crossorigin="anonymous">

Seporsi Makanan Penyambung Ukhuwah Dalam Dua Dekade

Kalijaga.co – Aroma masakan mulai menguar sejak pagi di salah satu sudut Yogyakarta. Di dapur sederhana milik warga sedang berlangsung sebuah aktivitas langka yang dimulai bahkan sebelum matahari meninggi. Bagi mereka bulan Ramadhan bukan sekadar soal menahan lapar dan dahaga, akan tetapi kesempatan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain saat berbuka.

Tradisi berbagi makanan di Masjid Margo Yuwono telah berlangsung sejak sebelum tahun 2003. Sudah lebih dari dua dekade, kegiatan ini menjadi denyut dari kehidupan masyarakat kala Ramadhan. 

“Sebenarnya kalau takjil itu kaitannya dengan bulan ramadhan, berlomba-lomba dalam bersedekah. Jadi Masjid Margo Yuwono itu memfasilitasi warga masyarakat yang muslim untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujar Hesti salah satu warga sekitar masjid Margo Yuwono yang terlibat aktif. Menurutnya berbagi takjil bukan semata-mata kegiatan rutin tiap tahun, akan tetapi wadah bagi masyarakat untuk bersaing dalam kebaikan.

Dari Warga Untuk Warga

Tradisi satu ini rupanya menjadi momen yang dinantikan oleh warga, suasana antusias dari mereka sudah terasa sejak Ramadan belum ditetapkan. Rangkaian kegiatan sudah dipersiapkan sejak dini. Mereka percaya bahwa niat tulus yang dilahirkan akan mempererat keakraban sesama.

Ratusan porsi yang setiap senja dinantikan mereka yang berpuasa, merupakan hasil kontribusi dari lima kepala keluarga di setiap harinya. Warga diluar dusun juga memiliki peluang untuk dapat berpartisipasi dalam momen perolehan amal ini. 

Masyarakat setempat percaya bahwa segala bentuk usaha dan peluh yang mereka upayakan adalah untuk kebahagiaan diri mereka kembali. Pada bulan yang tak sekadar istimewa ini, banyak hati yang yakin bahwa kebahagiaan akan terasa lebih utuh ketika dibagikan.

Proses Di Balik Sepiring Takjil

Hidangan yang tersusun rapi di serambi masjid ketika menjelang maghrib ternyata adalah hasil dari proses yang panjang. Persiapan bahan-bahan yang akan digunakan sudah dimulai sejak hari sebelumnya. Memasuki hari H, aktivitas memasak dapat berlangsung sejak pagi hingga siang.

Sekitar pukul 11 siang, proses pengemasan makanan mulai dilakukan. Targetnya semua makanan selesai dan siap diantar menuju masjid pukul 3 atau 4 sore sebelum waktu berbuka tiba. Jika dikalkulasikan , proses keseluruhan memerlukan waktu lebih dari 10 jam. Namun tak ada keluhan yang terdengar.

“Tantangan sebenarnya tidak ada, karena sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Justru saya merasa senang membuat sajian untuk berbuka di momen Ramadhan ini,” ungkap Bu Hesti sambil tersenyum.

Dari  Jadwal Pelaksanaan; Sistem Yang Terorganisir

Dibalik kelancaran distribusi takjil di masjid Margo Yuwono, terdapat sistem pembagian tugas yang terorganisir dengan baik. Setiap harinya belasan remaja masjid siap menjadi relawan dalam proses distribusi takjil. Mereka saling bahu-membahu sejak dari menjelang sore untuk memastikan semua terkoordinasi dengan baik hingga akhir.

“Kira-kira ada 12-an orang untuk menyiapkan takjil. Dan untuk perkumpulannya sekitar jam 4 sampai setengah 5. Nanti kumpul di masjid setelah itu dibagi tugas, ada yang di masjid dan ada yang mengambil takjil ke orang yang bersedekah,” terang Rama selaku ketua panitia Ramadan Masjid Margo Yuwono.

Sistem ini dibentuk sedemikian rupa dengan harapan alur penyaluran takjil dapat berjalan dengan efektif. Takjil yang sebelumnya telah dimasak dan dikemas oleh kelompok warga, kemudian dikumpulkan dan disalurkan secara terpusat oleh panitia.

Antara Cuaca dan Konsistensi Pelayanan

Meskipun sejauh ini tradisi takjil bergilir hampir selalu berjalan lancar, namun ada kalanya tantangan tetap hadir. Tantangan mungkin bukan berasal dari faktor internal panitia. Akan tetapi faktor cuaca menjadi salah satu hal yang cukup berpengaruh dalam proses pembagian takjil.

Ketika hujan tiba, proses pengambilan takjil menjadi terkendala dikarenakan sebagian prosesi pengambilan menggunakan kendaraan roda dua . Takjil beresiko basah di perjalanan, selain itu jumlah jamaah yang datang ke masjid biasanya  menjadi menurun.

Kendati demikian, kondisi tersebut tidak sampai mengganggu keseluruhan sistem yang telah dibangun. Distribusi takjil tetap berjalan, dan kebutuhan jamaah tetap diupayakan terpenuhi dengan baik.

Makna Yang Lebih Luas Dari Seporsi Takjil

Di serambi Masjid Margo Yuwono, takjil mungkin hanya terlihat sebagai sekotak makanan penawar lapar. Namun bagi warga, takjil adalah simbol gotong royong penyambung ukhuwah. Ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang dicurahkan, atau bahkan ada bait – bait doa yang diselipkan dalam setiap sajiannya.

Bagi lima kepala keluarga yang mendapat giliran setiap harinya, jadwal itu bukanlah suatu beban, melainkan sebuah peluang amal yang amat berharga. Nama mereka tercatat rapi dalam daftar yang telah disusun sejak sebelum Ramadhan. Sistem bergilir itu membuat semua memiliki kesempatan yang sama untuk berbagi. Tidak ada yang merasa paling besar jasanya, tidak pula ada yang merasa tersisihkan.

Disisi lain, para remaja masjid mendapatkan pembelajaran tak tertulis tentang tanggung jawab dan kebersamaan. Dari mengkoordinir alur, menjemput takjil dari shohibul takjil, hingga memastikan tidak ada jamaah yang terlewat. 

Di tengah dunia yang kian individualistis, budaya takjil bergilir di Masjid Margo Yuwono seakan menjadi pengingat bahwa kebahagiaan seringkali lahir dari hal-hal sederhana. Selayaknya pada tiap seporsi makanan berbuka yang dihadirkan dengan tulus oleh jamaah Masjid Margo Yuwono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *