Kalijaga.co – Buka bersama (bukber) merupakan rutinitas yang hadir silih berganti selama bulan Ramadan. Mulai dari kelas, organisasi, hingga lingkar alumni. Dalam satu bulan, seseorang dapat mengikuti lebih dari lima buka bersama yang serupa—berbuka di tempat berbeda, dengan obrolan yang nyaris sama. Kalender yang semestinya diisi dengan ibadah justru dipadati dengan agenda sosial yang berulang.
Fenomena ini menjadikan bukber seakan hanya sebatas ritual musiman yang nyaris wajib diikuti. Ketidakhadiran dalam satu undangan saja dapat menimbulkan rasa segan, terlebih jika undangan tersebut datang dari teman dekat. Pada akhirnya, esensi bukber untuk mempererat silaturahmi tak lagi begitu kental, melainkan mulai tercampur dengan tekanan sosial, sikap konsumtif, serta potensi menurunnya kualitas ibadah.
Jika ditarik ke belakang, awal mula buka bersama sejatinya memiliki makna sederhana, yakni mempererat silaturahmi. Namun, realitas yang terjadi hari ini menunjukkan adanya pergeseran. Bukber tak lagi sekadar tentang berkumpul, tetapi juga tentang bagaimana momen itu dikemas dan kerap kali dipertontonkan.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, terlihat bahwa makna bukber kini tidak lagi seutuh dahulu. Rahman Maulana Amrullah (18), yang kerap disapa Alan selaku narasumber, mengakui bahwa ia menerima banyak undangan, namun hanya mengikuti beberapa saja. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas bukber yang tinggi justru membuat seseorang harus melakukan seleksi, bukan karena tidak ingin bersilaturahmi, tetapi karena keterbatasan waktu, energi, dan biaya.
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh kecenderungan lokasi bukber yang lebih sering dilakukan di kafe atau restoran. Pada dasarnya, jika berlandaskan banyaknya peserta yang mengikuti bukber, pemilihan tempat ini tidaklah sepenuhnya keliru. Namun, sayangnya harga yang ditawarkan di lokasi-lokasi tersebut cukup tinggi untuk kantong mahasiswa. Akibatnya, tidak semua orang dapat menghadiri seluruh undangan buka bersama. Oleh karena itu, ‘seleksi’ menjadi pilihan rasional agar bulan Ramadhan tidak berubah menjadi ajang pemborosan atau sekadar mengikuti gengsi.
“Terkadang ingin memilih tempat yang lebih murah agar sesuai dengan kantong mahasiswa kebanyakan. Namun, banyak yang tidak setuju dengan berbagai alasan, bahkan tidak jarang karena gengsi atau tempatnya dinilai kurang aesthetic,” imbuh Alan terkait pemilihan lokasi ini.
Pada titik ini, bukber tidak lagi sekadar pertemuan, melainkan juga menjadi ruang negosiasi sosial tentang citra dan status. Ada dorongan untuk tampil “pantas”, baik dari segi tempat, penampilan, maupun dokumentasi. Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Momen bukber sering kali tidak berhenti di meja makan, tetapi berlanjut ke unggahan di Instagram Story, status WhatsApp, hingga konten video singkat. Seolah-olah kebersamaan terasa belum lengkap jika belum dibagikan.
Hal ini tidak selalu berarti buruk, tetapi perlahan menggeser orientasi. Bukber yang awalnya bersifat intim dan hangat dalam mempererat kebersamaan, kini kerap tercampur dengan unsur-unsur lain yang kurang esensial. Bahkan, tujuan silaturahmi itu sendiri tidak selalu tercapai. Bagaimana mungkin hal itu terwujud jika dalam satu pertemuan, seseorang justru lebih banyak berinteraksi dengan orang yang sudah sangat akrab, tanpa membuka ruang bagi yang lain? Tak jarang pula, sebagian orang justru sibuk dengan gawainya masing-masing.
“Bukber ini tidak selalu memperkuat hubungan, karena kadang yang datang hanya untuk formalitas, bukan benar-benar ingin bertemu atau berkomunikasi,” papar Alan.
Lebih jauh lagi, pergeseran ini juga berdampak pada aspek konsumsi. Sekali bukber mungkin tidak terasa memberatkan, berkisar di bawah Rp50.000, sebagaimana disampaikan narasumber. Namun, jika dilakukan berulang kali, jumlah tersebut tentu menjadi signifikan. Ramadhan yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan justru diwarnai dengan peningkatan pengeluaran.
Titik inilah ironi Ramadhan menjadi nyata. Bulan yang semestinya menjadi ruang untuk menahan diri, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari keinginan berlebihan. Justru diwarnai dengan peningkatan konsumsi, baik dalam bentuk makanan, aktivitas sosial, maupun dorongan untuk “tampil”. Bukber, dalam konteks ini, menjadi salah satu potret kecil dari kontradiksi tersebut.
Tidak hanya soal konsumsi, frekuensi bukber yang tinggi juga berpotensi mengganggu kualitas ibadah. Alan selaku narasumber mengakui bahwa ia sering merasa tarawih menjadi terabaikan karena padatnya agenda bukber yang berlangsung hingga waktu Isya. Bahkan, berdasarkan observasi penulis, dalam beberapa kasus, kegiatan bukber dapat membuat seseorang lalai terhadap kewajiban yang lebih utama, yakni salat Maghrib.
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa tidak semua aktivitas sosial di bulan Ramadhan selaras dengan nilai spiritual yang seharusnya dijaga. Bukber yang ideal seharusnya tidak mengorbankan ibadah, melainkan justru mendukungnya. Namun, ketika orientasi mulai bergeser, prioritas pun ikut berubah.
Menariknya, Alan juga menyatakan bahwa bukber tidak sepenuhnya dianggap penting.
“Sebenarnya bukber ini tidak terlalu penting banget,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi titik refleksi. Jika bukber memang dimaksudkan sebagai sarana silaturahmi yang bernilai, mengapa sebagian orang justru merasa kehadirannya tidak terlalu esensial? Jawabannya, mungkin terletak pada bagaimana bukber itu dijalankan.
Meski demikian, penting untuk tidak melihat fenomena ini secara hitam-putih. Bukber tidak sepenuhnya kehilangan maknanya. Masih ada banyak pertemuan yang benar-benar dilandasi niat untuk bersilaturahmi, berbagi cerita, dan mempererat hubungan. Narasumber sendiri mengakui bahwa selama ia mengikuti bukber, sebagian besar masih memiliki nilai silaturahmi yang cukup terasa.
Hal yang menjadi persoalan bukanlah bukber itu sendiri, melainkan bagaimana cara kita memaknainya. Ketika bukber dilakukan dengan niat yang tepat, dalam suasana yang sederhana, serta tanpa mengorbankan kewajiban, maka kegiatan tersebut tetap menjadi aktivitas yang bernilai. Sebaliknya, ketika bukber lebih didorong oleh gengsi, formalitas, atau kebutuhan untuk tampil, maka esensinya perlahan memudar.
Refleksi ini membawa kita pada satu pertanyaan sederhana: apakah kita benar-benar hadir untuk bertemu, atau hanya untuk terlihat hadir?
Barangkali, yang perlu ditahan di bulan Ramadhan bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga keinginan untuk terus terlihat lebih dari yang lain.
Penulis Zahrah Suci Al Aliyah | Editor Linda Setiyani