Ibarbo Park & Kekuatan Instagram: Ketika Feeds menjadi Tiket Masuk Wisata

Kalijaga.co– Dalam beberapa waktu terakhir, rujukan pariwisata Indonesia mengalami pergeseran teknik promosi yang signifikan. Jika dahulu wisatawan menentukan tujuan berdasarkan brosur agen perjalanan atau rekomendasi mulut ke mulut, kini keputusan itu diambil dalam hitungan detik melalui usapan jari di layar kaca. “Feeds” Instagram; ia telah bertransformasi menjadi etalase, peta, sekaligus tiket masuk destinasi wisata modern.

Fenomena ini terekam dengan sangat jernih dalam operasional Ibarbo Park, sebuah destinasi wisata di Yogyakarta yang tengah naik daun. Di balik banyak dan menariknya  kemegahan visualnya, tersimpan sebuah strategi komunikasi yang bekerja sangat presisi. Ibarbo Park tampaknya menyadari satu hal krusial: di era attention economy, siapa yang mampu menguasai layar ponsel, dialah yang akan memenangkan kunjungan wisata.

Salah satu kesalahan terbesar pengelolahan wisata konvensional adalah jarak. Mereka sering kali bersembunyi di balik logo perusahaan yang kaku, admin media sosial yang pasif, dan bahasa humas yang formal. Ibarbo Park mendobrak pakem tersebut dengan strategi yang berbuah manis: memunculkan sosok pemilik (owner) di garda terdepan.

Sosok sentral di balik Ibarbo Park (owner), memilih jalan yang jarang ditempuh pengusaha lain. Ia tidak duduk diam di balik meja manajemen, melainkan terjun langsung menjadi wajah dari brand yang ia bangun. Fokusnya jelas: sosial media Ibarbo harus memiliki nyawa.

Dalam sesi wawancara mendalam di sela-sela kesibukannya memantau area wisata, owner membeberkan filosofi di balik keputusannya untuk sering muncul in-frame dalam konten-konten media sosial Ibarbo.

“Di era sekarang, orang tidak percaya pada logo, mereka percaya pada manusia. Kenapa owner harus masuk in-frame dan ikut mengolah konten? Jawabannya sederhana: untuk memangkas jarak dengan pengunjung” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa strategi ini bukan soal narsisistik, melainkan psikologi komunikasi. “Ketika ada pertanyaan di kolom komentar, dan saya sebagai owner yang membalasnya langsung—bahkan seringkali menggunakan fitur balasan video (video reply)—itu menciptakan dialog yang otentik. Akhirnya, pengunjung merasa dekat dengan kami, dan sebaliknya, kami pun merasa memiliki ikatan emosional dengan mereka,” tambahnya.

Strategi “jemput bola” melalui interaksi video personal ini terbukti ampuh menciptakan loyalitas. Netizen tidak merasa sedang berbicara dengan bot penjawab otomatis, melainkan dengan seorang teman.

Visual sebagai Mata Uang Baru

Ibarbo Park memahami betul bahwa bagi Generasi Z dan Milenial, pengalaman wisata belum sah jika belum terunggah di Instagram Story. Oleh karena itu, setiap sudut taman dirancang dengan kesadaran penuh akan estetika kamera. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka mengemas paket edukasi.

Alih-alih sekadar menawarkan paket study tour biasa, Ibarbo menyuntikkan elemen gaya hidup ke dalamnya. Ada kelas pembuatan bakpia (Bapia Class) yang dirancang khusus lengkap dengan modulnya. Namun, tujuannya bukan sekadar pandai memasak.

“Kelas Bapia untuk anak study tour ini kami desain agar membentuk citra baik dan ‘kece’ di sosmed mereka. Ini eksklusif, tidak untuk umum, dan perlu booking khusus sebagai persiapan,” jelas owner Ibarbo.

Dampaknya sangat nyata di lapangan.

Rombongan siswa dari MAN 1 Gresik adalah bukti nyata kekuatan visual ini. Mereka tidak datang karena brosur kertas, melainkan karena paparan visual digital.

Jehia, salah satu siswi dari rombongan tersebut, mengaku terkesima dengan konsep visual yang ditawarkan. “Awalnya tau tempat ini dari pihak sekolah, lalu saya kepoin instagramnya, kok ada tempat wisata kayak ‘Kota Kartun’. Pas sampai sini, ternyata spot-nya memang estetik banget. Jadi lebih luwes eksplore nya,” ujarnya riang.

Investasi Citra: Berani Boncos demi Eksposur

Totalitas Ibarbo dalam membangun branding juga terlihat dari keberanian mereka mengambil langkah yang tidak populer secara hitungan ekonomi jangka pendek. Salah satu contoh paling ekstrem adalah penyelenggaraan lomba drone yang melibatkan 90 drone yang diterbangkan secara bersamaan.

Secara logika bisnis konvensional, acara semewah itu harusnya membebankan tiket masuk atau biaya pendaftaran yang tinggi untuk menutup modal. Namun, Ibarbo memilih jalan lain.

“Kami tidak mengambil tarif seperti perusahaan lain untuk acara drone ini. Kenapa? Karena kami yakin perusahaan pasti untung dari sisi lain, yakni awareness. Video dari 90 drone itu akan menyebar, menjadi viral, dan itu adalah iklan gratis yang nilainya jauh lebih besar daripada uang pendaftaran,” ungkap owner.

Ini adalah strategi “bakar uang” yang cerdas; menukar pendapatan jangka pendek dengan dominasi visual di jagat maya.

Transparansi: Mengubah Komplain Menjadi Aset

Tidak ada gading yang tak retak, begitu pula dalam operasional tempat wisata. Fasilitas rusak atau layanan yang kurang memuaskan adalah keniscayaan. Namun, cara Ibarbo merespons kritiklah yang membedakan mereka.

Manajemen tidak alergi kritik. Sebaliknya, mereka menjadikan kolom komentar sebagai ruang audit publik. Konsep interaksi konten mereka mencakup penerimaan saran secara terbuka.

“Jika ada netizen lapor fasilitas rusak, kami tidak hapus komentarnya. Justru akan kami reply dengan konten video yang menampilkan owner atau tim, mengabari bahwa kerusakan itu sedang atau sudah diperbaiki,” jelas owner.

Pendekatan transparansi ini membuat netizen merasa “didengar” dan “diperhatikan”. Ketika pengunjung merasa suara mereka berdampak pada perubahan, rasa memiliki akan tumbuh. Hasilnya? Mereka tidak kapok, justru akan senang hati datang kembali untuk melihat perbaikan yang mereka sarankan.

Sebuah Pesan untuk Para Kreator

Apa yang dilakukan Ibarbo Park adalah studi kasus menarik tentang bagaimana pariwisata modern bekerja. Ini bukan lagi sekadar tentang menjual tiket, tetapi menjual narasi dan pengalaman visual.

Menutup perbincangan, owner memberikan pesan singkat yang merangkum seluruh strategi bisnisnya. Sebuah pesan yang relevan bagi siapa saja yang ingin bertahan di era digital.

“Sosmed itu bukan cuma buat scroll saja. Mulai buat, mulai branding, dan eksekusi,” ujarnya tegas.

Pada akhirnya, Ibarbo Park membuktikan tesis baru dalam dunia pariwisata: Bangunan fisik memang penting, namun arsitektur digital di media sosial lah yang kini menjadi fondasi utamanya. Di tangan strategi yang tepat, sebuah postingan Instagram memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat daripada ribuan lembar pamflet yang dibagikan di pinggir jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *