crossorigin="anonymous">

Menanam Pohon Di Hari Bumi: Mengapa Sulit Menjadi Gerakan Berkelanjutan?

Kalijaga.co – Setiap tanggal 22 April, peringatan Hari Bumi selalu membawa suasana yang hampir sama. Media sosial dipenuhi dokumentasi penanaman pohon, orang tersenyum memegang bibit, lalu menanamnya bersama-sama. Kegiatan ini terlihat sederhana, penuh harapan, dan sering dianggap sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan. Namun di balik itu, apakah gerakan ini sulit menjadi berkelanjutan?

Menanam pohon memang merupakan langkah yang tepat. Secara ilmiah, pohon berperan penting dalam menyerap karbon dioksida, menjaga kualitas udara, serta membantu menstabilkan kondisi lingkungan. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bahkan menegaskan bahwa hutan memiliki peran besar dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan emisi karbon.

Tidak hanya itu, pohon juga berfungsi menjaga siklus air, mencegah erosi tanah, serta menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati. Manfaat-manfaat ini menjadikan pohon sebagai salah satu solusi alami yang paling efektif dalam menghadapi krisis iklim global.

Namun, keberlanjutan sebuah gerakan tidak ditentukan oleh seberapa sering ia dilakukan, melainkan oleh seberapa lama dampaknya bertahan. Di sinilah persoalan mulai terlihat. Banyak kegiatan penanaman pohon dilakukan secara massal, tetapi berhenti pada momen itu saja. Setelah acara selesai, perhatian terhadap pohon yang telah ditanam perlahan menghilang.

Akibatnya, tidak sedikit pohon yang mati sebelum sempat tumbuh. Tanpa perawatan yang memadai, penanaman pohon hanya menjadi aktivitas sesaat yang tidak memberikan dampak jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan terletak pada kurangnya aksi, tetapi pada kurangnya keberlanjutan.

Kondisi ini semakin kontras jika melihat fakta bahwa Indonesia masih memiliki sekitar 12,7 juta hektare lahan kritis yang membutuhkan rehabilitasi, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Artinya, kebutuhan akan pohon yang benar-benar tumbuh jauh lebih besar daripada sekadar jumlah bibit yang ditanam setiap tahun. Jika sebagian besar pohon yang ditanam tidak bertahan, maka gerakan ini kehilangan efektivitasnya.

Lalu persoalan yang dapat dipertanyakan adalah: mengapa keberlanjutan ini sulit dicapai?

Salah satu penyebab utamanya adalah pendekatan yang masih berfokus pada seremoni (perayaan), bukan pada proses jangka panjang. Penanaman pohon sering kali dijadikan bagian dari acara tertentu, tanpa disertai rencana perawatan yang jelas. Padahal, pohon membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan memberikan manfaat nyata.

Selain itu, pemilihan jenis pohon yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan juga menjadi faktor penghambat. Tanpa mempertimbangkan karakteristik tanah dan iklim, peluang pohon untuk bertahan hidup menjadi lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya bergantung pada niat, tetapi juga pada perencanaan yang matang. Idealnya, setiap kegiatan penanaman didahului dengan kajian ekologis sederhana untuk menentukan jenis pohon yang paling sesuai dengan kondisi lokasi.

Kurangnya keterlibatan masyarakat juga memperparah situasi. Ketika masyarakat sekitar tidak merasa memiliki, tidak ada pihak yang secara konsisten merawat pohon tersebut. Akibatnya, gerakan yang awalnya terlihat besar justru kehilangan dampaknya dalam jangka panjang. Rasa kepemilikan ini hanya bisa tumbuh jika masyarakat dilibatkan sejak awal, mulai dari pemilihan lokasi, jenis pohon, hingga proses perawatan rutin setelahnya.

Di sisi lain, upaya penanaman pohon sering kali tidak berjalan seiring dengan maraknya deforestasi. Pohon ditanam di satu tempat, tetapi ditebang di tempat lain. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), deforestasi global masih menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Kondisi ini menciptakan paradoks: semangat menanam terus digaungkan, sementara tekanan terhadap hutan yang ada belum sepenuhnya diatasi.

Semua ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar dari gerakan penanaman pohon bukan pada pelaksanaannya, tetapi pada keberlanjutannya. Tanpa perubahan cara pandang, kegiatan ini akan terus berulang setiap tahun tanpa menghasilkan perubahan yang signifikan.

Peringatan Hari Bumi seharusnya menjadi momen untuk mengevaluasi hal tersebut. Bukan hanya tentang berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi tentang berapa banyak yang berhasil tumbuh dan bertahan. Keberlanjutan seharusnya menjadi ukuran utama keberhasilan, bukan sekadar partisipasi dalam sebuah kegiatan.

Menanam pohon tetap merupakan langkah awal yang penting. Namun, langkah tersebut harus diikuti dengan komitmen jangka panjang, mulai dari perawatan, pemantauan, hingga perlindungan terhadap lingkungan secara keseluruhan. Tanpa itu, penanaman pohon hanya akan menjadi simbol kepedulian yang tidak pernah benar-benar terwujud.

Kesadaran ini seharusnya menjadi titik balik dalam memaknai setiap aksi lingkungan, terutama dalam momentum Hari Bumi. Gerakan menanam pohon perlu bertransformasi dari sekadar kegiatan simbolik menjadi bagian dari sistem yang terencana dan berkelanjutan. Artinya, setiap penanaman harus diiringi dengan komitmen untuk merawat, memantau, dan memastikan pertumbuhannya dalam jangka panjang.

Selain itu, keterlibatan banyak pihak juga menjadi kunci. Pemerintah, komunitas, hingga individu perlu berjalan bersama, bukan hanya dalam aksi awal, tetapi dalam proses yang berkelanjutan. Edukasi lingkungan juga perlu diperkuat agar masyarakat tidak hanya terlibat secara fisik, tetapi juga memahami pentingnya menjaga ekosistem secara menyeluruh.

Jika tidak ada perubahan cara pandang, gerakan ini berisiko terus terjebak dalam pola yang sama  diulang setiap tahun, tetapi minim dampak nyata. Sebaliknya, jika keberlanjutan benar-benar dijadikan fokus utama, maka setiap pohon yang ditanam memiliki peluang untuk menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar simbol kepedulian.

Masa depan lingkungan tidak ditentukan oleh seberapa banyak aksi yang terlihat, tetapi oleh seberapa konsisten kita menjaga apa yang sudah dimulai. Karena dari satu pohon yang benar-benar tumbuh, bisa lahir harapan yang lebih besar bagi keberlangsungan Bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *