Kalijaga.co – Salah satu karya serial yang berhasil membuat aplikasi Netflix meroket adalah serial Black Mirror. Serial ini sukses menjadi salah satu karya yang secara konsisten menampilkan hubungan antara manusia dengan teknologi dengan sudut pandang kritis. Ditulis oleh Charlie Brooker, setiap episodenya memiliki plot berbeda tetapi tetap memiliki benang merah yaitu dampak kemajuan teknologi terhadap kehidupan manusia.
Salah satu episode yang berani menyinggung kemajuan teknologi ini berjudul Be Right Back pada Serial Black Mirror season 2, yang disutradarai oleh Owen Harris. Episode ini tayang pada 11 Februari 2013 dengan menghadirkan cerita sederhana tetapi menyentuh kedalaman emosional dan filosofis yang cukup kompleks.
Episode ini berfokus pada kisah seorang perempuan muda bernama Martha yang mendadak harus mengalami perasaan kehilangan setelah pasangannya yang bernama Ash meninggal akibat kecelakaan. Perasaan kehilangan dan fase duka ini tidak digambarkan secara berlebihan, justru digambarkan dengan suasana sunyi dan realistis. Perasaan rapuh Martha atas kehilangan pasangannya semakin terasa saat ia mengetahui bahwa ia mengandung anak dan menyadari bahwa anak itu akan tumbuh tanpa seorang ayah.
Dalam keadaan Martha yang masih berusaha menghadapi dukanya tersebut, dia diperkenalkan oleh temannya salah satu layanan berbasis kecerdasan yang dianggap terpercaya. Layanan ini menawarkan kecerdasan buatan yang memungkinkan seseorang untuk terus “berkomunikasi” dengan orang yang telah meninggal melalui struktur digital berdasarkan rekam jejak online mereka.
Teknologi yang ditampilkan dalam episode ini bekerja dengan mengumpulkan berbagai data digital milik Ash. Data digital yang dikumpulkan melalui pesan teks, unggahan media sosial, email, hingga rekaman suara. Awalnya data ini diolah untuk menciptakan Ash yang dapat berinteraksi hanya melalui pesan teks saja yang kemudian berkembang menjadi suara.
Pada tahap ini, teknologi seperti menawarkan solusi atas rasa kehilangan yang dapat disembuhkan. Martha yang awalnya tenggelam dalam kesedihan mendalam, perlahan merasa terhibur karena seolah-olah ia masih memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan Ash walaupun hanya melalui pesan teks dan suara.
Seiring perkembangan waktu, Martha ditawarkan versi lanjutan berupa robot yang secara sempurna fisiknya menyerupai sosok pasangannya. Tetapi pada tahap ini, cerita mulai berkembang dengan alur yang lebih kompleks. Pada saat inilah konflik utama yang ada dalam episode ini mulai terasa. Kehadiran robot ini bukan hanya teknologi belaka, tetapi juga representasi dari keinginan manusia untuk melawan kenyataan yang dalam konteks ini berarti rasa kehilangan.
Memang pada awalnya, robot ini terlihat sangat sempurna. Robot ini mampu meniru gaya bicara, meniru suara, bahkan kebiasaan Ash dengan sangat detail. Tetapi, kesempurnaan inilah yang akhirnya terlihat sebagai titik kelemahan. Martha secara perlahan menyadari bahwa sosok Ash tidak benar-benar hidup. Robot yang menyerupai Ash ini tidak menunjukan emosi yang tulus yang mana di titik ini berarti ia memiliki ketidaksempurnaan yang selama ini menjadi bagian dari kepribadian manusia normal.
Adanya konflik di episode ini secara halus menyampaikan kritik terhadap manusia memandang teknologi. Teknologi yang ada pada episode ini menunjukkan bahwa secanggih apapun itu, tetap akan memiliki batas dalam merepresentasikan kemanusiaan. Pada nyatanya manusia tidak dapat di duplikat dari kumpulan data menjadi “manusia”. Banyak aspek yang akhirnya tidak dapat ditangkap seperti intuisi, perasaan, serta reaksi spontan yang ada pada diri manusia.
Selain itu, episode ini juga menyentuh fenomena kehidupan digital masa kini, di mana identitas seseorang sering kali direpresentasikan melalui media sosial. Banyak orang merasa bahwa mereka “mengenal” seseorang hanya dari apa yang ditampilkan secara online. Padahal, realitanya jauh lebih kompleks. Apa yang diunggah di media sosial hanyalah bagian kecil dari keseluruhan diri seseorang. Hal-hal yang tidak terlihat justru sering kali menjadi aspek yang paling manusiawi.
Karakter Martha dalam cerita ini menjadi representasi dari manusia modern yang berada di persimpangan antara emosi dan teknologi. Keputusannya untuk menggunakan layanan itu dapat dipahami sebagai bentuk keputusasaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana teknologi bisa menjadi pelarian dari realitas. Alih-alih membantu proses penyembuhan, kehadiran “Ash” versi AI justru memperpanjang rasa kehilangan yang dialami Martha.
Proses berduka yang seharusnya dilalui secara perlahan menjadi tertunda karena adanya ilusi kehadiran. Martha tidak benar-benar kehilangan, tetapi juga tidak benar-benar memiliki. Ia berada di antara dua kondisi yang tidak jelas, yang pada akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan emosional yang lebih dalam. Hal ini menunjukkan bahwa duka bukanlah sesuatu yang bisa dihindari atau digantikan, melainkan harus dihadapi sebagai bagian dari pengalaman manusia.
Dari segi penyajian visual, Be Right Back tidak mengandalkan efek yang berlebihan. Suasana yang dibangun cenderung tenang, bahkan cenderung dingin dan sepi. Pilihan ini justru memperkuat nuansa kesepian yang dirasakan oleh Martha. Setting yang minimalis dan warna yang cenderung redup menciptakan kesan hampa, sejalan dengan kondisi emosional tokohnya.
Alur cerita yang perlahan juga menjadi kekuatan tersendiri. Penonton tidak langsung dihadapkan pada konflik besar, melainkan diajak untuk mengikuti proses perubahan emosi Martha secara bertahap. Dari rasa kehilangan, harapan, kebingungan, hingga akhirnya pada kesadaran bahwa apa yang ia miliki bukanlah Ash yang sesungguhnya. Pendekatan ini membuat penonton lebih mudah terhubung secara emosional dengan cerita.
Menariknya, episode ini tidak memberikan penyelesaian yang sepenuhnya jelas. Di akhir cerita, Martha memilih untuk tetap menyimpan android tersebut, tetapi tidak sebagai pengganti Ash. Sosok tersebut ditempatkan di ruang terpisah, seolah menjadi simbol dari kenangan yang tidak bisa dilepaskan, namun juga tidak bisa sepenuhnya dihadirkan kembali. Keputusan ini terasa ambigu, tetapi justru mencerminkan realitas bahwa tidak semua luka memiliki penutup yang sempurna.
Secara keseluruhan, Be Right Back bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan tentang bagaimana manusia merespons kehilangan. Teknologi dalam cerita ini hanyalah alat, sementara inti dari konflik tetap berada pada emosi manusia. Episode ini mengingatkan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, ada aspek kehidupan yang tetap tidak bisa digantikan, yaitu kemanusiaan itu sendiri.
Pada akhirnya, Be Right Back meninggalkan pertanyaan reflektif yang cukup mendalam: apakah kita benar-benar ingin menghidupkan kembali seseorang yang telah tiada, atau sebenarnya kita hanya belum siap untuk menerima kenyataan bahwa mereka telah pergi?
Penulis Naswa Nafilla Rahma