crossorigin="anonymous">

365 Days Running Challenge di Atas Aspal Jogja

Kalijaga.co – Ihya Mukhyidin merupakan mahasiswa aktif semester empat UIN Sunan Kalijaga yang berasal dari Purwokerto. Ihya sedang menguji batas konsistensi dirinya melalui misi berlari tanpa putus selama 365 hari pada tahun 2026. Perjalanan ini berawal dari keisengannya pada tahun 2024 setelah ia terinspirasi oleh sosok influencer, Joshua Tobing.

Awalnya Ihya hanya bermodal sepatu lari dengan harga murah dan rasa ingin tahu yang besar. Meski sempat berhenti total selama hampir satu tahun pada awal 2025, Ihya akhirnya kembali ke lintasan pada akhir tahun tersebut dengan komitmen yang jauh lebih serius.

Kegemarannya pada aktivitas fisik sebenarnya bukan hal baru, karena sudah terpupuk sejak masa pesantren melalui olahraga sepak bola. Ihya juga memiliki kebiasaan berjalan kaki menyusuri area persawahan dan pemukiman warga di sekitar rumahnya.

Pengalaman masa lalu tersebut menjadi fondasi fisik yang membantunya saat memutuskan untuk mengambil tantangan yang jauh lebih berat pada tahun 2026. Untuk memahami seberapa besar peningkatan intensitas yang dilakukan Ihya kita perlu melihat data historis aktivitas larinya secara keseluruhan sejak pertama kali ia mengenal dunia lari.

Grafik Aktivitas Lari Ihya Sepanjang Waktu

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa histori aktivitas lari Ihya mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Sepanjang tahun 2024 hingga Maret 2026 ia telah mengumpulkan total jarak tempuh sebesar 567 kilometer.

Penurunan drastis hingga menyentuh titik nol pada awal tahun 2025 menunjukkan fase stagnasi yang ia alami selama setahun penuh. Namun, grafik tersebut melonjak secara signifikan pada awal tahun 2026 hingga saat ini. Garfik menunjukkan bahwa Ihya benar-benar serius dalam menjalankan resolusi tahun barunya.

Misi berlari setahun penuh yang ia canangkan, tidak hanya untuk menantang disiplin diri tetapi juga karena terinspirasi oleh konten kreator TikTok bernama Rizky Ulath yang merupakan mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII).

Mahasiswa UII tersebut telah menjalankan tantangan serupa sejak tahun 2024. Pertemuan Ihya dengan Rizky saat itu semakin memperkuat tekad Ihya. Pada hari pertama, ia bahkan harus mulai berlari pada dini hari karena kendala hujan seharian. Tekad kuat ini terbukti mampu membantunya melewati kekhawatiran awal akan ketidaksanggupan fisik.

Memasuki bulan ketiga tahun 2026, Ihya telah berhasil menjaga catatan larinya tetap sempurna tanpa terputus satu hari pun. Detail perkembangan dari minggu ke minggu dapat dilihat pada visualisasi data berikut ini.

Data Rekor Konsistensi 73 hari tanpa putus

Hingga hari ke 73, Ihya telah menempuh total jarak sejauh 254 kilometer dengan akumulasi kenaikan elevasi mencapai 1.869 meter. Grafik mingguan menunjukkan fluktuasi jarak antara 15 hingga 35 kilometer per minggu yang mencerminkan dinamika jadwal kegiatannya sebagai mahasiswa.

Total waktu yang ia habiskan di atas aspal selama periode ini mencapai 25 jam 18 menit. Statistik ini membuktikan adanya peningkatan intensitas yang sangat besar jika dibandingkan dengan aktivitas tahun-tahun sebelumnya.

Dalam hal teknis, Ihya biasanya berlari pada pukul 05.30 pagi dengan rute yang fleksibel. Saat masih tinggal di daerah Sapen, ia sering menggunakan rute UIN menuju Lempuyangan sejauh 4 kilometer.

Setelah pindah ke daerah Condong Catur, ia lebih sering memanfaatkan jalur Ring Road dengan jarak rute sekitar 3 kilometer per sesi. Selama bulan Ramadhan ia menggeser waktu larinya ke malam hari agar tidak mengganggu ibadah dan jadwal kuliah.

Meski rata rata jarak hariannya berada di angka 5 kilometer, belakangan ini ia menyesuaikan jarak antara 1 hingga 3 kilometer saja demi memastikan kewajiban harian tetap terpenuhi di tengah kesibukan yang padat.

Hambatan utama dalam tantangan ini menurut Ihya adalah rasa bosan dan munculnya rasa malas karena melakukan rutinitas yang sama setiap hari.

“Tantangan terbesar adalah rasa malas itu sendiri karena mengerjakan kegiatan yang sama pada setiap hari cukup membosankan. Rasa malas, bosan, dan membagi waktu,” jelas Ihya mengenai kendala yang ia hadapi.

 Untuk menjaga akuntabilitas ia memanfaatkan fitur instagram story sebagai instrumen pencatatan publik. Ihya memastikan setiap sesi lari terdokumentasi dalam sorotan profilnya agar rantai konsistensinya tidak terputus.

Kedisiplinan ini tetap ia pegang teguh bahkan saat kondisi fisik sedang menurun seperti saat mengalami demam. Ia tetap memaksakan diri berlari tengah malam setelah seharian penuh terjebak dalam jadwal kuliah dan organisasi demi menjaga integritas tantangannya.

Secara psikologis, Ihya merasakan bahwa lari berfungsi sebagai mekanisme untuk menghasilkan dopamin alami dan mengelola stres. Bagi dirinya lari adalah cara untuk mengembalikan suasana hati dan menjadi ruang untuk sembuh dari pengalaman personal di masa lalu. Ihya menegaskan perbedaan motivasinya saat ini dengan masa lalu secara terbuka.

“Saya juga awalnya menyukai lari yang sekarang beda dengan suka yang dulu. Kalau yang dulu hanya sekadar ingin sehat tapi kalau yang sekarang berlari untuk sembuh,” ungkap Ihya.

Jika target 365 hari tercapai, Ihya berniat menjadikan pencapaian tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap perubahan karakternya. Ia merasa dirinya yang sekarang sudah jauh lebih mampu melawan rasa malas dibandingkan masa lalu.

Ihya berencana untuk tidak berhenti setelah tahun 2026 berakhir. Ia ingin menerapkan jadwal latihan yang lebih terstruktur di masa depan. Baginya, konsistensi ini adalah kontribusi kecil untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih atletis melalui keteladanan nyata di atas panasnya aspal Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *