Kalijaga.co – Di sela riuhnya lorong kampus dan tumpukan tugas kuliah, Fatimah Zahra atau yang lebih akrab disapa Timeh memilih untuk tidak membiarkan jemarinya diam. Menjadi mahasiswa semester dua di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga adalah tentang membagi waktu. Di tengah padatnya aktivitas akademik dan kesibukannya mengikuti berbagai organisasi seperti KPI Suka Podcast, Suka TV, hingga KMNU, ia berhasil membuktikan bahwa suatu kreativitas yang diasah bisa bertransformasi menjadi pundi-pundi rupiah yang bermakna.
Ketertarikan Timeh pada dunia kerajinan tangan bukan hobi yang tumbuh semalam. Benih-benih ketertarikan itu sudah terpupuk sejak ia masih bersekolah di salah satu pesantren. Kala itu, ia bergabung ke satu organisasi di bagian kesenian. Dari situlah ia mulai belajar banyak hal, mulai dari menyulam hingga membuat karpet dari bungkus kopi. Namun, kecintaannya yang mendalam pada bunga dan buketlah yang akhirnya menuntun Timeh pada bisnis yang ditekuninya saat ini yakni buket kawat bulu.
Lama tersembunyi sebagai hobi personal, keberanian untuk memamerkan karyanya ke dunia luar baru tumbuh beberapa bulan lalu. Terdapat satu momen saat buket miliknya pertama kali dipesan. Pemesannya bukan orang asing, melainkan sepupunya sendiri. Sesaat sebelum Timeh resmi mengenakan jaket almamater kuliah, sebuah buket wisuda dipesan.
“Lucu aja, kenapa bisa pesen buket aku?” kenang Timeh, menyunggingkan senyum.
Dibuatlah buket wisuda untuk sepupunya itu. Saat itu, Timeh belum memiliki niat serius untuk bisnis buket bunganya. Ia pun memberi harga hanya sekadarnya dengan “mengira-ngira” dari harga bahan yang ia beli.
“Awalnya itu dulu karena suka dikasih buket sama pacarku. Tapi karena sekarang sudah ga ada pacar dan aku itu tetap suka buket sama bunga, akhirnya mikir kenapa enggak buat sendiri saja,” katanya sembari tersenyum.
Adapun cerita lain ketika Timeh mendapat banyak buket dari teman-temannya saat momen wisuda. Ia iseng untuk merangkai kembali bunga-bunga palsu dari buket yang didapat menjadi buket baru.
Keisengan itu bertransformasi menjadi sebuah langkah nekat yang serius menjelang hari valentine pada Februari lalu. Berangkat dari love language-nya yang memang gemar memberi hadiah (giving gift), Timeh mulai mempromosikan buket buatannya.
“Sebenernya udah bikin dari lama, cuma nekat promosiinnya baru deket-deket valentine,” tambahnya.
Nyatanya keputusan Timeh bukan langkah yang salah. Siapa sangka, ia mendapat respons yang sangat positif.
Dalam membuat buket, Timeh banyak mengikuti keinginan pelanggan. Inspirasi desainnya sering datang dari cerita sederhana seperti teman yang ingin memberi hadiah wisuda, hadiah ulang tahun, atau sekadar tanda perhatian di momen tertentu. Mayoritas desain dibuat berdasarkan request pelanggan.
Tidak ada pola baku dalam proses kreatifnya. Kadang desain lahir dari tren yang sedang ramai, kadang dari warna favorit pelanggan, dan tidak jarang muncul dari ide spontan saat proses pengerjaan berlangsung.
Bagi Timeh, kreativitas adalah modal utama dalam bisnis kecil yang ia jalankan.
“Harus up to date sama tren, lihat kebutuhan pasar, ngerti maunya customer,” jelasnya.
Menurutnya, kreativitas bukan sesuatu yang selesai dipelajari sekali lalu berhenti. Justru dari mengikuti tren, membaca selera pasar, dan menerima berbagai permintaan pelanggan, akan muncul ide-ide baru yang terus berkembang.
Proses pembuatan satu buket sebenarnya tidak memakan waktu terlalu lama. Dalam kondisi senggang tanpa agenda lain, satu buket bisa selesai dalam sehari. Biasanya, ia membuka pre-order ketika sedang punya waktu luang.
Ajaibnya, proses yang menuntut ketelitian ini tidak pernah ia anggap sebagai beban yang melelahkan di tengah statusnya sebagai mahasiswa. Membuat buket justru menjadi ruang jeda yang ia nikmati di tengah rutinitasnya sebagai seorang mahasiswa.
“Sambil nonton film atau dengerin musik aja” ucapnya ringan.
Meski terlihat sederhana, membuat buket kawat bulu punya tantangannya sendiri. Salah satu tantangan terbesar justru datang dari bahan dasar utama yakni kawat bulu premium. Tidak semua toko menyediakan jenis bahan yang ia inginkan. Biasanya ia memilih menggunakan kawat bulu premium karena kualitasnya yang lebih baik dan hasilnya yang lebih rapi. Masalahnya, bahan tersebut sulit ditemukan di toko offline sehingga ia harus memesannya secara online. Konsekuensinya, jika ada pesanan mendadak atau tenggat waktu terlalu mepet, pilihan bahannya menjadi terbatas.
“Kalau mepet ya kadang pakai yang biasa atau yang ada dulu,” katanya sambil tertawa.
Walau begitu, ia tetap berusaha menjaga kualitas hasil karyanya. Adapun, tantangan lain yang ikut datang ketika buket buatannya mulai berjalan lebih jauh dari lingkaran pertemanan.
“Ada yang bilang, ‘ih kok jualan sih’,” ceritanya.
Namun, ia memilih untuk tidak terlalu memikirkan komentar semacam itu. Sebaliknya, ia lebih banyak menerima masukan soal desain, kualitas, atau pengembangan produk dari teman-teman sekitarnya. Sebagai anak pertama, Timeh memendam motivasi yang kuat di dalam dadanya.
“Aku harus bisa bantu kedua orang tua,” ungkapnya.
Dorongan itulah yang membuat kebanggaannya membuncah ketika pesanan besar pertamanya senilai 80 hingga 100 ribu rupiah berhasil diselesaikan. Timeh memegang teguh tradisi keluarga bahwa gaji pertama harus dipersembahkan kepada orang tua. Ia yang merasa uang tunai hasil pertamanya belum seberapa, memilih untuk membelikan sebuah barang berupa hijab sebagai hadiah untuk sang ibu.
Sebagai mahasiswa KPI, Timeh merasa apa yang ia pelajari di kelas cukup membantu perjalanan usaha kecilnya. Kemampuan membuat desain pamflet, mengolah media, memahami strategi komunikasi, hingga membangun ketertarikan audiens ternyata berguna untuk mempromosikan produknya. Tidak heran jika ia memilih memulai promosi di waktu yang menurutnya strategis yaitu valentine.
“Momen itu pas, jadi sekalian coba promosi dengan harga yang lebih miring,” jelasnya.
Menurutnya, mahasiswa KPI punya peluang besar untuk berkembang di dunia bisnis kreatif. Dunia perkuliahan mereka sangat dekat dengan kreativitas, media, komunikasi, dan cara menyampaikan pesan kepada publik.
Bisnis Timeh masih berskala rumahan. Pengirimannya sempat rumit karena belum memiliki toko online resmi. Hal tersebut membuat ia sempat kerepotan saat mengirim pesanan ke Bekasi dan Jakarta. Namun, dibalik itu Timeh sudah memiliki target jangka pendek. Ia berencana mengembangkan usahanya secara legal dengan mengurus NPWP dan membuka online shop resmi.
Bagi Timeh sendiri, perjalanan membuat buket memberinya satu pelajaran penting yaitu kreativitas tidak selalu datang dari bakat besar atau rencana matang. Semuanya dimulai dari mencoba. Dari rasa suka yang sederhana. Dari keisengan kecil yang ternyata disukai orang lain.
Karena itu, ia punya pesan untuk mahasiswa yang merasa dirinya tidak kreatif.
“Coba semua hal, Aku juga awalnya nggak ada niat sama sekali. Berawal dari iseng, ternyata orang suka.” ungkapnya.
Menurut Timeh, kreativitas bisa lahir dari kombinasi antara minat, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus mengembangkan diri. Ada orang yang punya bakat tetapi tidak diasah. Ada juga yang awalnya biasa saja, namun tumbuh karena terus belajar. Itulah menariknya sebuah kreativitas, ia tidak selalu datang dengan rencana besar. Terkadang, ia muncul diam-diam dari meja kecil, segulung kawat bulu, dan seseorang yang awalnya hanya iseng membuat buket.
Penulis: Candra Rohadatul Aisy | Editor: Nayla Nur Hidayah