Kalijaga.co – Saat mengikuti acara festival literasi kaliurang dengan judul #mencatat pengalaman perempuan yang diisi oleh pembicara yaitu seorang penulis perempuan, aktivis yang selalu bersuara saat keadilan tak lagi diperjuangkan oleh negara ini, Kalis Mardiasih.
Beliau menyinggung banyak hal seperti konten kreator, kepenulisan dan yang utama yaitu gender. Tema gender sangat menyita perhatian, khususnya saat sesi pembahasan inti tersebut.
Salah satu pembahasan tentang gender adalah pembahasan tentang penyakit perempuan yang jarang sekali diidap oleh kebanyakan perempuan. Beliau menjelaskan bahwa penyakit ini jarang dibahas di ruang publik dikarenakan stigma sosial.
Penyakit ini bernama vaginismus, penyakit perempuan yang jarang dibahas oleh khalayak umum dan hanya diketahui oleh sebagian kecil masyarakat terutama yang mengidapnya.
Pengidap mengatakan yang dirasakan saat mempunyai penyakit ini adalah rasa malu, bersalah, aneh dan ketidaktahuan akan penyakit ini membuat mereka enggan berobat.
Sebagai perempuan mempunyai penyakit ini seperti sebuah mimpi buruk yang mengerikan. Bagaimana tidak, publik tidak pernah menjelaskan bahkan membuat sebuah pemahaman perihal penyakit ini.
Lalu apa itu vaginismus? Vaginismus adalah sebuah kondisi otot vagina mengencang secara tidak sadar akibat ketakutan. Trauma menyebabkan penetrasi terasa menyakitkan, mustahil untuk dilakukan, disebabkan karena infeksi jamur, ISK, atau juga menopuse.
Kalis mardiasih juga menjelaskan keadaan ini ternyata banyak dirasakan oleh wanita-wanita indonesia bahkan dunia. Di negara luar perempuan berani untuk berbicara kepada suami atau keluarganya, sehingga mendapat penanganan terbaik dan dapat disembuhkan.
Berbeda dengan Indonesia yang masih cukup kental dengan patriarki yang dapat mempengaruhi pandangan perempuan perihal penyakit ini. Patriarki menjadi pemicu perempuan atau istri jarang berobat perihal vaginismus.
Kebanyakan dari mereka bercerita bahwa mereka malu, takut dikira hal tersebut aneh dan sebuah kecacatan. Padahal kalau mereka bilang dan berobat kemungkinan sembuh dari penyakit vaginismus ini.
Untuk memberikan semangat dan pemahaman kepada banyak perempuan, Kalis Mardiasih mengatakan bahwa terdapat komunitas di sosial media yakni instagram yang menjadi wadah untuk merangkul perempuan-perempuan pengidap penyakit ini, yaitu akun @pejuangvagisnismh.
“Mereka seakan-akan memberikan pelukan dan penerimaan terhadap perempuan-perempuan yang memiliki penyakit ini. Mereka akan memberikan sebuah penjelasan, konsultasi, sesi curhat pribadi, lalu solusi. Terkadang mereka juga gemar membuat seminar-seminar dan menyebarkan secara luas tentang pemahaman dan kondisi penyakit vaginismus atau kelainan kelamin perempuan yang tidak bisa bereaksi terhadap rangsangan saat berhubungan dengan pasangan,” tambah Kalis.
Penyakit ini tentunya perlu diketahui dan dipelajari. Menurut penjelasan medis penyakit ini bisa diidap oleh 7 orang dari 100 orang, kemungkinan terdampak di masa subur perempuan.
Bayangkan jika dari 7 orang tersebut enggan untuk membicarakan ini dan enggan berobat, lalu berapa banyak rumah tangga yang akan jadi korban karena keengganan untuk terbuka dan berani bercerita tentang penyakit ini.
Menurut para ahli di bidang keluarga dan sosial, kunci harmonisnya sebuah rumah tangga atau keluarga antara pasangan adalah puasnya dalam berhubungan mesra antara suami dan istri. Sedangkan kalau istri mempunyai penyakit ini dan tidak disembuhkan hubungan keduanya tidak akan memuaskan satu sama lain, dan keharmonisan di rumah tangganya juga akan terganggu bahkan mulai menurun.
Kementerian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak-Anak perlu gencar dan fokus terhadap kondisi ini. Perlu adanya sebuah seminar dan pelatihan-pelatihan khusus di semua daerah-daerah terutama daerah yang masih terbelakang karena biasanya di sana masih minim pengetahuan dan akses untuk mengetahui dan menyembuhkan penyakit vaginismus ini.
Penyakit ini memang kebanyakan diketahui saat sudah menikah dan lebihnya saat sudah berhubungan badan dengan pasangan. Padahal saat gadis atau masih perawan juga bisa diketahui dengan cara pemeriksaan terlebih dahulu.
Hal ini jauh lebih baik dan bisa ditangani secara cepat daripada diketahui saat sudah menikah. Karena mengobati saat lajang lebih baik daripada saat sudah menikah. Ketika sudah menikah, sudah memiliki suami, akan ada banyak pertimbangan sehingga perempuan atau istri akan lebih sulit dalam mengungkapkan.
Dari perspekif sebagai mahasiswi dan mahasiswa saat ini tentu dapat berperan dalam memberikan edukasi, pemahaman dan pelatihan kepada masyarakat terutama kepada perempuan, istri, dan ibu-ibu. Hal tersebut penting untuk memberikan pemahaman akan kesehatan dan keadaan diri.
Opini ini dibuat agar publik mengetahui akan penyakit vaginismus terutama kaum perempuan. Bagi pengidap penyakit ini harap jangan untuk disesali tetapi untuk di obati.
Penulis: Churiah Nur Azizah | Editor: Nayla Nur Hidayah