crossorigin="anonymous">

Cherry District: Oase Ngabuburit “Kalcer” di GIK UGM, Alternatif Ruang Kreatif Jelang Cherrypop 2026

Kalijaga.co – Pada tanggal 8 Maret 2026, aku memutuskan untuk menyempatkan diri mampir ke acara Cherry District: “Road to Cherrypop 2026” yang berlokasi di Zona D Art Gallery, GIK UGM. Hari itu adalah hari terakhir rangkaian acara yang sudah dimulai sejak 27 Februari 2026. Begitu melangkah masuk, telingaku langsung disambut oleh perpaduan hangat antara suara obrolan ringan pengunjung dan alunan musik samar dari sesi spinning piringan hitam.

Acara yang dibuka setiap pukul 15.00 hingga 22.00 WIB ini tidak memungut biaya masuk, alias gratis bagi siapa pun. Namun, bagiku, Cherry District bukan sekadar bazar atau pasar kaget. Ini adalah sebuah pesta kecil bagi skena musik dan komunitas kreatif Jogja yang sedang mencari ruang kumpul di tengah bulan Ramadan. Lebih dari itu, acara ini menjadi pelampiasan bagiku yang harus dipendam akibat pembatalan sebuah konser yang sangat ingin aku hadiri sebelumnya. Di sinilah aku menemukan tempat ngabuburit “kalcer” yang menawarkan cita rasa berbeda dari rutinitas biasanya.

Sebagai agenda pemanasan menuju festival besar Cherrypop Festival 2026 yang rencananya akan digelar Agustus mendatang di Candi Prambanan, Swasembada Kreasi bersama GIK UGM menginisiasi acara ini sebagai bagian dari rangkaian Ramadan Fest. Selama sepuluh hari, area ini berubah menjadi pusat perbelanjaan rilisan fisik dan pernak-pernik indie. Terdapat setidaknya 18 lapak merchandise band indie yang menawarkan kaos, patch, hingga stiker yang cukup menggoda. Selain itu, ada 11 toko merchandise band, 10 toko rilisan fisik (record store) dengan koleksi vinyl dan kaset langka, hingga 13 penerbit buku yang menyediakan zine, novel grafis, serta buku-buku bertema musik.

Pada kunjungan di hari terakhir tersebut, aku sempat “cuci mata” melihat berbagai koleksi merchandise band yang sudah lama aku incar. Seketika, nafsu lapar akibat berpuasa berubah jadi nafsu untuk memborong merch dari band favorit. Meski ini masih awal bulan, kalau melihat pricelist yang terpampang, tetap membuatku harus berpikir dua kali.

Hal yang membuat Cherry District terasa spesial adalah vibe ngabuburitnya yang sangat “kalcer”. Ini bukan tipe ngabuburit mainstream di mana orang-orang hanya berburu takjil di pinggir jalan. Di sini, anak-anak indie bisa duduk santai di area GIK UGM sembari mendengarkan “Kultum Skena-Nya”, sebuah sesi unik yang menghubungkan nilai spiritualitas dengan kreativitas tanpa terkesan menggurui. Pengunjung bisa berkeliling melihat-lihat rilisan fisik, mendengarkan DJ set, atau mengikuti hearing session album baru sambil diskusi memprediksi rilisan-rilisan single atau bahkan album baru dari band-band favorit.

Keberagaman aktivitas yang ada juga sangat menarik, mulai dari workshop live screen print, sesi spinning interaktif, menonton live sketch, bioskop musik, hingga talkshow edukatif. Penampilan dari The Bunbury dan Dabwok turut menghidupkan suasana sore hari. Semua kegiatan ini bersifat inklusif, membuat siapa pun yang datang merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas besar, bukan sekadar konsumen pasif. Bagi mereka yang jenuh dengan acara komersial yang kaku, Cherry District adalah jawaban untuk mendukung gerakan lokal sambil menjalin diskusi.

Suasana di lokasi terasa sangat hidup namun tetap nyaman. Pengunjung yang datang sangat beragam, mulai dari mahasiswa UGM, mahasiswa dari berbagai kampus lain di Jogja, anggota kolektif seni, hingga para ”abang-abangan” indie. Pemandangan orang-orang yang asyik berdiskusi tentang rekomendasi band lokal atau kualitas rekaman tertentu membuat acara ini terasa seperti ajang reuni bagi skena yang sudah lama tidak bertemu. Kolaborasi dengan “Ramadan Fest” memberikan warna unik tersendiri, di mana identitas indie tetap terjaga meski berada dalam bingkai kegiatan bulan suci. Atmosfernya terasa hangat dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengeksplorasi sisi lain dari industri kreatif.

Secara keseluruhan, Cherry District adalah sebuah gerakan yang membuktikan betapa kaya dan aktifnya ekosistem musik di Yogyakarta. Di tengah gempuran festival besar yang sering kali terasa terlalu komersial, acara semacam ini menjadi pengingat penting bahwa musik dan seni tumbuh dari akar rumput, dari obrolan-obrolan santai di sore hari, dukungan terhadap rilisan fisik, dan penyediaan ruang aman untuk bereksperimen. 

Meskipun merasa senang karena acara ini sukses besar, ada sedikit rasa sedih di hati karena aku baru sempat berkunjung tepat di hari terakhir acara. Bagiku, Cherry District adalah babak awal dari cerita besar Cherrypop 2026 yang akan datang. Akarnya tertanam kuat di sini, di ruang sederhana GIK UGM yang memberikan dampak begitu mendalam bagi para pengunjungnya. 

Dua hari setelah penutupan, nuansa dan atmosfernya masih sangat membekas di ingatan. Buat kalian melewatkan momen kali ini, aku saranin untuk pantau terus update informasi di akun Instagram @cherrypopfest atau @cherry_district untuk agenda-agenda selanjutnya. Cherry District bukan sekadar pasar biasa, tapi ruang ngabuburit alternatif yang membuka pandangan kita kalau Jogja selalu punya cara unik untuk merayakan Ramadan dengan santai, kreatif, dan penuh dengan cerita baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *