan lagi perihal mahasiswi yang belum mampu dan dianggap kurang berkualitas. Dikarenakan mungkin publik akan lebih tertarik perihal berita seperti ini daripada kenyataan bahwa mahasiswi juga mampu melakukan hal-hal yang bersinggungan dengan kepimpinan .
Di sisi lain, perkembangan media digital sebenarnya membuka peluang baru untuk menghadirkan representasi yang lebih adil. Mahasiswi kini tidak hanya menjadi objek pemberitaan, tetapi juga subjek yang aktif memproduksi konten. Banyak dari mereka yang memanfaatkan platform seperti Instagram dan TikTok untuk menyuarakan isu-isu penting, mulai dari pendidikan, kesehatan mental, hingga kesetaraan gender.
Tidak sedikit mahasiswa mampu menjadikan dirinya seorang yang dapat membuat trend dan banyak diikuti oleh masyarakat media baru, membuat banyak mahasiswi lainya menjadi terinfluence dan berusaha tampil percaya diri di depan publik terutama di media sosial.
Namun, tantangan tetap ada. Algoritma media sosial yang cenderung mengutamakan konten visual menarik sering kali membuat pesan substantif kalah bersaing dengan konten yang lebih ringan. Akibatnya, mahasiswi yang ingin menyampaikan gagasan serius harus berhadapan dengan tuntutan untuk tetap “menarik” secara visual, karena tuntunan inilah banyak perempuan/ mahasiswi yang hanya fokus terhadap kecantikan fisik semata tanpa memikirkan hal-hal yang jauh lebih urgent dibandingkan yang lainya.
Di sinilah peran media kampus menjadi penting. Sebagai ruang belajar sekaligus praktik jurnalistik, media kampus seharusnya mampu menjadi pelopor dalam menghadirkan narasi yang lebih inklusif. Tidak hanya sekadar menampilkan mahasiswi, tetapi juga memberikan ruang yang setara dalam hal sudut pandang, isu, dan peran yang diangkat.
Langkah sederhana bisa dimulai dari proses redaksi. Misalnya, dengan memastikan keberagaman narasumber, menghindari stereotip dalam penulisan, serta memberikan pelatihan sensitif gender bagi anggota redaksi. Selain itu, penting juga untuk membuka ruang diskusi mengenai bagaimana media kampus merepresentasikan berbagai kelompok, termasuk perempuan.
Kesadaran ini bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga kolektif. Mahasiswa sebagai pembaca juga memiliki peran dalam mengkritisi dan memberi masukan terhadap konten yang disajikan. Dengan begitu, media kampus tidak hanya menjadi cermin realitas, tetapi juga alat untuk mendorong perubahan.
Pada akhirnya, representasi bukan sekadar soal siapa yang tampil, tetapi bagaimana mereka ditampilkan. Mahasiswi bukan hanya pelengkap dalam narasi kampus, melainkan bagian penting yang memiliki suara, gagasan, dan kontribusi nyata. Sudah saatnya media kampus menghadirkan cerita yang lebih jujur dan setara cerita yang tidak lagi terjebak dalam batasan-batasan lama tentang gender.
Perkembangan dari kampus yang memandang sebelah gender atau sebuah ketidaksetaraan menjadi sebuah kampus yang menyetarakan keduanya tidak bias sebelah atau malah memandang rendah salah satu gender, menjadi kampus yang lebih ramah terhadap perempuan dan anak-anak menjadi kampus yang memang menjunjung nilai-nilai kebaikan, keagamaan dan pancasila adalah sebuah pondasi yang perlu ditanamkan di berbagai kampus terutama kampus di indonesia.
Dengan begitu, kampus benar-benar menjadi ruang yang inklusif, di mana setiap individu, tanpa memandang gender, memiliki kesempatan yang sama untuk dilihat, didengar, dan dihargai.
Penulis: Churiah Nur Azizah