crossorigin="anonymous">

Profesi Pengasuhan Anak: Saat Gender Tak Lagi Jadi Batasan

Kalijaga.co – Di sebuah ruangan sederhana Panti Asuhan Khodijah Sinar Melati, anak-anak duduk bersila di lantai. Suara mereka riuh, bercampur antara tawa kecil dan obrolan polos khas dunia kanak-kanak. Ada yang bermain clay, berkreasi membuat berbagai bentuk dari bahan itu. Ada pula yang berlarian kecil sambil membawa mainan seadanya. Di tengah keramaian itu, berdiri seorang bapak pengasuh. Sosoknya tenang, penuh kesabaran, dan selalu siap menenangkan anak-anak yang gelisah.

Pemandangan ini terasa berbeda. Selama ini, pengasuhan anak sering kali dilekatkan pada perempuan. Kata “ibu” begitu erat dengan kata “asuh.” Namun, di panti ini, seorang bapak membuktikan bahwa kasih sayang tidak pernah punya jenis kelamin.

Ia hadir, mendampingi, dan memberi rasa aman bagi anak-anak yang tumbuh tanpa orang tua. Figur ayah yang biasanya hanya hadir di rumah kini menjadi sosok utama di ruang pengasuhan.

Kunjungan mahasiswa dan mahasiswi UIN Sunan Kalijaga ke panti tersebut menjadi saksi nyata. Mereka datang bukan sekadar membawa bingkisan, tapi juga membawa perhatian. Duduk bersama anak-anak, bercengkerama, dan menyaksikan bagaimana sosok bapak pengasuh yang dikenal dengan nama Pak Wiyono menjadi figur penting dalam kehidupan sehari-hari mereka.

“Anak-anak tidak pernah bertanya siapa yang mengasuh. Mereka hanya merasakan siapa yang benar-benar hadir,” ucap Dewa, salah satu mahasiswa yang ikut berkunjung. Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa pengasuhan bukan soal gender, melainkan soal kehadiran dan ketulusan.

Di balik senyum anak-anak, ada cerita perjuangan. Sang bapak pengasuh sering menghadapi pandangan miring dari masyarakat. Ada yang menganggap pilihan hidupnya “tidak biasa.” Ada pula yang menilai bahwa pekerjaan ini “kurang bergengsi” untuk laki-laki.

Namun di ruang panti asuhan, stigma itu runtuh. Anak-anak tidak peduli dengan stereotip. Mereka hanya peduli dengan siapa yang mau mendengarkan, siapa yang mau menemani mereka belajar, bermain, dan bermimpi.

Mahasiswa dan mahasiswi yang hadir hari itu belajar sesuatu yang berharga. Mereka melihat langsung bagaimana anak-anak begitu percaya pada sosok bapak pengasuh. Ada anak yang dengan polos berkata, “Pak Wiyono suka ngajarin aku doa sebelum tidur.”

Ada pula yang bercerita bahwa Pak Wiyono, sering menemani mereka saat takut gelap. Cerita-cerita kecil itu menunjukkan bahwa pengasuhan bukan sekadar rutinitas, melainkan ikatan emosional yang mendalam.

Suasana panti hari itu begitu hangat. Anak-anak menyambut kedatangan mahasiswa dengan senyum lebar. Ada yang langsung menggandeng tangan, ada yang malu-malu mendekat. Mahasiswa pun larut dalam kebersamaan. Mereka bermain ular tangga, bernyanyi bersama, hingga membantu anak-anak merapikan buku pelajaran. Semua aktivitas sederhana itu terasa penuh makna.

Pak Wiyono sesekali tersenyum melihat interaksi tersebut. “Saya senang kalau ada mahasiswa datang. Anak-anak jadi merasa punya banyak teman. Mereka belajar bahwa dunia luar peduli pada mereka,” katanya dengan suara pelan.

Kata-kata itu membuat mahasiswa terdiam sejenak. Mereka menyadari bahwa kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan singkat, melainkan bagian dari proses membangun rasa percaya diri anak-anak. Setiap pelukan, setiap tawa, dan setiap obrolan kecil bisa menjadi bekal berharga bagi masa depan mereka.

Seorang mahasiswi bernama Salwa menuturkan, “Saya jadi sadar, selama ini kita terlalu sering menganggap pengasuhan hanya tugas ibu. Padahal, anak-anak juga butuh figur ayah, butuh laki-laki yang hadir dalam proses tumbuh kembang mereka.”

Di balik cerita itu, ada pula refleksi dari Dzaky, seorang mahasiswa yang juga berkunjung. “Saya merasa terinspirasi. Melihat bapak pengasuh di sini membuat saya berpikir bahwa laki-laki juga bisa memilih jalan pengasuhan. Tidak ada yang salah dengan itu. Justru, anak-anak butuh keseimbangan figur ayah dan ibu dalam hidup mereka.”

Detail suasana ruangan semakin memperkuat kesan. Dinding panti yang sederhana, kipas angin tua yang berputar pelan, dan tikar yang digelar di lantai menjadi saksi interaksi penuh kehangatan. Anak-anak duduk berdekatan dengan mahasiswa, beberapa di antaranya tampak nyaman bersandar di bahu kakak mahasiswa yang mereka baru kenal.

Di Panti Asuhan Khodijah Sinar Melati, anak-anak terus tertawa. Mereka tidak melihat “laki-laki” atau “perempuan.” Mereka hanya melihat seorang pengasuh yang hadir, mendengar, dan mendampingi. Dari tawa kecil itu, lahirlah harapan: bahwa profesi pengasuhan anak kini benar-benar saatnya dilihat sebagai ruang inklusif, tempat di mana gender tak lagi jadi batasan.

Kunjungan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga hari itu ditutup dengan doa bersama. Anak-anak duduk rapi, sementara bapak pengasuh memimpin lantunan doa dengan suara lembut. Mahasiswa dan mahasiswi ikut mengamini, merasakan kehangatan yang jarang mereka temui di ruang kelas. Ada rasa syukur, haru, dan pembelajaran yang mereka bawa pulang. Mereka menyadari bahwa pengasuhan adalah bahasa universal, yang hanya bisa dimengerti oleh hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *