Kalijaga.co – Kabut tipis masih kerap menggelayuti celah-celah perbukitan Menoreh ketika aroma gurih kelapa tumbuk dan manisnya juruh gula aren mulai menyeruak dari sebuah kedai sederhana di Dusun Sokomoyo, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tempat inilah, sebuah kuliner langka yang mendobrak pakem gastronomi Nusantara terus dirawat keberadaannya: dawet sambel.
Bagi sebagian besar masyarakat, dawet identik dengan minuman pencuci mulut berkuah santan gurih, sirup gula merah, dan es batu penawar dahaga. Namun, di pelosok perbukitan Kulon Progo, dawet bermutasi menjadi makanan berat bernuansa gurih, pedas, dan manis. Bukan bongkahan es segar, melainkan mangkuk dawet di Sokomoyo justru disandingkan dengan potongan tahu goreng, tauge, taburan bawang goreng, irisan seledri, lalu disiram sambal kelapa pedas manis.
Sosok vital di balik bertahannya racikan legendaris ini adalah Nyi Ponirah. Wanita lanjut usia yang berumur 82 tahun tersebut telah mengabdikan diri, lebih dari enam dekade hidupnya untuk meracik dan menjajakan kuliner unik ini.
“Saya jualan sejak umur 19 tahun. Sudah 66 tahun jualan sambal dawet,” ujar Nyi Ponirah saat ditemui di rumahnya (24/07/2026).
Warisan Mertua dan Inovasi Pelopor
Jejak panjang dawet sambel tak lepas dari tradisi keluarga. Nyi Ponirah mengenang bahwa racikan dawet sambel semula diwariskan dari ibu mertuanya, Mbah Wagiyem, serta kakak iparnya. Kala itu, versi awal sajian ini masih terbilang sangat bersahaja hanya memadukan dawet, garam pendol, sambal, serta sedikit sayuran.
Nyi Ponirah kemudian menjadi sosok pelopor di Dusun Sokomoyo yang memperkaya pelengkap hidangan tersebut. Ia menambahkan bahan-bahan penyempurna seperti bawang goreng renyah, irisan seledri, hingga potongan tahu goreng hangat.
“Kalau yang bikin lengkap pakai berambang dan tahu goreng ini, dari awal ya saya di Sokomoyo,” tuturnya.
Keunikan dawet sambel racikan Nyi Ponirah juga terletak pada bahan baku cendolnya. Di saat dawet pada umumnya memanfaatkan tepung beras atau tepung tapioka, cendol dawet sambel ini dibuat dari adonan tepung ganyong yang dipadukan dengan tepung aren atau sagu.
Tepung ganyong adalah sari pati umbi tanaman ganyong yang tumbuh subur di sekitar Menoreh. Tepung ini memberikan tekstur kenyal nan lembut yang khas.
Meski proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan bahan baku, seperti tepung ganyong yang kini terbilang mahal hingga menyentuh 45 ribu per kilogram, Nyi Ponirah tetap setia menjaga kualitas adonannya.
Racikan Kelapa Tumbuk dan Kehangatan Menoreh
Lantas, bagaimana rasa pedas bersua dengan dawet? Kuncinya terletak pada racikan sambalnya. Sambal dawet bukan terbuat dari ulekan cabai mentah semata, melainkan dari irisan daging kelapa tua yang ditumbuk halus bersama cabai, garam, dan sedikit gula. Perpaduan kelapa tumbuk ini menghasilkan tekstur gurih dengan sensasi pedas-manis yang pas.
Sebelum disiram juruh (nira gula aren murni sebelum menjadi gula cetak keras), racikan cendol ganyong putih ditumpuk bersama irisan tahu goreng, tauge, bawang goreng, dan seledri. Siraman juruh manis dipadu dengan sendok demi sendok sambal kelapa menciptakan simfoni rasa yang tak biasa. Gurih-gurih pedas di awal, disusul rasa manis lezat di akhir.
Bukan tanpa alasan hidangan unik ini tercipta. Hawa dingin yang menyelimuti wilayah pegunungan Menoreh mendorong warga setempat menciptakan makanan yang sanggup memberikan sensasi hangat bagi tubuh. Perpaduan rasa pedas sambal kelapa dan gurihnya tahu hangat menjadikan dawet sambel pilihan tepat sebagai santapan pengganjal perut kapan saja.
“Bukan sekadar minuman es, ini makanan berkuah manis pedas hangat. Banyak yang datang jam lima sore pun masih dicari,” kata Nyi Ponirah.
Mutiara Kuliner yang Menembus Zaman
Keberadaan dawet sambel kini telah melampaui batas batas Dusun Sokomoyo. Berawal dari jajanan pasar lokal, hidangan ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2019 dalam kategori kemahiran dan kerajinan tradisional.
Demi menikmati semangkuk hidangan legendaris ini, Nyi Ponirah biasanya berjualan pada hari-hari pasaran seperti Senin, Rabu, dan Sabtu di Pasar Cublak atau melayani pembeli langsung di rumahnya. Bila dibungkus untuk dibawa pulang ke pasar lokal, porsinya kerap dijual sangat terjangkau.
Di usianya yang telah senja, keberlanjutan kuliner ini mulai dilanjutkan oleh generasi penerus yakni putranya, Andri, beserta kerabat keluarga lainnya kini bersiap meneruskan resep legendaris tersebut agar cita rasa otentik dari pegunungan Menoreh tidak punah digerus zaman.
Di tengah maraknya tren kuliner modern, dawet sambel Nyi Ponirah berdiri sebagai bukti kekayaan gastronomi lokal Kulon Progo, sebuah perjumpaan rasa yang harmoni antara manis, gurih, dan pedas di atas hamparan Pegunungan Menoreh.
Penulis: Andara Angesti | Editor: Nayla Nur Hidayah
- Harmoni di Tanah Sokomoyo: Ketika Tradisi Saparan Merajut Toleransi dan Syukurnya Dua Umat - 28 Agustus 2026
- Kala Sambal Bersua Dawet di Rimba Menoreh: Senandung Manis Pedas Racikan Nyi Ponirah - 28 Agustus 2026
- Sesi Kedua Pelatihan Dakwah Digital: Bahas Unsur Utama hingga Strategi Kreatif Pembuatan Konten - 22 Agustus 2026