Kalijaga.co – Waktu sore terasa lebih panjang ketika Ramadan datang. Tubuh kecil ini tetap kubawa melangkah, meski langkah itu lemah dan berat. Di bulan itulah aku berdiri di Dojo INKAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan seragam putih yang mulai kusam akibat terpaan keringat dan waktu.
Tidak ada yang tahu, bahkan mungkin tidak ada yang peduli, bahwa aku saat ini benar-benar berada di sebuah perjalanan fisik. Sabuk biru yang melingkar dipinggangku saat ini bukanlah hal yang sama sekali pernah aku bayangkan, tidak sama sekali. Sabuk yang bukan sekedar tanda kenaikan atau warna semata, melainkan simbol dari suatu proses yang sangat sulit aku bayangkan sebelumnya yaitu, konsisten.
Konsisten menjadi satu hal yang sangat langka di diriku, aku selalu jadi tipe orang yang semangat di awal lalu hilang di tengah jalan. Sebelum Karate, aku pernah mengikuti beberapa cabang olahraga seni bela diri lain tapi tidak bertahan lama. Selalu punya akhir yang sama.
Karate pada awalnya tidak terasa berbeda, karena aku memulainya masih dengan alasan yang sama seperti yang sebelum-sebelumnya, “aku hanya ingin mencoba”. Tapi jauh dari kata itu, pada lubuk hati yang terdalam, ada rasa takut yang menghampiri, “jangan-jangan aku akan berhenti lagi”.
Hal ini yang kemudian aku jadikan refleksi untuk memperbaiki diri, salahku dimana, kurangku dimana, apa yang harus aku tingkatkan, dan mencari tau tujuanku. Meskipun aku terlambat sadar untuk berubah dan keluar dari lingkaran itu.
Latihan pertama membuatku sadar satu hal, tubuhku tidak sekuat egoku. Nafasku cepat habis, gerakanku kaku, bahkan koordinasi tubuh yang berantakan. Latihan pertama memang terlihat canggung dan amatir, tapi aku tetap paksakan diriku untuk datang setiap latihan reguler dijadwalkan, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan berlalu, aku masi bertahan dan berada di jalurku.
Akhirnya tiba saatnya memasuki bulan Ramadan, pikiranku bercabang, bingung ingin melanjutkan atau istirahat sejenak selama periode itu. Padahal banyak orang yang memilih untuk mengurangi aktivitas fisik saat puasa.
Tapi justru waktu-waktu seperti ini yang dimanfaatkan senpai dan sensei untuk melatih kita, katanya “justru disaat seperti ini kalian harus dilatih, waktu sore sebelum magrib disaat cadangan gula di tubuh kalian mulai menurun, jadi tubuh kalian menggunakan cadangan lemak menjadi sumber energi, efeknya apa? tidak ada lonjakan energi, yang ada energi kalian bakal lebih stabil dan juga melatih daya fokus”.
Di titik ini aku benar-benar diajarkan bukan hanya menahan lapar dan haus tapi juga menahan diri dari keinginan yang ada dipikiranku sebelumnya.
Latihan tidak selalu menyenangkan. Kadang membosankan, kadang juga melelahkan. Apalagi latihan saat puasa, benar-benar sebuah ujian mental. Pukulan dan tendangan yang terasa berat, juga kuda-kuda yang terasa lama sampai tubuh rasanya protes dan pikiran mulai bertanya-tanya “kapan sih sesi ini selesai”.
Beruntungnya aku dikelilingi oleh teman-teman yang suportif, kata-kata motivasi dan lelucon yang dilontarkan ketika sesi istirahat menjadi bahan bakar aku, atau mungkin kami untuk melanjutkan ke sesi yang berikutnya. Di saat ini aku baru menyadari salah satu hal yang kurang dalam hidupku dulu adalah partner latihan yang tidak hanya hadir secara fisik, tetapi semangat ketika salah satunya hampir menyerah.
Aku tidak ingin berada di pola yang sama dan gagal sebelum mencapai tujuanku. Aku menyadari adanya perubahan. Menjadi kuat, bukan karena kita berada di situasi nyaman, justru kekuatan datang ketika berada di titik hampir menyerah tetapi malah memilih lanjut. Memang tidak ada transformasi yang instan, tapi proses yang konsisten ini perlahan merubah karakterku.
Aku menjadi lebih disiplin dari sebelumnya, aku belajar datang latihan tepat waktu, atau bahkan lebih awal untuk membantu yang lain menyiapkan matras, dan aku tidak lagi mencari-cari alasan untuk berhenti.
Kepercayaan diriku juga meningkat perlahan, apalagi ketika aku menyadari aku bisa bertahan sampai tahap ini, itu terlihat hal yang harus aku banggakan. Meski begitu aku tau mentalku belum terlalu kuat, masih ada keraguan yang terbesit dan rasa ingin menyerah sesekali. Namun bedanya, kali ini aku tidak akan langsung pergi ketika kesulitan datang, aku menghadapi semua tantangan meski belum sempurna.
Untuk pertama kalinya aku menjalankan sesuatu sampai di tahap yang lebih jauh. Sabuk biru yang kudapat bukanlah akhir dari perjalananku, melainkan titik awal dari proses yang lebih panjang. Banyak hal yang masih harus kupelajari, masih ada mental yang harus diperkuat, dan masih ada batasan yang harus kulampaui.
Ramadan mengajarkanku untuk menahan diri dan latihan mengajarkanku disiplin. Dari keduanya, membuatku yakin, jangan berhenti di tengah jalan dan lanjutkan apa yang aku lakukan dengan konsisten, yakin bahwa aku pasti bisa melangkah lebih jauh dari yang kubayangkan. Kali ini, aku benar-benar siap untuk terus berproses.
Penulis: Naila Anggita Putri | Editor: Nayla Nur Hidayah