Kalijaga.co – Lebaran identik dengan tradisi mudik dan berkumpul bersama keluarga. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan tersebut, termasuk mahasiswa perantauan yang harus tetap tinggal di kota tempat mereka menempuh pendidikan.
Fenomena ini kembali terlihat pada perayaan Idulfitri tahun ini. Sejumlah mahasiswa yang tidak pulang kampung memilih merayakan Lebaran secara sederhana di lingkungan kos. Keterbatasan untuk mudik, baik karena alasan finansial maupun kesibukan akademik, membuat mereka mencari cara lain untuk tetap merasakan suasana hari raya.
Meski jauh dari keluarga, suasana Lebaran tidak sepenuhnya hilang. Kehangatan justru muncul dari interaksi antar penghuni kos. Mahasiswa yang telah kembali dari kampung halaman membawa berbagai oleh-oleh khas daerah masing-masing, mulai dari kue kering seperti nastar dan kastengel, hingga makanan berat seperti rendang dan opor ayam.
Oleh-oleh tersebut kemudian dibagikan kepada teman-teman yang tidak mudik. Tradisi berbagi ini secara tidak langsung menciptakan suasana kebersamaan yang menyerupai perayaan Lebaran di rumah. Ruang bersama di kos pun berubah menjadi tempat berkumpul, makan bersama, sekaligus berbagi cerita tentang pengalaman mudik.
Pengamat sosial menyebut, kondisi ini menunjukkan adanya adaptasi sosial di kalangan mahasiswa perantauan. Keterbatasan tidak lagi menjadi penghalang untuk merayakan momen penting, melainkan mendorong terciptanya bentuk kebersamaan baru di lingkungan pertemanan.
Selain itu, kebiasaan saling berbagi makanan juga memperkuat solidaritas antar mahasiswa. Mereka yang tidak mudik tetap dapat merasakan sebagian kecil tradisi Lebaran melalui hidangan khas dari berbagai daerah yang dibawa oleh teman-temannya.
Meskipun tidak sepenuhnya menggantikan kehadiran keluarga, momen ini menjadi cara alternatif untuk menjaga semangat kebersamaan di hari raya. Lebaran, dalam konteks ini, tidak hanya dimaknai sebagai perayaan di kampung halaman, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan sosial di perantauan.
Dengan cara sederhana tersebut, mahasiswa perantauan tetap dapat merasakan kehangatan Idulfitri, meski dirayakan jauh dari rumah.
Penulis Dzaky Armian